Kompas.com - 02/06/2021, 22:49 WIB
Ilustrasi hubungan intim. FREEPIK/TEKSOMOLIKAIlustrasi hubungan intim.

KOMPAS.com - Penggunaan pelumas saat bercinta dikhawatirkan dapat menghambat kehamilan.

Hal ini didukung oleh sejumlah penelitian, baik berkaitan dengan kemungkinan menurunkan peluang kehamilan maupun penelitian yang membantahnya.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi dari Mississippi, Dr Lakeisha Richardson, misalnya, mengungkapkan kepada Healthline bahwa sejumlah pelumas vagina sebenarnya mengandung spermisida. Artinya, substansi yang dapat mencegah kehamilan.

Meskipun ketika kebanyakan pelumas tidak mengandung spermisida lagi, banyak pelumas mengandung bahan-bahan seperti petroleum, propilen glikol, gliserin, paraben, silikon, and Nonoxynol-9 (terkadang disingkat N-9).

Semua bahan ini, kata Richardson, dapat memengaruhi motilitas sperma atau kemampuan sperma untuk bergerak dengan baik melalui saluran reproduksi wanita.

Selain itu, pelumas juga diyakini dapat menurunkan viabilitas sperma, sehingga sekalipun bergerak masuk menuju sel telur sperma tersebut tidak dapat bertahan hidup ketika benar-benar bertemu sel telur.

Meski begitu, sejumlah penelitian menemukan bahwa penggunaan pelumas tampaknya tidak berpengaruh terhadap kemungkinan pembuahan alami.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Beberapa penelitian berbeda telah menelitinya pada kelompok wanita yang mencoba untuk hamil.

Rincian penelitian bisa dibaca pada tautan berikut. Baca juga: Pakai Pelumas saat Bercinta Turunkan Peluang Kehamilan, Benarkah?

Jadi, meskipun pengaruh pelumas terhadap kemampuan sperma untuk membuahi didukung oleh sejumlah penelitian, tetap ada kemungkinan kehamilan ketika seseorang melakukan hubungan intim tanpa kontrasepsi.

Sehingga jika tidak berencana hamil, sebaiknya tetap menggunakan alat kontrasepsi yang dapat diandalkan, selain kondom gunakan pula pil, cincin, atau IUD.

Sementara bagi pasangan yang merencanakan kehamilan namun berada pada kondisi tertentu, seperti pria punya masalah dengan jumlah sperma yang rendah, motilitas sperma yang buruk, atau masalah kesuburan lainnya, para ahli tidak merekomendasikan penggunaan pelumas.

Hal ini dianjurkan demi memaksimalkan peluang kehamilan.

Di samping itu, penting untuk mengupayakan kehamilan lewat faktor-faktor lainnya, di antaranya:

1. Membaca kemasan dengan cermat

Seperti yang telah diungkapkan oleh Richardson, banyak pelumas mengandung bahan-bahan seperti petroleum, propilen glikol, gliserin, paraben, silikon, and Nonoxynol-9 (terkadang disingkat N-9).

Semua bahan ini dikhawatirkan dapat memengaruhi motilitas sperma atau kemampuan sperma untuk bergerak dengan baik melalui saluran reproduksi wanita.

Untuk itu, penting untuk membaca kemasan pelumas sebelum membeli atau menggunakannya.

Di samping menghindari bahan-bahan tersebut, ia juga merekomendasikan untuk menggunakan pelumas yang ramah sperma. Menurut Richardson, beberapa produsen pelumas menyediakan produk khusus dan biasanya tertulis TTC (Trying to Conceive/mencoba untuk hamil) atau istilah sejenisnya.

Baca juga: 4 Bahan Alami yang Bisa Dijadikan Pelumas Seks

2. Mencari pelumas yang aman untuk kesuburan

Melansir Extend Fertility, pelumas yang dikategorikan aman untuk kesuburan biasanya tidak menghandung bahan berbahaya seperti silikon, petroleum, serta memiliki pH yang cocok dengan air mani dan cairan serviks, yakni sekitar 7 atau pH netral.

Banyak pelumas memiliki pH yang sedikit asam untuk menyesuaikan tingkat pH vagina, yakni berkisar 3,8-4,5.

Namun, pH asam dapat berkontribusi pada toksisitasnya terhadap sperma.

Jangan ragu untuk bertanya pada petugas di toko tempat membeli pelumas. Sebab, tidak semua pelumas berlabel "ramah kesuburan" memberikan bukti.

3. Mengonsumsi vitamin prenatal

Selain memerhatikan dan memilih pelumas yang tepat, Richardson juga menyarankan untuk melakukan upaya-upaya lain yang dapat meningkatkan peluang kehamilan.

Salah satunya adalah mengonsumsi vitamin prenatal. Richardson menyarankan untuk mengonsumsinya tiga bulan sebelum berusaha untuk hamil.

Vitamin ini dapat membantu memastikan tubuh mendapatkan vitamin dan mineral yang cukup untuk menciptakan lingkungan yang sehat untuk tumbuhnya janin jika seseorang hamil.

Wanita di usia reproduksi dianjurkan untuk mengonsumsinya secara teratur.

Misalnya, jika dibandingkan dengan multivitamin, vitamin prenatal cenderung menggandung asam folat yang lebih tinggi untuk membantu mencegah cacat tabung saraf.

Vitamin ini juga mengandung lebih banyak zat besi untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan bayi.

Baca juga: Cegah Stunting, Penuhi Gizi sejak Persiapan Kehamilan

4. Menghindari penggunaan produk di area vagina

Produk yang dapat memengaruhi pH vagina atau membahayakan bagi sperma, seperti krim vagina atau douch, sebaiknya dihindari oleh seseorang yang sedang mencoba untuk hamil.

5. Menggunakan uji ovulasi

Banyak wanita mungkin berpikir masa ovulasinya jatuh pada hari ke-14 dari siklus haid. Padahal, hari ovulasi setiap wanita bisa berbeda dan bergantung pada panjang siklus masing-masing.

Ini menyebabkan banyak pasangan berhubungan intim di hari yang salah dan berdampak pada penurunan peluang kehamilan.

Menggunakan alat ovulasi dapat membantu memberi tahu siklus seseorang sehingga dapat melakukan uji ovulasi.

Menurut dokter spesialis obstetri dan ginekologi dari Illinois, Dr Jane Oh, menemukan masa ovulasi yang tepat juga bisa membuat wanita lebih nyaman.

Sebab, di sekitar masa ovulasi, vagina akan memproduksi lebih banyak cairan daripada waktu lainnya.

Kondisi ini sangat ideal bagi sperma untuk tiba di sel telur.

Baca juga: 5 Cara Meningkatkan Kesuburan Pria, Sudah Tahu?

6. Melakukan tes kesuburan

Pada banyak kasus, wanita sering kali ditunjuk sebagai pihak yang memiliki masalah reproduksi.

Padahal, bisa saja permasalahannya ada pada pihak pria. Untuk itu, melakukan tes kesuburan bisa membantu mencari tahu sekaligus mencari solusi yang tepat jika memang ditemukan masalah.

7. Tidak stres

Selain faktor fisik, ketidaksuburan juga bisa dipengaruhi oleh faktor stres.

Sering kali, kata Oh, faktor yang diperhatikan ketika menghadapi masalah kesuburan adalah pola makan dan gaya hidup. Padahal, stres juga bisa mengganggu keseimbangan hormon dan pada akhirnya menghambat kehamilan.

Jadi, hindari stres dan berusahalah untuk tetap senang dalam mengupayakan kehamilan.

Sebab, beberapa pasangan justru dapat mencapai target kehamilan ketika berhenti berupaya terlalu keras.

"Kita mungkin mencatat dengan rinci pada hari apa kita harus berhubungan intim lalu mengajak pasangan berhubungan di hari tersebut sehingga itu seemua menjadi semacam pekerjaan."

"Itu malah dapat menjauhkan keintiman dalam hubungan. Jadi, cobalah lebih santai, luangkan waktu untuk melakukan foreplay dan menikmati pengalamannya," kata Richardson.

Baca juga: 9 Penyebab Keguguran di Awal Kehamilan



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.