6 Penyakit yang Umum Terjadi Pada Orang yang Sering Begadang - Kompas.com

6 Penyakit yang Umum Terjadi Pada Orang yang Sering Begadang

Kompas.com - 15/05/2018, 08:10 WIB
Ilustrasi tertidurJohn Lund/Paula Zacharias Ilustrasi tertidur

KOMPAS.com - Kamu pasti pernah merasakan kurang tidur. Tidur hanya beberapa jam saja karena harus begadang mengerjakan tugas kuliah, tugas kantor, maupun alasan lainnya.

Keesokan harinya, kantuk mendera sepanjang hari, merasa lemas, kurang fokus, kurang bersemangat, atau mood menjadi tidak bagus sehingga mudah marah.

Banyak orang tidak sadar bahwa ternyata itu semua terjadi karena kurang tidur pada malam hari.

Tidak hanya berpengaruh pada keesokan harinya, kurang tidur juga ternyata dapat berpengaruh pada kesehatan dalam jangka panjang.

Kurang tidur berhubungan dengan penyakit kronis, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, dan penyakit jantung. Beberapa penelitian menunjukkan hubungan antara kebiasaan tidur dan risiko penyakit.

Baca juga: Dampak Kurang Tidur: Dari Cepat Pikun Sampai Depresi

Obesitas

Kurang tidur dapat meningkatkan risiko kenaikan berat badan. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang tidur kurang dari 6 jam per malam memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) lebih tinggi, dan orang yang tidur 8 jam per malam memiliki IMT paling rendah.

IMT merupakan alat ukur seseorang dikatakan mempunyai tubuh kurus atau gemuk berdasarkan tinggi badan yang dimilikinya. Semakin gemuk tubuhnya, semakin tinggi pula IMT yang dimilikinya.

Kurang tidur berhubungan dengan meningkatnya rasa lapar dan nafsu makan, sehingga menyebabkan kenaikan berat badan dan obesitas.

Saat tidur, tubuh memproduksi hormon yang membantu mengontrol nafsu makan, metabolisme energi, dan pengolahan glukosa. Tidur yang kurang membuat kerja hormon tersebut dan hormon lainnya terganggu.

Baca juga: Awas, Nafsu Makan Meningkat Saat Kurang Tidur

Kurang tidur berhubungan dengan hormon yang mengatur nafsu makan, yaitu kadar leptin lebih rendah (hormon yang merangsang sinyal kenyang ke otak) dan kadar grelin lebih tinggi (hormon yang merangsang sinyal lapar ke otak). Sehingga, kurang tidur membuat tubuh merasa lapar, bahkan jika kita sudah makan.

Kurang tidur juga dapat meningkatkan produksi hormon kortisol atau hormon stres dan juga berhubungan dengan meningkatnya produksi insulin.

Insulin adalah hormon yang mengatur glukosa dan penyimpanan lemak. Kadar insulin yang tinggi berhubungan dengan kenaikan berat badan, faktor risiko terjadinya obesitas.

Ilustrasi tidur di kantorCreatas Ilustrasi tidur di kantor
Diabetes melitus tipe 2

Kurang tidur terkait dengan risiko penyakit diabetes melitus tipe 2. Penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur dapat meningkatkan risiko penyakit ini karena mempengaruhi kerja glukosa dalam tubuh.

Penelitian yang melakukan pengurangan waktu tidur pada orang sehat dari 8 jam menjadi hanya 4 jam per malam menunjukkan bahwa tubuh mereka mengolah glukosa lebih lama daripada jika mereka tidur selama 12 jam.

Selama tidur, tubuh tetap mengolah glukosa untuk menjaga kadar gula darah.

Baca juga: Stres dan Kurang Tidur Buat Anda Tampak 2,5 Tahun Lebih Tua

Penyakit jantung dan hipertensi

Kurang tidur dapat berkontribusi pada kenaikan tekanan darah. Penelitian menunjukkan, satu malam saja orang yang mempunyai hipertensi (tekanan darah tinggi) kurang tidur, dapat menyebabkan tekanan darah mereka naik pada hari-hari berikutnya.

Dampak ini bisa berkembang menjadi penyakit jantung dan stroke. Orang yang sudah mempunyai hipertensi sebaiknya tidur malam dalam waktu cukup agar tidak memperparah penyakitnya.

Penelitian lain menunjukkan bahwa tidur terlalu sedikit (kurang dari 5 jam) dan tidur terlalu banyak (lebih dari 9 jam) dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner pada wanita.

Gangguan mood

Sehari saja kita kurang tidur malam dapat menyebabkan mudah tersinggung dan murung pada keesokan harinya. Masalah tidur jangka panjang, seperti insomnia dihubungkan dengan depresi, kecemasan, dan tekanan mental.

Penelitian yang dilakukan pada 10.000 orang menunjukkan bahwa orang dengan insomnia lima kali lebih mungkin untuk menjadi depresi daripada mereka yang tidak.

Penelitian lain melaporkan bahwa orang yang tidur 4,5 jam per malam menunjukkan perasaan yang lebih stres, sedih, marah, dan kelelahan mental.

Baca juga: Empati Berkurang Gara-gara Kurang Tidur

Orang yang tidur 4 jam per malam juga menunjukkan penurunan pada optimisme dan kemampuan sosialisasi.

Juga dilaporkan bahwa semua akibat dari kurang tidur ini dapat diatasi ketika orang tersebut kembali ke durasi tidur yang normal.

Ilustrasi kurang tidurTomwang112 Ilustrasi kurang tidur
Fungsi kekebalan tubuh menurun

Saat sakit, biasanya kita disarankan untuk tidur lebih banyak. Orang sakit yang tidur lebih banyak lebih mampu untuk melawan infeksi daripada mereka yang tidurnya kurang saat sakit.

Tubuh memproduksi lebih banyak sel imun untuk membantu melawan infeksi saat sakit. Kerja tubuh yang lebih keras ini menyebabkan tubuh kelelahan sehingga tidur diperlukan untuk tubuh memproduksi energi kembali.

Selain itu, kurang tidur juga dapat membuat tubuh rentan terhadap penyakit. Tubuh dan sistemnya memerlukan waktu istirahat untuk mengisi energi kembali setelah lelah melakukan banyak aktivitas seharian.

Tetapi, jika kita tidak memberikan waktu yang cukup bagi tubuh untuk istirahat, maka tubuh dapat menjadi lemah dan rentan terhadap penyakit.

Kesehatan kulit berkurang

Kurang tidur dapat menyebabkan kulit kurang kencang, menimbulkan garis halus dan lingkaran hitam di bawah mata pada banyak orang.

Hal ini terjadi karena kurang tidur membuat tubuh memproduksi hormon kortisol dalam jumlah berlebih dan menyebabkan tubuh memecah kolagen pada kulit sehingga kandungan kolagen pada kulit berkurang.

Hal ini tidak baik bagi kesehatan kulit. Kolagen adalah protein yang membuat kulit halus dan elastis.

Baca juga: Tidur Larut Malam Bumerang bagi Kesehatan

Bagaimana cara mengganti waktu tidur yang kurang?

Satu-satunya cara untuk mendapatkan kembali waktu tidur yang hilang adalah dengan lebih banyak tidur. Kita dapat mengganti waktu tidur yang kurang pada hari libur.

Cobalah untuk menambah waktu tidur malam satu jam atau lebih. Yang harus dilakukan adalah tidur ketika merasa lelah pada malam hari, dan biarkan tubuh untuk bangun pada pagi hari dengan sendirinya. Dengan begitu, kita akan mendapatkan waktu tidur normal secara perlahan.

Kurangi kebiasaan begadang pada malam hari jika memang tidak ada yang harus dilakukan. Selain itu, cobalah untuk mengurangi konsumsi minuman berkafein, terutama menjelang tidur.

Minuman berkafein mungkin membantu mengurangi rasa kantuk pada malam hari untuk beberapa jam, tetapi dampak negatifnya adalah dapat merusak pola tidur dalam jangka panjang.


Sumber

Close Ads X