Kompas.com - 23/11/2021, 11:15 WIB
Ilustrasi warga memilah sampah berdasarkan jenis Dok. ShutterstockIlustrasi warga memilah sampah berdasarkan jenis

KOMPAS.com - Gaya hidup ramah lingkungan sudah bisa diajarkan kepada anak-anak sejak dini. Namun, anak membutuhkan role model, dalam hal ini orangtuanya.

Psikolog Saskhya Aulia Prima menjelaskan, mengajarkan kebiasaan baik pada anak-anak cenderung lebih mudah daripada orang dewasa.

"Masa tumbuh kembang adalah waktu terbaik untuk menstimulasi anak akan berbagai ilmu. Dengan menumbuhkan kepedulian lingkungan sejak dini, tentunya akan memperbesar peluang untuk menciptakan gaya hidup yang lebih ramah lingkungan ketika beranjak dewasa,” jelas Saskhya dalam acara talkshow #BijakPlastikSejakDini yang diadakan oleh Mondelez Indonesia (19/11).

Saskhya juga menambahkan bahwa pada dasarnya anak cenderung mempelajari hal baru dengan mengikuti kebiasaan yang sering mereka lihat.

“Orangtua bisa memberikan pemahaman atau pengetahuan lewat berbagai macam media, seperti video, buku cerita, dan penjelasan praktis sesuai usia yang membantu mereka untuk lebih memahami pentingnya bijak menggunakan plastik,” ujar co-founder Rumah Psikologi TigaGenerasi ini.

Baca juga: Tips Daur Ulang Sampah Belanja Online agar Jadi Ramah Lingkungan

Kebiasaan yang lebih ramah lingkungan seperti membawa kantong belanja sendiri atau memilah sampah sebelum dibuang bisa menjadi cara yang bisa ditiru anak.

"Jadi nggak cuma pengetahuan, tapi perilakunya juga ditunjukkan. Keterlibatan orang tua di rumah itu perlu. Bisa dengan membuat games bersama, kategorisasi sampah sesuai warna tempat sampahnya, atau melakukan operasi semut," ujarnya.

Berpartisipasi dalam mengajarkan peduli lingkungan pada anak, Mondelez Indonesia meluncurkan kegiatan #BijakPlastikSejakDini dengan menggandeng Kertabumi Recylcing Center.

Sebagai tahap awal, kegiatan ini dilakukan dengan menghadirkan bank sampah di dua sekolah dasar, yaitu SDN Duren Tiga 13 dan 14 di Jakarta Selatan dengan melibatkan partisipasi seluruh komponen sekolah, mulai dari peserta didik, guru, orang tua hingga karyawan Mondelez Indonesia.

Baca juga: Menyelamatkan Indonesia agar Tidak Terbungkus Plastik

Sejak dimulai di bulan Februari 2021, bank sampah telah mengumpulkan lebih dari 2 ton sampah plastik, yang kemudian didaur ulang menjadi berbagai furniture untuk sekolah seperti meja, rak buku, bangku, serta renovasi kantin, yang dapat dimanfaatkan langsung oleh siswa.

Founder Kertabumi Recyling Center, Ikbal Alexander, menilai sistem pengendalian sampah plastik dengan pendekatan bank sampah merupakan salah satu cara yang paling mudah diterima oleh masyarakat, apalagi untuk meningkatkan partisipasi usia dini.

“Melalui pendekatan bank sampah, pengendalian sampah diterapkan dalam bentuk kerja sama saling menguntungkan, yang bisa memberikan manfaat sosial ekonomi, dan pada akhirnya dapat mengurangi timbunan sampah,” jelas Ikbal.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.