Merugi Karena Pandemi, Levi's akan Pangkas Jumlah Karyawan

Kompas.com - 08/07/2020, 18:54 WIB
Bruce Springsteen mengenakan celana jins Levis Bruce SpringsteenBruce Springsteen mengenakan celana jins Levis
|
Editor Wisnubrata

KOMPAS.com - Levi's, produsen denim asal AS, mengalami kerugian besar akibat pandemi corona.

Perusahaan yang berbasis di San Francisco itu berencana memangkas 700 karyawan, atau 15 persen dari seluruh jumlah karyawan mereka.

Dalam pengumuman pada hari Selasa (7/7/2020), CEO Levi's, Chip Bergh mengatakan pemangkasan akan mencakup bidang "non-eceran dan non manufaktur", serta memungkinkan perusahaan lebih responsif terhadap pasar.

Pemangkasan tersebut bersamaan dengan merosotnya penjualan karena toko ditutup sementara waktu, termasuk penurunan pendapatan bersih 62 persen dan kerugian total 364 juta dollar AS atau sekitar Rp 5,2 triliun.

"Kami memulai tahun ini dengan momentum yang kuat, tetapi pandemi global dan krisis ekonomi memiliki dampak negatif yang signifikan pada hasil kuartal kedua kami, karena toko-toko kami dan sebagian besar grosir ditutup di seluruh dunia."

Demikian kata Bergh dalam pernyataan pers, seperti dikutip dari Business Insider.

Saat sebagian besar perusahaan busana berjuang dengan menurunnya penjualan karena pandemi, Levi's  mengalami pukulan berat ketika orang mengganti celana denim mereka dengan celana olahraga yang nyaman.

Berita pemangkasan karyawan Levi's muncul hanya satu hari setelah perusahaan denim lain, Lucky Brand mengumumkan akan menutup 13 dari 200 toko usai menyatakan diri bangkrut.

" Pandemi Covid-19 sangat berdampak pada penjualan di semua lini," kata Matius A. Kaness, CEO sementara dan executive chairman Lucky Brand, dalam sebuah pernyataan pers.

"Meski kami optimis tentang pembukaan kembali toko dan kembalinya pelanggan kami, bisnis belum sepenuhnya pulih. Kami membuat banyak keputusan sulit untuk menjaga kelangsungan perusahaan di masa yang tidak pernah terjadi sebelumnya."

Bagi Levi's, perusahaan berencana fokus pada pertumbuhan digital dan melakukan pendekatan pada konsumen yang lebih muda.

Baru-baru ini, perusahaan bereksperimen dengan serangkaian kampanye di aplikasi TikTok untuk menjangkau Gen Z.

"Kami memadukan kekuatan AI dan ilmu data, dan meningkatkan label untuk memiliki fokus lebih kuat pada Gen Z dan keberlanjutan."

"Kami percaya hal ini memungkinkan kami untuk meningkatkan posisi kepemimpinan pasar dan bangkit dari krisis menjadi perusahaan yang lebih kuat."




25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X