Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

8 Perilaku Pengguna Aplikasi Kencan Online di Indonesia

Kompas.com - 01/03/2024, 20:12 WIB
Ulfa Arieza

Penulis

KOMPAS.com - Sejalan dengan perkembangan teknologi, mencari pasangan melalui aplikasi kencan online merupakan hal yang lumrah. Aplikasi kencan online pun semakin menjamur dengan beragam fitur dan kelebihan masing-masing.

Guna mengetahui perilaku pengguna aplikasi kencan online di Indonesia, maka lembaga riset Populix menggelar survei bertajuk Indonesian Usage Behavior and Online Security on Dating Apps. 

Baca juga:

Eileen Kamtawijoyo, COO & Co-Founder Populix, mengatakan, kemunculan aplikasi kencan online membentuk kebiasaan baru orang Indonesia dalam mencari pasangan. 

“Kehadiran aplikasi kencan online yang semakin menjamur di Indonesia memperlihatkan peran teknologi digital dalam membentuk kebiasaan baru untuk membangun hubungan, bahkan dalam mencari pasangan hidup,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, dikutip Jumat (1/3/2024). 

Berikut delapan perilaku pengguna aplikasi kencan online di Indonesia, berdasarkan hasil survei Populix bertajuk Indonesian Usage Behavior and Online Security on Dating Apps. 

Ilustrasi aplikasi kencan onlineShutterstock/New Africa Ilustrasi aplikasi kencan online

1. Usia pengguna paling banyak 

Mengutip laporan Indonesian Usage Behavior and Online Security on Dating Apps, responden dalam riset ini terdiri dari 1.165 orang. Dari jumlah tersebut, 63 persen setara 732 orang menyatakan mereka adalah pengguna aplikasi kencan online

Sementara, dari 732 orang yang menggunakan aplikasi kencan online, mayoritas yakni sebesar 52 persen adalah generasi milenial. Disusul Gen Z sebesar 44 persen dan Gen X sebanyak 4 persen. 

Melansir dari Britannica, istilah milenial mengacu pada seseorang yang lahir antara tahun 1981 hingga 1996. Beberapa sumber mengategorikan milenial berbeda satu hingga dua tahun, yakni kelahiran 1980 hingga 1995. 

2. Aplikasi paling banyak dipakai 

Riset Populix tersebut mengungkapkan, aplikasi kencan online yang paling banyak digunakan responden adalah Tinder dan Tantan. 

“Tinder dan Tantan muncul sebagai pilihan utama, menggarisbawahi popularitas mereka di bidang kencan online,” bunyi laporan Indonesian Usage Behavior and Online Security on Dating Apps. 

Berikut sembilan aplikasi kencan online yang paling banyak dipakai pengguna di Indonesia berdasarkan survei Populix. Meliputi, Tinder (38 persen), Tantan (33 persen), Bumble (17 persen), Omi (13 persen), dan Dating.com (12 persen). 

Kemudian, Badoo (10 persen), Taaruf ID (7 persen), OkCupid (7 persen), dan Muslima.com (5 persen). 

Baca juga:

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by KOMPAS Lifestyle (@kompas.lifestyle)

 

Ilustrasi aplikasi kencan onlineShutterstock/Kaspars Grinvalds Ilustrasi aplikasi kencan online

3. Alasan pakai aplikasi 

Menariknya, alasan utama generasi muda menggunakan aplikasi kencan online bukanlah mencari pasangan.

Tiga alasan utama menggunakan aplikasi kencan online yakni untuk mencari teman mengobrol (56 persen), penasaran mencoba (48 persen), dan mencari kesenangan (46 persen). 

Barulah alasan mencari pasangan (27 persen), mengisi waktu luang (22 persen), dan mengikuti teman (20 persen). 

“Pengguna tertarik pada aplikasi kencan terutama untuk tujuan kesenangan, rasa ingin tahu, dan interaksi sosial. Alasan ini menunjukkan keyakinan luas bahwa layanan ini tidak selalu mengarah pada pencarian pasangan hidup,” bunyi laporan Indonesian Usage Behavior and Online Security on Dating Apps. 

4. Waktu penggunaan aplikasi 

Survei Populix mengungkapkan, aplikasi kencan umumnya digunakan pada malam hari, setelah masyarakat selesai melakukan aktivitas keseharian mereka.

Sebanyak 45 persen responden memakai aplikasi pada pukul 18.00-21.00. Kemudian, 23 persen responden menggunakan aplikasi pada pukul 21.00-00. 

Adapula pengguna yang menggunakan aplikasi kencan online pada pukul 15.00-18.00 (10 persen), 09.00-12.00 (8 persen), 12.00-15.00 (7 persen), 00.00-06.00 (4 persen), dan 06.00-09.00 (3 persen). 

5. Perilaku setelah match 

Lewat survei tersebut, Populix juga mencari tahu perilaku pengguna setelah match di aplikasi kencan online. Ternyata, mayoritas pengguna aplikasi kencan online yang match, memilih untuk beralih ke chat personal. 

“Sebelum mengatur pertemuan tatap muka, pengguna sering kali mengecek media sosial atau terlibat percakapan, guna membangunan kedekatan dan kepercayaan  sebelum melangkah lebih jauh,” bunyi laporan Indonesian Usage Behavior and Online Security on Dating Apps.

Berikut lima tindakan yang dilakukan pengguna aplikasi kencan online setelah match

  • Beralih ke aplikasi chat personal (54 persen) 
  • Tetap terhubung melalui platform aplikasi kencan online (53 persen) 
  • Bertukar akun sosial media masing-masing (51 persen) 
  • Mengecek sosial media untuk memastikan keaslian pengguna (50 persen) 
  • Mempertimbangkan untuk segera mengatur pertemuan tatap muka (21 persen). 

Baca juga:

Ilustrasi aplikasi kencan onlineShutterstock/Antoniodiaz Ilustrasi aplikasi kencan online

6. Tingkat keberhasilan 

Berdasarkan laporan Indonesian Usage Behavior and Online Security on Dating Apps, sebanyak 50 persen responden yang memakai aplikasi kencan online ternyata berhasil lanjut ke tahap pacaran. 

Sayangnya, hubungan mereka tidak berlangsung lama kemudian putus. Sementara, 13 persen responden mengaku dalam tahap pacaran saat survei dilakukan dan 7 persen berhasil hingga jenjang pernikahan. 

“Hanya 20 persen pengguna aplikasi kencan online yang bisa menikah atau berkomitmen, menunjukkan bahwa pendekatan hati-hati diambil pengguna dalam proses pencocokan tersebut,” bunyi laporan Indonesian Usage Behavior and Online Security on Dating Apps.

Sedangkan, 30 persen responden pengguna aplikasi kencan online mengaku belum pernah sampai ke tahap pacaran. 

Baca juga:

7. Kejahatan di aplikasi kencan online 

Dalam survei tersebut, terungkap bahwa 409 responden pengguna aplikasi kencan online, mengaku mengalami kejadian tidak menyenangkan melalui platform tersebut. 

Jumlah responden yang mengalami kejadian tidak menyenangkan tersebut setara dengan dengan 56 persen, dari total 732 responden pengguna aplikasi kencan online yang disurvei.  

“Survei mengungkap 56 persen responden menyatakan pernah mengalami kejadian tidak menyenangkan di aplikasi kencan online,” ujar Eileen. 

Sejumlah kejahatan di aplikasi kencan online antara lain, penipuan profil (71 persen), penggunaan bahasa kasar atau tidak sopan (52 persen), dan pelecehan seksual (30 persen). 

Kemudian,perselingkuhan (23 persen), penipuan uang (22 persen), cyberstalking (21 persen), dan pencurian identitas atau doxing (21 persen). 

8. Rela bayar langganan premium 

Hasil survei menunjukkan bahwa 55 persen atau 405 orang, dari total 732 responden pengguna aplikasi kencan online yang disurvei, bersedia membayar biaya langganan premium

“Lebih dari setengah responden rela mengalokasikan anggaran hingga Rp 100.000 per bulan untuk berlangganan pada aplikasi kencan online premium,” ujar Eileen. 

Berdasarkan laporan Indonesian Usage Behavior and Online Security on Dating Apps, dari jumlah tersebut sebanyak 55 persen responden bersedia membayar kurang dari Rp 100.000 untuk langganan premium aplikasi kencan online

Kemudian, 37 persen rela membayar antara Rp 100.000 hingga Rp 200.000. Responden yang mau membayar Rp 200.000 hingga Rp 300.000 sebanyak 7 persen. 

Adapula sekitar 1 persen responden yang tidak keberatan mengeluarkan uang lebih dari Rp 300.000 untuk menjadi anggota premium aplikasi kencan online. 

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com