Dua Tipe Kepribadian Seseorang Saat WFH, Kamu yang Mana?

Kompas.com - 29/07/2020, 10:14 WIB
ilustrasi bekerja dari rumah iSTOCK/SHIRONOSOVilustrasi bekerja dari rumah

KOMPAS.com - Work from home atau bekerja dari rumah kini diterapkan oleh banyak perusahaan di dunia sejak pandemi Covid-19 menyebar luas di awal tahun 2020.

Setelah beberapa bulan menjalani WFH, ada orang yang sudah bisa beradaptasi dan merasa cara kerja ini cocok untuknya. Namun, banyak juga yang merasa bertemu langsung dengan rekan kerja lebih memudahkan untuk bekerjasama.

Berkaitan akan hal itu, para peneliti membagi dua tipe kepribadian seseorang saat bekerja dari rumah.

Dua tipe kepribadian kerja yang berbeda ini adalah segmenter dan integrator, yang diklasifikasikan berdasarkan pada keinginan individu untuk batasan ideal antara aktivitas sehari-hari di rumah dan pekerjaan.

Tipe kepribadian kerja tersebut telah diidentifikasi jauh sebelum masyarakat di seluruh dunia harus bekerja dari rumah karena pandemi.

Dan sekarang, penting bagi kita untuk mengenal seperti apa tipe kepribadian kita saat bekerja.

Baca juga: Selain Google, Ini 5 Perusahaan Besar Dunia yang Terapkan WFH Panjang

Bekerja di tengah kondisi pandemi yang sedang berlangsung relatif menguras tenaga. Jika kita tidak bekerja sesuai tipe kepribadian kita, maka perasaan lelah atau burnout bisa meningkat.

Membedakan tipe segmenter dan integrator

Menurut Laurens Steed, asisten profesor manajemen di Farmer School of Business di Miami University, AS, seorang segmenter ingin mempertahankan batasan dengan tegas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi mereka.

Sedangkan tipe kepribadian integrator tidak keberatan menggabungkan keduanya, seperti "saya melakukan sedikit pekerjaan dan menghabiskan waktu bersama keluarga atau melakukan sesuatu di sekitar rumah, kemudian saya kembali bekerja".

Ilustrasi bekerja dari rumah dengan tabletKOMPAS.com/ OIK YUSUF Ilustrasi bekerja dari rumah dengan tablet

Steed mengingatkan, mengetahui perbedaan antara tipe kepribadian segmenter dan integrator bisa membantu kita dalam bekerja. Sebab, kita bisa saja menjadi segmenter ekstrem, integrator ekstrem, atau berada di antara keduanya.

Dalam buku yang dibuat pada 1996 berjudul "Home and Work: Negotiating Boundaries Through Everyday Life", sosiolog Christena Nippert-Eng menemukan seorang segmenter kerap membuat batasan antara pekerjaan dan kehidupan rumah.

Batasan yang dimaksud antara lain mempunyai kalender, seragam atau kunci terpisah untuk setiap aktivitas.

Baca juga: Siapkah Anda jika WFH Diterapkan Selamanya?

Di dalam buku tersebut, disebutkan ilustrasi seorang pekerja kantoran bernama Joan adalah tipe segmenter, di mana ia meletakkan dua kalender berbeda.

Kalender pertama berisi tenggat waktu dan janji temu, dan kalender kedua yang digantung di tembok diisi hari-hari liburan dan acara keluarga. Ia melihat kalender kedua di saat ia membutuhkan istirahat mental.

Steed mengatakan, membuat batasan lebih mudah bagi orang yang termasuk ke dalam tipe segmenter untuk mengetahui kapan ia harus berhenti bekerja.

Namun hal itu lebih sulit bagi seorang integrator untuk mengabaikan pekerjaan atau merespon email di malam hari.

Karyawan di Google

Google, yang menggunakan penelitian Nippert-Eng untuk mempelajari para karyawannya menemukan lebih dari dua pertiga karyawan diidentifikasi sebagai integrator.

Mereka juga setuju dengan pernyataan "sulit mengatakan kapan waktu kerja saya berakhir dan aktivitas di rumah saya dimulai."

Baca juga: 5 Kondisi yang Bikin Kerja Tidak Produktif

Jika kita bingung membedakan apakah kita termasuk seorang integrator atau segmenter, cari tahu bagaimana kita bekerja selama satu atau dua minggu.

"Cari tahu dari jurnal saat kita bekerja, bagaimana kita bekerja, dan lihat apakah kita adalah orang yang suka membuat batasan atau bekerja lebih baik saat kita memadukan kehidupan pribadi dan pekerjaan," kata Cyntia Pong, seorang penasihat karir.

Pong menceritakan masa-masa ia memulai pekerjaannya, di mana orang-orang mengatakan kepadanya untuk membuat batasan yang kuat seperti "selalu mengakhiri kerja pada waktu tertentu dan meninggalkan ruang kerja."

Namun bagi Pong, hal itu tidak realistis, sebab ia memilih untuk memadukan pekerjaan dan kehidupan di rumah.

Cara kita bekerja juga tidak selalu sesuai keinginan. Karena rumah kita menjadi "tempat kerja" yang baru akibat pandemi, sangat mudah mengaburkan batasan antara pekerjaan dan kehidupan kita di rumah.

Steed juga mencatat, budaya perusahaan terkait jam kerja dapat membuat kita menjadi seorang integrator atau segmenter.

Jika kita adalah seorang manajer, kita harus menyadari beberapa anggota tim mungkin lebih memilih menetapkan batasan di sekitar kehidupan kerja mereka.

"Tanyakan pada diri kita, apakah tim saya perlu merespon dengan segera? Dapatkah saya memberi tahu mereka di email, 'sesuatu seperti ini bisa menunggu sampai pagi?'" kata Steed.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X