Kompas.com - 28/11/2021, 15:50 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com - Ternyata, kebiasaan bernapas lewat mulut pada anak-anak memiliki dampak buruk. Untuk itu, orangtua harus membantu mencegahnya sedini mungkin.

Dosen Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran (Unpad) Risti Saptarini Primarti mengatakan, salah satu dampak negatif bernapas lewat mulut adalah timbulnya gangguan tumbuh kembang gigi dan rahang atau maloklusi.

Hal ini terjadi karena ada hubungan fungsi rongga mulut atau fungsi oral dengan tumbuh kembang gigi dan rahang.

“Fungsi bernapas, fungsi menelan, fungsi pengunyahan itu sangat berkorelasi dengan tumbuh kembang gigi dan rahang. Jadi kalau ingin gigi terlihat rapi berfungsi dengan baik, ketiga fungsi ini juga harus berjalan baik sejak lahir,” ujar Risti saat dihubungi Minggu (28/11/2021).

Untuk menghindari kebiasaan bernapas lewat mulut sejak bayi, posisi menyusu pun harus benar. Yaitu ibu dalam posisi duduk, bayi diletakkan pada pangkuan ibu, dan kepala bayi terletak pada posisi 45-70 derajat terhadap payudara ibu.

Jika posisi bayi telentang, dapat menimbulkan celah pada rongga mulut sehingga bayi dapat bernapas lewat mulut.

“Jangan sampai menyusui bayi dalam posisi bayi telentang atau tidur karena itu tidak baik dalam proses tumbuh kembang rahangnya,” ujar Risti.

Selain itu, jika bayi atau anak tidur dengan mulut terbuka, sebaiknya dibantu oleh tangan orang tua untuk mengatupkan mulutnya.

Dikatakan Risti, rongga mulut merupakan gerbang utama masuknya nutrisi. Rongga mulut yang sehat juga baik bagi tumbuh kembang anak. Untuk itu, penting mempertahankan fungsi rongga mulut yang ideal.

Selain penyimpangan tumbuh kembang rahang dan gigi, kebiasaan bernapas lewat mulut juga dapat mengakibatkan udara yang masuk tidak difiltrasi rongga hidung, mengganggu kualitas tidur, dan mengganggu sistem tubuh. Kualitas hidup anak pun dapat terganggu.

Selain faktor kebiasaan, bernapas lewat mulut juga dapat diakibatkan karena adanya hambatan di saluran napas atau gangguan anatomi, seperti bibir yang pendek atau ada penyumbatan di hidung.

Untuk itu, hambatan tersebut perlu ditangani terlebih dahulu oleh dokter THT.

Jika hambatan sudah diperbaiki, penanganan akan dilanjutkan oleh dokter gigi anak untuk menghilangkan kebiasaan bernapas lewat mulut.

“Jadi biasanya dokter gigi akan bekerja sama dengan dokter-dokter lain untuk merawat pasien ini,” pungkasnya.

Baca juga: Mana Lebih Baik, Bernapas Melalui Hidung atau Mulut?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.