DR. dr. Tan Shot Yen, M.hum
Dokter

Dokter, ahli nutrisi, magister filsafat, dan penulis buku.

Kurus, Gizi Buruk, Stunting: Wajah Ngeri Anak Indonesia

Kompas.com - 23/07/2018, 07:30 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

Tapi jika panjang badan 100 cm dengan berat badan 13 kg maka titik temunya ada di grafik berwarna merah, yang artinya minus 2 Standar deviasi dengan kata lain anak ini kurus.

Sedangkan panjang badan 100 cm dengan berat hanya 12 kg membuatnya jatuh di grafik hitam, artinya minus 3 Standar deviasi – atau sangat kurus.

Begitu pula dengan Tinggi Badan berbanding Umur. Anak perempuan dengan usia 1 tahun mempunyai panjang badan 75 cm dianggap normal (grafik bergaris hijau).

Tapi jika panjangnya hanya 69 cm, maka disebut pendek (grafik merah) dan pendek sekali jika hanya panjangnya 66 cm di usia 1 tahun (grafik hitam). Ini yang disebut stunting.

lenght for ageWHO lenght for age

Grafik pertumbuhan semestinya dimiliki oleh semua orang tua dengan anak balita. Bukan hanya dipahami petugas kesehatan. Jika kartu tumbuh kembang hanya memuat berat badan berbanding umur, maka hal ini baru menjelaskan tentang kondisi gizi saat itu (akut).

Yang justru perlu kita prihatinkan adalah gangguan gizi kronik yang ditunjukkan dengan pantauan grafik tinggi badan berbanding usia dan berat badan berbanding usia, seperti kedua contoh di atas.

Gangguan gizi kronik yang mengakibatkan anak mengalami gangguan tumbuh kembang tidak hanya terjadi pada orang miskin atau penduduk desa.

Anak-anak perkotaan yang naik turun mobil dengan baby sitter yang kemana-mana membawa wadah makanan mahal buatan luar negri pun mengalami risiko yang sama. Sebab dalam wadah mahal itu, isinya terlalu murah untuk tumbuh kembang: nasi putih, nugget, dan sayur sop yang porsinya hanya sekadar ‘basa-basi’.

Sang ibu hanya ketakutan anaknya tidak makan. Bukan tumbuh tinggi. Alhasil, anak kelihatan gendut, tapi tingginya masih di bawah rata-rata.

Inilah yang membuat angka obesitas anak balita di Indonesia mencapai 11.8%, hampir menyamai angka anak kurus. Padahal kesempatan tumbuh kembang hanyalah satu kali seumur hidup.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.