Kompas.com - 22/08/2021, 19:25 WIB

KOMPAS.com – Salah satu tantangan yang muncul akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan adalah menumpuknya limbah medis yang masuk kategori bahan berbahaya dan beracun (B3).

Sampah atau limbah medis tidak hanya dihasilkan dari aktivitas fasilitas kesehatan, tetapi juga dari penggunaaan alat pelindung diri, seperti masker dan sarung tangan sekali pakai, selang infus, hingga jarum suntik dari vaksinasi.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), limbah medis Covid-19 hingga 27 Juli 2021 mencapai total 18.460 ton, yang berasal dari fasilitas pelayanan kesehatan, rumah sakit darurat, wisma tempat isolasi dan karantina mandiri, uji deteksi, maupun vaksinasi.

Direktur Penilaian Kinerja Pengelolaan Limbah B3 dan Limbah Non B3 Kementrian LHK Sinta Saptarina mengatakan, limbah medis memiliki karakteristik yang berbeda, yaitu infeksius alias dapat menular.

“Karena memiliki sifat menularkan penyakit, maka harus ditangani secara khusus. Misalnya harus secepatnya ditangani dalam 2 x 24 jam di suhu normal. Bila ditaruh di cool bos bisa lebih dari 2 x2 24 jam,” ujar Sinta dalam Dialog yang diselenggarakan KPCPEN, Kamis (19/8/21).

Baca juga: Begini, Cara Tepat Buang atau Cuci Masker Bekas Pakai

Ia mengatakan, sampah medis itu dipisahkan sesuai jenis limbahnya, kemudian ditaruh kantong plastik, dilakukan desinfeksi dan diikat rapat sebelum dibawa ke tempat pemusnahan atau pengolahan limbah B3 yang memiliki izin.

Sekjen Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia, Lia Partakusuma mengatakan, rumah sakit sudah memiliki protokol penanganan limbah medis.

“Akan dilakukan pemilahan, kemudian ditempakan di wadah khusus yang aman. Kalau jarum ditaruh di boks khusus agar tidak menusuk orang saat diangkut,” ujar Lia dalam acara yang sama.

Sementara itu, untuk limbah medis yang infeksius seperti dari pasien Covid-19, semua harus didisinfeksi dulu, termasuk jalur yang dilewati petugas.

Limbah ini setelah disimpan harus dimusnahkan dengan fasilitas insinerator dengan suhu pembakaran 800 derajat Celsius hingga yang tersisa hanyalah debu.

Baca juga: Luhut: Limbah Medis Selama Pandemi Covid-19 Persoalan Darurat

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.