Kompas.com - 20/09/2020, 10:52 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com— Survei daring Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) selama April-Mei 2020 terhadap lebih 20.000 keluarga di Indonesia menunjukkan, 95 persen keluarga mengalami stres akibat pandemi dan pembatasan sosial yang dilakukan guna mencegah penyebaran Covid-19.

Stres bisa dialami siapa saja, mulai dari orang lanjut usia hingga anak-anak. Pengaruhnya pada masing-masing orang beragam, mulai dari kesulitan tidur, tidak nafsu makan, hingga tidak bersemangat melakukan aktivitas sehari-hari.

Ada beberapa cara untuk mengatasi dan mengurangi stres. Misalnya saja melakukan hobi, bergabung dengan komunitas yang memiliki minat sama, hingga menguatkan ikatan dan komunikasi antar anggota keluarga.

Manajemen stres merupakan kunci untuk mengendalikan agar rasa cemas dan takut kita tidak berlebihan hingga menganggu fungsi sehari-hari.

Baca juga: Orangtua Baru Juga Perlu Self Care

Berikut adalah kesalahpahaman tentang manajemen stres:

1. Manajemen stres adalah tentang menghilangkan stres

Banyak orang memberikan saran kepada orang yang sedang mengalami kecemasan dengan mengatakan, "hilangkan semua stres yang kamu rasakan".

Padahal untuk situasi tertentu, stres sebenarnya bisa jadi pendorong untuk mencapai tujuan. Lagi pula, tidak mungkin menghilangkan semua penyebab stres.

Jadi, pendekatan yang lebih baik adalah menerima stres sebagai bagian dari kehidupan dan kemudian mencoba mengevaluasi apa yang dapat dikendalikan. Misalnya, respon kita, ekspektasi, atau pikiran buruk kita.

Untuk hal-hal yang tak bisa kamu kendalikan, buatlah strategi khusus. Hal ini mungkin butuh waktu, namun bisa dihadapi.

Baca juga: Covid-19: Ujian Kesehatan, Kesadaran, dan Kewarasan

2. Sikap yang benar tidak akan pernah membuat kita merasa stres

Orang mengira ada perbedaan antara orang yang stres dan orang yang tenang dan tenteram.

Hal itu keliru. Jika kamu tidak bisa merasakan stres dan bisa tetap tenang tanpa ketegangan, maka kamu mungkin tidak bisa mengenali dan mengelola stres dengan baik.  Segalanya akan menjadi lebih buruk.

Sangat wajar untuk merasa stres, tetapi cobalah untuk mulai menyadari bahwa yang membuat masalah terasa sangat rumit adalah kecemasan kita sendiri alias overthinking.

3. Teknik yang benar akan menghilangkan semua stres 

Olahraga, yoga, meditasi, dan berpikir positif pasti dapat mengurangi tingkat stres, tetapi tidak ada yang dapat sepenuhnya menghilangkan stres.

Ketika orang berpikir bahwa metode yang disebutkan di atas akan benar-benar menghilangkan stres mereka, mereka akan menganggapnya sebagai masalah kesehatan yang serius setelah sekali merasakan stres.

Masalah atau stres akan selalu hadir, tetapi sikap kita untuk belajar menerima dan tidak bersikap denial pada apa yang dirasakan akan menghadirkan ketenangan. Kita pun bisa lebih jernih mengambil keputusan.

 



Sumber Pinkvilla
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X