Kompas.com - 18/01/2018, 21:04 WIB
Ilustrasi GeorgeRudyIlustrasi
|
EditorLusia Kus Anna

KOMPAS.com - Informasi lengkap tentang seseorang yang kita taksir saat ini memang lebih mudah kita dapatkan melalui media sosial. Kita juga bisa menebak kepribadiannya dari semua jejaknya di internet. Itu sebabnya, di era digital ini media sosial menjadi tempat utama remaja mencari pasangan.

Sebuah survei yang dilakukan oleh Internet Matters di Inggris bahkan menyimpulkan bahwa remaja "zaman now" sudah merasa bahagia melakukan kencan online walau tidak pernah bertemu di dunia nyata.

Seprempat dari responden mengatakan bahwa mencari pasangan di internet lebih mudah. Dan saat hubungan tersebut sudah dibina, tujuh dari 10 mengatakan mereka komunikasi dengan pacar mereka kebanyakan dilakukan online.

Ternyata, cukup banyak yang merasa bisa lebih terbuka dengan orang lain saat online ketimbang saat berhadapan langsung di dunia nyata. Jumlahnya mencapai 41 persen remaja.

Survei juga menemukan bahwa sepertiga dari responden suka menghabiskan waktu mempercantik foto-foto mereka sebelum mengunggahnya ke media sosial.

Hampir setengahnya mengatakan bahwa mereka selalu atau sering mengunggah foto mereka sendiri dengan latar suasana bahagia.

Psikolog dan Duta Internet Matters, Dr Linda Papadopoulos menyampaikan sejumlah tips terkait yang ditujukan kepada para oeang tua.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut dia, temuan ini menunjukkan perubahan pola hubungan di era digital dan media sosial. Hal ini juga membawa tantangan baru bagi anak.

"Cinta pertama selalu berkesan. Bahkan pada era digital di mana kita kerap berbagi kehidupan kita secara online," kata Papadopoulos.

Menurutnya, dengan beragam manfaat positif dunia online, anak-anak tetap harus memiliki ketahanan menghadapi hal-hal buruk yang mungkin terjadi. Misalnya saja kemungkinan anak menjadi korban "cyber bullying".

Orangtua perlu mengajari anak kemungkinan positif dan negatif dari penggunaan media sosial kepada anak. Dengan begitu, orangtua tak hanya membantu mereka bisa menggunakan internet secara aman, tapi juga membangun daya tahan atau daya pegas terhadap setiap tantangan.

"Mereka juga punya kemampuan untuk mengatasi "masalah khas dunia online" dengan cara mereka sendiri," katanya.



Sumber nypost.com
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X