Agar Tak Cepat Pikun, Biasakan Melakukan 4 Hal Ini

Kompas.com - 12/01/2021, 07:28 WIB
Ilustrasi belajar. Mempelajari hal baru setiap harinya dapat membantu mencegah pikun. SHUTTERSTOCKIlustrasi belajar. Mempelajari hal baru setiap harinya dapat membantu mencegah pikun.

KOMPAS.com - Istilah "menua" sering kali identik dengan hal-hal "buruk".

Dalam konteks kemampuan fungsi otak, menua kerap dikaitkan dengan kebiasaan mudah lupa, atau bahkan lebih buruk lagi, demensia.

Padahal, menurut neuropsikolog sekaligus penulis "Break Up with Friends", Dr Hannah Korrel, anggapan tersebut tidak selalu benar.

Hari ini, kita punya pengalaman lebih daripada hari kemarin.

Menurut Body and Soul, itulah yang memberi kita perkembangan otak neuroplastis yang dinamis.

Mulai hari ini dan ke depannya, ingatlah bahwa kamu punya kesempatan untuk terus membangun neuroplastisitas itu, baik sedikit atau banyak.

Bagaimana mengoptimalkannya?

Sama seperti kulit, otak juga menua seiring bertambahnya usia.

Jadi, jika kita berumur panjang, tanda-tanda penuaan pada otak juga akan bermunculan secara perlahan dan mengganggu kemampuan memori kita.

Menjaga otak tetap tajam atau membiarkan tanda-tanda penuaannya muncul bergantung pada jumlah cadangan kognitif kita.

Ini seperti penyangga. Bayangkan demensia seperti "pacman" yang memakan penyangga di otakmu setiap harinya hingga pada suatu hari penyangga tersebut habis dan kamu mulai menunjukkan tanda-tanda penuaan, seperti memori yang buruk.

Semakin besar penyangga tersebut, maka semakin lama tanda-tanda penurunan kemampuan kognitif akan terjadi.

Baca juga: Waspadai, 7 Kebiasaan Buruk yang Merusak Fungsi Otak

Nah, beberapa cara dapat dilakukan untuk mencegah pikiran kita cepat pikun seiring bertambahnya usia, antara lain:

1. Tidak berhenti belajar
Maksudnya, buatlah pikiran tetap aktif.

Menjaga otak tetap aktif tak melulu harus lewat cara ekstrem yang terdengar berat, seperti ikut kelas-kelas akademik.

"Terus belajar" juga bisa berarti menerima informasi baru setiap harinya.

Informasi tersebut juga bisa sesuatu yang menyenangkan, misalnya mempelajari game baru, belajar menari atau melukis, ikut kelas bahasa asing, atau sekadar belajar hal baru dari film dokumenter.

Semakin banyak yang terlibat dalam proses tersebut dan semakin aktif pembelajaran yang dilakukan, maka akan semakin baik.

Jadi, pastikan kamu dan orang-orang tercinta saling terlibat, misalnya dalam mengikuti kursus atau melakukan hobi.

Bahkan, aktivitas yang dilakukan bisa sesederhana main game mingguan atau apapun yang membuatmu belajar hal baru.

Baca juga: Belajar Bahasa Asing Selama Karantina dan Bagaimana Memulainya


Banyak orang semakin jarang bersosialisasi seiring bertambahnya usia dan lebih banyak di rumah.

Pola tersebut membuat otak kita kehilangan kesempatan untuk melatih neuroplasitas.

Interaksi sosial adalah sesuatu yang tidak terprediksi. Kondisi tersebut membuat otak lebih waspada dan aktif untuk bersosialisasi.

Terus terhubung secara sosial dengan orang lain dapat menjaga cadangan kognitif kita kuat dan sehat.

Meski sepele, ini sangat membantu diri kita di usia senja kelak, seperti usia 50 tahun ke atas.

Baca juga: Kehidupan Sosial, Kunci Mencegah Depresi

3. Diet Mediterania
Zona biru adalah wilayah khusus di dunia yang diketahui memiliki tingkat demensia lebih rendah daripada wilayah lain di dunia.

Beberapa negara yang masuk daftar zona biru antara lain Jepang, Yunani dan Kosta Rika.

Para peneliti berpikir, pola makan penduduk di zona biru memengaruhi kemampuan fungsi otak mereka.

Umumnya, orang-orang yang tinggal di zona biru menerapkan pola makan Mediterania yang kaya lemak baik, seperti ikan, dan sayur-sayuran.

Neuron kita dilapisi oleh selubung mielin. Kita membutuhkan lemak baik dalam makanan yang dikonsumsi agar lapisan tersebut tetap bagus dan sehat.

Baca juga: Diet Mediterania Masih Jadi Diet Terbaik di 2021, Kok Bisa?

4. Olahraga
Tahukah kamu bahwa olahraga punya peran sangat besar terhadap fungsi otak?

Dengan terus menggerakkan badan, kita tidak hanya mencegah efek buruk terhadap kesehatan fisik, tetapi juga kondisi berkaitan dengan demensia.

Penyebabnya, olahraga adalah salah satu mekanisme untuk memperoleh Brain Derived Neurotropic Factor (BDNF) atau sesuatu yang kita butuhkan agar fungsi otak dapat berjalan optimal.

Pada akhirnya, sebuah sumber daya baru akan bermanfaat jika kita menggunakannya, sama seperti otak.

Jadi, tidak ada kata terlambat untuk memulai. Lebih baik lagi jika kamu mulai mempraktikkan kebiasaan-kebiasaan positif tersebut sejak masih muda dan memperoleh manfaatnya di usia senja kelak.

Baca juga: Manfaat Kesehatan di Balik Jalan Kaki 11 Menit Setiap Hari



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X