Agung Setiyo Wibowo
Author

Konsultan, self-discovery coach, & trainer yang telah menulis 28 buku best seller. Cofounder & Chief Editor Kampusgw.com yang kerap kali menjadi pembicara pada beragam topik di kota-kota populer di Asia-Pasifik seperti Jakarta, Singapura, Kuala Lumpur, Manila, Bangkok, Dubai, dan New Delhi. Founder & Host The Grandsaint Show yang pernah masuk dalam Top 101 podcast kategori Self-Improvement di Apple Podcasts Indonesia versi Podstatus.com pada tahun 2021.

"Opo Depe, Opo Colote"

Kompas.com - 07/10/2022, 12:35 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

BAHAGIA. Itulah yang paling didambakan semua orang di dunia. Tua-muda, di desa maupun di kota, apapun latar belakangnya, setiap orang tentu berjuang sekuat tenaga untuk menggapainya. 

Ya, apa yang kita lakukan saat ini mencerminkan apa yang menurut kita bisa mendatangkan kebahagiaan.

Berbisnis agar makin cuan, melanjutkan pendidikan ke jenjang tertinggi agar makin prestis, mengejar kursi di Senayan agar makin terpandang, membeli barang bermerek agar dianggap kaya, mati-matian membuat konten agar menarik banyak pengikut, dan seterusnya. 

Baca juga: 11 Kunci Hidup Bahagia Menurut Sains

Sayangnya, kebanyakan manusia salah memahami esensi kebahagiaan itu sendiri. Alih-alih mendapati kebahagiaan, kebanyakan dari kita justru berakhir dengan kekecewaan, ketakutan, kelelahan, kerisauan atau kegalauan.

Mengapa itu terjadi?

Karena, entah diakui atau tidak, bahagia versi kita senantiasa diikuti syarat. Ada orang yang baru bahagia ketika mendapatkan cuan setriliun. S

ebagian orang baru bahagia ketika mendapatkankan 1 juta subscribers di YouTube. Tak sedikit yang baru bahagia ketika mampu mengunjungi destinasi wisata yang diimpikan. 

Bahagia itu tanpa syarat dan merupakan pilihan

Kita seringkali lupa bahwa bahagia itu sejatinya tanpa syarat. Karena bahagia itu merupakan pilihan.

Segala kejadian yang kita alami sesungguhnya bersifat netral. Kita sendirilah yang melabeli, menghakimi, atau memberikan penilaian. Itulah mengapa memiliki sikap yang bijak begitu mutlak diperlukan.

Kita tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi di luar diri kita. Satu-satunya yang bisa kita kendalikan adalah sikap kita. Kebanyakan orang "gagal" bahagia karena senantiasa melihat hasil akhirnya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.