Kompas.com - 15/03/2021, 17:51 WIB
Kader Posyandu mendatangi rumah warga untuk mengukur tinggi badan dan penimbangan berat badan kepada dua balita penderita stunting di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Kabupaten itu sukses menurunkan angka stunting dalam tiga tahun terakhir, namun kembali mencatat lonjakan di masa pandemi. Riza SalmanKader Posyandu mendatangi rumah warga untuk mengukur tinggi badan dan penimbangan berat badan kepada dua balita penderita stunting di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Kabupaten itu sukses menurunkan angka stunting dalam tiga tahun terakhir, namun kembali mencatat lonjakan di masa pandemi.

KOMPAS.com – Prevalensi stunting di Indonesia masih tinggi, yakni hampir 30 persen. Pemerintah pun menargetkan untuk menurunkan angka stunting menjadi 14 persen pada tahun 2024.

Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan jajarannya agar mengambil langkah-langkah luar biasa dalam menangani stunting. Sebab, anak yang telanjur mengalami stunting, maka perkembangan otaknya tidak bisa optimal hingga dewasa. Kondisi itu akan memengaruhi produktivitas sumber daya manusia.

Prof.Dr.dr Aman Pulungan Sp.A (K)Dok pribadi Prof.Dr.dr Aman Pulungan Sp.A (K)
Penyebab utama stunting adalah kekurangan gizi kronis sejak bayi dalam kandungan hingga masa awal anak lahir. Biasanya stunting baru tampak setelah anak berusia 2 tahun, yaitu perawakan yang lebih pendek dari usianya.

Menurut Prof.Dr.dr. Aman B Pulungan Sp.A (K), tidak semua anak pendek merupakan anak stunting. Selain itu, ada berbagai faktor yang menyebabkan anak stunting, tidak cuma karena kekurangan gizi.

Baca juga: 3 Cara Mencegah Stunting pada Anak, Penuhi Kebutuhan Nutrisi Ibu Ketika Hamil

“Stunting erat dikaitkan dengan masalah nutrisi, tetapi hubungan antara nutrisi dan pertumbuhan linear masih diperdebatkan,” kata Aman yang menyampaikan pidato pengukuhannya sebagai guru besar dengan judul ‘Penuntasan Stunting pada Anak sebagai suatu permasalahan Multi-Faktorial : Medis, Sosial, Ekonomi, Politik dan Emosional’.

Ia menyebutkan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa intervensi berupa peningkatan asupan gizi tidak dapat memperbaiki pertumbuhan linear secara bermakna.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Penelitan yang dilaksanakan di Nusa Tenggara Barat menunjukkan pemberian makanan tambahan kepada anak stunted tidak menghasilkan kenaikan berat badan dan tinggi badan yang signifikan.

Demikian juga penelitian lain di Nusa Tenggara Timur, Sumatera Utara, dan Bali.

“Penyebab perawakan pendek anak-anak ini mungkin disebabkan oleh hal lain. Penggunaan stunting sebagai indikator status gizi dapat mengalihkan perhatian dari masalah lingkungan dan sosial yang memiliki dampak besar terhadap pertumbuhan anak,” ujar Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia ini.

Baca juga: Dukung Penanganan Stunting, Kemendagri Beri Akses Data Penduduk ke BKKBN

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.