Penerimaan Siswa Baru Bikin Anak Stres, Ini Kata Psikolog Anak

Kompas.com - 30/06/2020, 18:54 WIB
Ilustrasi. shutterstockIlustrasi.

KOMPAS.com - Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mengatakan bahwa sejauh ini sudah ada empat laporan percobaan bunuh diri yang dilakukan anak karena tidak lolos masuk ke sekolah negeri impian dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) daring.

Tidak lolosnya anak-anak ke sekolah tujuan memiliki banyak faktor yakni nilai yang tidak cukup, rumah tinggal yang jauh dari sekolah dan aturan usia yang diterapkan oleh beberapa wilayah, salah satunya DKI Jakarta.

Karena adanya peraturan baru ini, beberapa anak merasa depresi, orangtua pun melapor ke posko yang dibuat oleh Komnas Perlindungan Anak.

Baca juga: Kenali Tanda-tanda Anak Stres

“Terinformasi ke komnas anak ketika menerima pengumuman tidak lulus, karena perbedaan usia hanya beberapa bulan, anak stres berat. Ada empat anak sudah mencoba percobaan bunuh diri dengan mengurung diri di kamar dan tidak mau berkomunikasi,” ujar Arist dalam wawancara dengan Kompas TV.

Bahkan ada seorang anak yang meninggal dunia, karena stres yang kemudian memicu sakit lambung yang telah lama dideritanya.

“Satu lagi anak usaia 14 tahun 9 bulan dia tidak lolos karena umur. Orangtua mengajak dialog kalau tidak bisa diterima di negeri, ya tidak apa-apa di swasta, tapi dia menolak. Dia memang ada penyakit lambung yang jadi pemicunya, akhirnya dia meninggal dunia,” kata Arist lagi.

Menanggapi fenomena ini, psikolog Mario Manuhutu, M. Si mengungkapkan pendapatnya.

Menurut Mario, meningkatnya tingkat stres yang dirasakan anak di masa pencarian sekolah memang wajar terjadi. Terlebih jika anak tidak diterima di skolah yang ia inginkan.

Psikolog dari Rumah Dandelion ini mengatakan bahwa perasaan itu terjadi, karena adanya rasa kecewa karena tidak bisa mendapatkan hal yang diinginkan, padahal mereka mampu.

Belum lagi harapan terlalu besar yang kadang juga menjadi tekanan untuk anak.

Untuk menghindari agar anak tidak merasakan stres berlebih, bahkan hingga ingin menyakiti diri sendiri, Mario menyarankan, orangtua sebaiknya mengajarkan dan sekaligus memberikan contoh untuk mengelola emosi.

Caranya adalah dengan membiarkan anak merasa marah, kecewa dan menangis untuk melepaskan emosi mereka, namun tetaplah dampingi.

Baca juga: Penyakit Gerd Gampang Kambuh karena Stres

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X