Kompas.com - 11/11/2020, 17:21 WIB
Ilustrasi telinga, gangguan telinga, gangguan pendengaran SHUTTERSTOCK/Orawan PattarawimonchaiIlustrasi telinga, gangguan telinga, gangguan pendengaran

KOMPAS.com - Telinga berdenging atau yang disebut sebagai tinnitus merupakan kondisi medis ketika ada suara-suara abnormal muncul dari dalam telinga.

Kondisi ini bisa terjadi pada salah satu telinga ataupun keduanya, yang mungkin berkaitan dengan masalah gangguan pendengaran, sakit telinga, dan pusing.

Secara umum, tinnitus akan terjadi sepanjang hari, khususnya pada malam hari ketika orang sedang mencoba untuk tidur.

Baca juga: Ternyata, Kotoran Telinga Bisa Dipakai untuk Ukur Kadar Hormon Stres

Pada kebanyakan orang tinnitus terjadi dalam tempo singkat di beberapa titik. Misalnya, setelah penerbangan, saat masa pemulihan dari flu, atau bahkan hanya seketika saat hendak tidur.

Namun demikian, tinnitus jangka panjang sangat mengganggu, dan ini terjadi pada pasien pasien yang pernah terkena Covid-19.

Baru-baru ini, sebuah penelitian mengamati lebih dari 3.000 orang dari 48 negara dengan riwayat tinnitus.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Faktanya, lebih dari 40 persen penderita tinnitus dengan infeksi Covid-19 melaporkan gejala tinnitus yang memburuk setelah terbebas dari virus itu.

Apalagi bagi individu yang terisolasi secara sosial dan emosional cenderung merasakan, bahwa tinnitus sangat mengganggu.

Baca juga: Bagaimana Cara Mengeluarkan Air dari Telinga?

Selain itu, sebuah penelitian di Inggris yang diterbitkan dalam International Journal of Audiology juga memantau soal memburuknya gangguan pendengaran yang terkait dengan infeksi Covid-19.

Terungkap, pasien dengan gangguan pendengaran, tinnitus, dan vertigo mengalami gejala yang memburuk setelah delapan minggu masa pemulihan dari infeksi Covid-19.

Sama seperti virus, penyakit campak, gondok, varicella (cacar air atau herpes zoster), infeksi ini dapat memengaruhi saraf untuk sementara atau selamanya.

Sebelumnya, pasien yang terinfeksi Covid-19 juga mengalami anosmia atau hilangnya indera penciuman.

Baca juga: Telinga Si Kecil Berdenging? Hati-Hati Balita Mengalami Tinnitus

Pada pasien Covid-19, virus merusak saraf penciuman yang bertanggung jawab untuk mengidentifikasi berbagai bau dengan menggunakan hidung dan otak.

Jadi, sudah semakin banyak bukti yang menunjukkan kelainan fungsional area tubuh karena penurunan fungsi otak (defisit neurologis) jangka panjang akibat infeksi Covid-19 ini.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Sumber Forbes
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.