Kompas.com - 24/09/2020, 10:40 WIB
Ilustrasi bayi menangis. Ilustrasi bayi menangis.

KOMPAS.com - 100 hari pertama kehidupan bayi adalah saat-saat yang mendebarkan dan melelahkan bagi orangtua, apalagi jika bayi itu adalah anak pertama.

Seringkali orangtua baru bingung tentang apa yang diinginkan si kecil ketika sedang menangis

Orangtua juga menjadi sulit menidurkan bayi karena tangisan yang tak kunjung mereda.

Padahal, setiap bayi memiliki kepribadiannya sendiri.

Baca juga: Gigi Hadid dan Zayn Malik Dikaruniai Bayi Perempuan

Bayi umumnya menangis untuk berkomunikasi, karena mereka tidak punya cara lain untuk memberi tahu  apa yang mereka butuhkan.

Kebanyakan orangtua bahkan kerap panik ketika bayi menangis tanpa henti, dan lalu mengira ada sesuatu yang sangat tidak beres.

Nah, untuk para orangtua baru, mungkin bisa mencoba tiga tips berikut saat akan menenangkan si kecil.

1. Tanggapi tangisan bayi dengan cepat dan alihkan perhatiannya

Pakar bayi Steven Shelov dalam buku Caring for Your Baby and Young Child: Birth to Age 5, membahas tentang hal ini.

“Dalam beberapa bulan setelah bayi lahir, cara terbaik untuk mengatasi tangisan mereka adalah dengan merespons dengan cepat.”

Hal ini mungkin bertentangan dengan mitos yang beredar yang menyebutkan anak akan manja bila orangtua langsung merespon tangisan.

Baca juga: Tips Aman Penggunaan Minyak Esensial untuk Bayi

Namun, mitos ini rupanya tidaklah benar. Jadi, sebaiknya segera tanggapi setiap kali bayi saat menangis.

Bagaimana caranya?

Dekati bayi yang menangis segera, peluk dia dan dekap dengan lembut, ayun-ayun si kecil dengan perlahan sambil berjalan keliling kamar atau rumah untuk mengalihkan perhatiannya.

Cobalah ajak si kecil berbicara sambil menunjukkan padanya hal-hal yang menyenangkan dan menarik perhatian.

Ini akan meredakan suasana hatinya dan dia akan segera berhenti menangis.

2. Biarkan bayimu sendiri untuk sementara

Terkadang ada baiknya membiarkan bayi menangis sebentar. Bagaimana pun, menangis memiliki banyak fungsi bagi balita.

Steven Shelov menyebut, “menangis membantu bayi melepaskan diri dari visual yang kuat, suara yang tidak menyenangkan, dan rangsangan sensorik lainnya."

"Menangis juga membantu mereka melepaskan stres," kata Shelov.

Jadi, lain kali saat balita menolak untuk berhenti menangis, hal terbaik yang dapat dilakukan adalah meninggalkan ruangan untuk mencari udara segar.

Hal ini juga memberi kesempatan bagi orangtua untuk tenang, sehingga terhindar dari stres dan kecemasan.

Stres dan kecemasan bisa meningkat akan berpengaruh pada bayi dan menyebabkan amarah semakin menjadi.

Baca juga: Amankah Penggunaan Hand Sanitizer untuk Bayi?

Tips ini juga membantu bayi melepaskan stres dan energi yang terpendam sebelum tidur, memungkinkannya tidur malam lebih nyenyak.

Namun perlu diingat, hal Ini tidak berarti orangtua harus membiarkan bayi menangis dalam waktu yang lama.

Segera setelah orangtua merasa tenang, kembali tanggapi bayi yang menangis dengan cepat.

3. Tidur malam yang nyenyak dimulai dengan teman tidur

Ingat, menumbuhkan kebiasaan tidur yang baik pada bayi harus dimulai sejak dini.

Bayi harus membiasakan diri untuk tidur sendiri, sehingga tidak membutuhkan perlakuan khusus menjelang waktu tidurnya.

Salah satu cara untuk menghadapi ini adalah dengan memberikan anak teman tidurnya sendiri, sehingga dia bisa terbiasa dengan teman tidurnya.

Sekarang, setiap kali bayi mengantuk dan menangis, tempatkan teman tidur di sampingnya sambil menyalakan musik yang menenangkannya. 

Meredupkan lampu pun bisa sama efektifnya untuk membuat balita tidur dalam waktu singkat.

Ada kalanya bayi tidak mau tidur atau sering terbangun di malam hari sambil menangis.

Baca juga: Waspada Gejala Usus Buntu pada Anak dan Bayi

Dalam situasi seperti itu, respons terbaik adalah dengan mencari tahu ketidaknyamanan fisik yang dia alami, misalnya kolik pada bayi.

Kolik pada bayi, juga dikenal sebagai kolik infantil, yang menyerang 1:5 bayi selama beberapa bulan pertama mereka.

Kolik ditandai dengan tangisan yang lama tanpa alasan yang jelas yang biasanya berlangsung berminggu-minggu, untuk anak yang sehat.

Beberapa orang percaya kondisi itu terjadi karena ketidaknyamanan gastrointestinal seperti kram usus. Jika hal ini ditemukan, maka segera konsultasikan dengan dokter.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X