Kompas.com - 16/10/2021, 08:22 WIB
Rumeysa Gelgi, yang tingginya 7 kaki 0,7 inci (215,16 cm), secara resmi dinobatkan sebagai wanita tertinggi yang hidup oleh Guinness World Records, pada Rabu (13/10/2021).

GUINNESS WORLD RECORDSRumeysa Gelgi, yang tingginya 7 kaki 0,7 inci (215,16 cm), secara resmi dinobatkan sebagai wanita tertinggi yang hidup oleh Guinness World Records, pada Rabu (13/10/2021).

KOMPAS.com – Seorang wanita asal Turki, Rumeysa Gelgi dinobatkan sebagai wanita hidup tertinggi oleh Guinness Book of World Records 2022 dengan tinggi 215,16 cm.

Menariknya, sebelum dinobatkan sebagai wanita tertinggi di dunia, Rumeysa sempat dianugerahi sebagai remaja putri tertinggi di dunia pada 2014 silam, saat usianya masih 18 tahun.

Tubuh tinggi Rumeysa ternyata diakibatkan oleh sebuah kondisi yang disebut Weaver syndrome, sebuah kondisi langka yang mengakibatkan kondisi kelainan percepatan pertumbuhan, termasuk pematangan tulang.

Kondisi ini memaksa Rumeysa menghabiskan hampir seluruh waktunya di kursi roda, meski ia dapat bergerak dengan menggunakan walker dalam waktu singkat.

Menurut rarediseases.org, penyebab pasti Weaver Syndrome masih belum diketahui.

Baca juga: Wanita ini Pecahkan Rekor Mulut dengan Ukuran Terbesar

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ada beberapa kasus ibu yang terkena dampak ringan memiliki anak laki-laki yang terkena dampak lebih parah, para peneliti mengira sindrom Weaver dapat diturunkan sebagai sifat dominan autosomal dengan ekspresi gejala terbatas gender.

"Tidak ada tanda-tanda keturunan dalam sebuah keluarga dan penyebabnya tidak diketahui,” tulis rarediseases.org.

Sementara itu menurut Dr Shuchin Bajaj, direktur dan pendiri Ujala Cygnus Group of Hospitals, Weaver Syndrome biasanya ditandai dengan pertumbuhan yang cepat dan biasanya dimulai sebelum kelahiran terjadi.

“Pertumbuhan fisik dan perkembangan tulang (maturasi) bisa terjadi lebih cepat dari rata-rata. Gejala lain bisa termasuk peningkatan tonus otot dengan refleks berlebihan, perkembangan gerakan volunter yang lambat, karakteristik fisik tertentu, dan atau kelainan bentuk kaki,” katanya.

“Pengobatan Weaver Syndrome bersifat simtomatik atau mengatasi gejala yang timbul dan suportif,” tambahnya.

Baca juga: Bukan Cuma Hidung, Operasi Tambah Tinggi Badan Pun Bisa, Ini Kisahnya

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.