Aktivitas Fisik Tinggi Saat Bekerja Tingkatkan Risiko Kematian - Kompas.com

Aktivitas Fisik Tinggi Saat Bekerja Tingkatkan Risiko Kematian

Kompas.com - 16/05/2018, 07:46 WIB
Ilustrasi tertidur di tempat kerjand3000 Ilustrasi tertidur di tempat kerja

KOMPAS.com - Bukan rahasia lagi jika olahraga memang bermanfaat bagi kesehatan mental dan fisik.

Sayangnya, riset terbaru mengungkapkan bahwa tingkat aktivitas fisik yang tinggi dalam pekerjaan bisa merugikan tubuh kita.

Dengan catatan, ini berlaku jika kita memiliki pekerjaan yang menuntut aktivitas fisik tinggi sepanjang waktu.

Para peneliti di Belanda menyebut hal ini sebagai “paradoks aktivitas fisik”.

Mereka mengatakan, olahraga mungkin hanya bermanfaat jika itu bukan bagian dari pekerjaan, dan dilakukan di waktu luang.

Jadi bukan aktivitas yang dilakukan mereka yang bekerja dengan tenaga manual - seperti pekerja konstruksi - yang dituntut untuk aktif secara fisik sepanjang hari.

Menurut Pieter Coenen, peneliti kesehatan masyarakat dari VU University medical centre, Belanda, aktivitas fisik di waktu luang memang baik untuk kita.

Sebaliknya, periset menemukan pekerjaan yang berkaitan dengan aktivitas fisik mampu meningkatkan risiko kematian dini pada pria hingga 18 persen.

"Orang-orang ini memiliki risiko kematian lebih awal daripada mereka yang tidak aktif secara fisik dalam pekerjaan mereka," paparnya.

Menurut Coenen, "paradoks aktivitas fisik" terjadi karena perbedaan jenis aktivitas fisik yang dilakukan saat waktu luang, dibandingkan dengan aktivitas yang dilakukan karena pekerjaan.

Berolahraga di waktu luang atau waktu yang memang disediakan membuat kita bebas mengatur intensitasnya dan bisa beristirahat saat merasa lelah.

Nah, hal ini tidak selalu bisa kita lakukan di tempat kerja, di mana seseorang tidak bisa berhenti sesukanya.

Baca juga: Olahraga Angkat Beban Efektif Redakan Gejala Depresi

“Anda bekerja selama delapan jam sehari dan memiliki waktu istirahat yang terbatas. Anda mengangkat barang, melakukan gerakan berulang, dan gerakan fisik lain," paparnya.

Kegiatan berkelanjutan minim istirahat ini dapat menghambat fungsi sistem kardiovaskular daripada meningkatkannya. Sama hanya dengan latihan kardio yang dilakukan  berlebihan.

Beda dengan olahraga lari 30 menit di luar jam kerja yang dapat meningkatkan kinerja jantung dan membuat kita merasa lebih baik setelahnya.

Untuk mendapat hasil yang akurat, peneliti menggabungkan hasil dari 17 riset dari tahun 1960 hingga 2010 terhadap 200.000 orang secara total.

Selain tingkat aktivitas fisik, periset juga meneliti faktor gaya hidup lain yang termasuk dalam berbagai studi, seperti minum alkohol dan merokok.

Berdasarkan kesimpulan periset, hasil tinjauan ini menunjukkan konsekuensi kesehatan yang merugikan terkait dengan aktivitas fisik kerja tingkat tinggi pada pria.

Menurut periset, temuan ini menunjukkan bahwa aktivitas fisik harus dibedakan antara aktivitas fisik waktu kerja dan waktu luang.

Meski begitu, perlu dicatat bahwa penelitian ini sifatnya terbatas dan tidak terlalu mengedepankan pertimbangan faktor sosial ekonomi.

Padahal, menurut Profesor Kay-Tee Khaw dari University of Cambridge, pekerjaan yang membutuhkan aktivitas fisik tinggi ini sangat ditentukan oleh pendidikan, kelas sosial, dan semua perilaku terkait kelas tersebut.

Tidak semua faktor tersebut diperhitungkan dalam riset ini, padahal sangat mungkin justru gaya hidup kelas sosial tersebut yang mempengaruhi risiko kematian dini.

Ia juga menambahkan, tanpa memperhitungkan aktivitas fisik yang tinggi, pekerjaan semacam ini mengarah ke tingkat kecelakaan yang tinggi dan kematian dini.

Selain itu, Khaw juga menyoroti apa yang dimaksud sebagai pekerjaan dengan aktivitas tinggi. "Ini merupakan pekerjaan di bidang konstruksi, di galangan kapal, dan di tempat lain di mana orang terus menerus bekerja," katanya.

Jadi bukan pekerjaan seperti menata rambut, menjadi pelayan restoran, kondektur bus, tukang listrik, dan lainnya yang dianggap lebih masuk kategori aktivitas sedang.

Nah, pelajaran yang bisa diambil dari penelitian ini adalah, beri waktu istirahat di sela-sela pekerjaan. Toh tidak ada orang yang lari marathon setiap hari bukan? 


Komentar
Close Ads X