Kompas.com - 23/11/2020, 15:33 WIB
Ilustrasi ibu hamil menimbang berat badan untuk mengontrol bobot tubuh. SHUTTERSTOCK/Elena NichizhenovaIlustrasi ibu hamil menimbang berat badan untuk mengontrol bobot tubuh.

KOMPAS.com – Stunting atau kurang gizi kronis yang menyebabkan perawakan anak pendek dan perkembangan otaknya tidak optimal, bisa dicegah. Semua diawali dengan kondisi kesehatan dan status nutrisi yang baik pada ibu hamil.

Kecukupan asupan gizi ini tidak hanya dari sisi jumlah atau kuantitas, tetapi juga sisi kualitas, yaitu pemenuhan gizi yang sehat, lengkap, dan seimbang.

“Pencegahan berat badan bayi lahir rendah dan stunting sebaiknya dilakukan dengan mempersiapkan diri sejak masa prakonsepsi (sebelum hamil),” kata Pengurus Pergizi Pangan Indonesia, Dr dr Lucy Widasari, M.Si, dalam webinar #IndonesiaSIAP yang diadakan oleh Frisian Flag Indonesia bersama Pergizi Pangan dan Tim Penggerak PKK Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Meski demikian, data Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi anemia pada ibu hamil di Indonesia meningkat dari 37,1 persen pada 2013, menjadi sebesar 48,9 persen.

Karenanya, edukasi, intervensi dan pemenuhan gizi berkualitas baik pada remaja, ibu hamil, dan fase periode 1.000 hari pertama kehidupan menjadi sebuah keharusan, agar ke depan dapat tercipta generasi Indonesia yang lebih sehat dan berkualitas.

Baca juga: Terawan: Angka Stunting di Indonesia Lebih Tinggi dari Ambang Batas WHO

Proses stunting dapat terjadi sejak janin dalam kandungan hingga anak berusia 2 tahun. Oleh karena itu, periode ini disebut sebagai periode emas 1.000 hari pertama kehidupan.

Jika penanganan stunting kurang optimal selama periode tersebut, anak berpotensi mengalami stunted atau gagal tumbuh.

Protein hewani

Terkait stunting, protein memegang peranan penting karena protein adalah zat gizi yang berperan membentuk sel-sel tubuh untuk menunjang pertumbuhan badan, termasuk tinggi badan.

“Pemenuhan gizi seimbang termasuk protein hewani menjadi kunci untuk menjaga kesehatan keluarga,” kata Ketua Umum Pergizi Pangan, Prof Dr Hardinsyah MS, dalam acara yang sama.

Sumber protein hewani ada di sekitar kita, mulai dari telur, daging unggas, atau pun daging sapi. Konsumsi susu juga bisa memenuhi kebutuhan protein hewani.

Menurut Hardinsyah, susu memiliki asam amino lengkap dan berperan penting pada masa kehamilan dan pertumbuhan setelah periode ASI eksklusif selesai.

“Asam aminonya lengkap disertai asam lemak dan penambahan asam folat, vitamin A, vitamin D, zink, zat besi, B kompleks pada susu akan memiliki manfaat penting bagi ibu dan bagi pertumbuhan perkembangan janin dan mendukung proses metabolisme tubuh,” katanya.

Baca juga: Cegah Stunting, Protein Hewani Harus Ada dalam MPASI

 

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X