Kompas.com - 19/11/2020, 05:30 WIB
Ilustrasi obesitas ShuterstockIlustrasi obesitas

Selain itu makanan tersebut juga memicu rangsangan saraf otot. Ini dikenal sebagai neurotransmisi muskuloskeletal.

Kemudian, para peneliti melakukan percobaan pada tikus jantan.

Satu kelompok tikus diberikan makanan tinggi gula tambahan dan kelompok lainnya diberikan makanan tinggi lemak selama enam minggu.

Para peneliti lalu menghitung sel-sel lemak (adiposit) dan menggunakan elektromiografi untuk menilai neurotransmisi muskuloskeletal, respons dari saraf otot.

Tikus yang telah mengonsumsi makanan tinggi gula menunjukkan lebih banyak adiposit di jaringan otot, tetapi hal yang sama tidak berlaku untuk makanan tinggi lemak.

Meski begitu, kedua kelompok menunjukkan peningkatan transmisi neuromuskuler yang berlangsung selama beberapa minggu setelah percobaan dihentikan.

Baca juga: Obesitas Tingkatkan Risiko Kondisi Kritis Saat Terinfeksi Covid-19

Studi tersebut akhirnya menyimpulkan, mengonsumsi makanan tinggi kalori, baik dari lemak maupun gula selama enam minggu meningkatkan neurotransmisi yang mengarah pada perkembangan nyeri otot.

Setelah periode ini, tikus dengan cepat mendapatkan kembali berat badan normalnya meskipun parameter neurotransmisi tetap tinggi selama beberapa minggu.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X