Menelisik Sejarah Sarung, Pakaian yang Kini Identik dengan Ma'ruf Amin - Kompas.com

Menelisik Sejarah Sarung, Pakaian yang Kini Identik dengan Ma'ruf Amin

Kompas.com - 10/08/2018, 15:36 WIB
Calon presiden Joko Widodo dan calon wakil presidennya Maruf Amin mendatangi Gedung Joang 45, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (10/9/2018).KOMPAS.com/FABIAN JANUARIUS KUWADO Calon presiden Joko Widodo dan calon wakil presidennya Maruf Amin mendatangi Gedung Joang 45, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (10/9/2018).

KOMPAS.com - Nama Ma'ruf Amin menjadi sorotan publik sejak resmi dinyatakan sebagai calon wakil presiden mendampingi calon presiden Joko Widodo untuk berlaga dalam Pemilihan Presiden 2019 mendatang.

Selain memiliki pengalaman yang panjang sebagai pemuka agama, wakil rakyat, dan sejumlah jabatan publik, Ma'ruf juga memiliki gaya berbusana yang khas.

Jika Jokowi gemar berpakaian kasual dengan sneakers bak anak muda, Ma'ruf justru tampil sebaliknya.

Sebagai sosok ulama, pria 75 tahun ini tampil dengan gaya khasnya sendiri.

Saat mendaftarkan diri bersama Jokowi ke kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jumat (10/8/2018) misalnya, ia tampil dengan sarung songket hijau bermotif, dan ikat pinggang coklat untuk mengeratkannya.

Selebihnya, Ma'ruf memakai dalaman putih, yang dipadu dengan jas dan syal panjang berwarna sama.

Sarung rupanya menjadi ciri khas pria kelahiran Banten 11 Maret 1943 ini.

Jika dilihat dari latar belakang Ma'ruf yang sempat menjabat sebagai Ketua NU wilayah Jakarta periode 1966-1967, wajar jika pria yang dikaruniai delapan anak ini identik dengan sarung.

Sebab, konon organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia ini memang dikenal sebagai kaum "sarungan".

Sebagian besar anggota kelompok pun memakai sarung sebagai kebiasaan.

Ormas ini juga yang dalam sejarahnya pernah menggunakan sarung sebagai gerakan politik identitas.

Baca juga: Kemeja Putih Bersablon dan Sneakers Lokal Temani Jokowi ke KPU

Lantas, kapan sebenarnya sarung dikenal di Indonesia?

Sarung diperkirakan muncul di Indonesia pada abad ke 14 yang dibawa oleh pedagang Arab dan India.

Berdasarkan catatan sejarah, sarung berasal dari Yaman yang terkenal dengan sebutan futah.

Seiring berjalannya waktu, sarung di Indonesia menjadi busana yang identik dengan budaya Muslim, dan digunakan sebagai busana sehari-hari.

Setelah Belanda menguasai Indonesia, gaya busana seperti celana panjang untuk pria, serta rok dan gaun untuk wanita mulai terkenal di Nusantara.

Kelompok pertama yang memakai pakaian ala Belanda ini adalah orang-orang Jawa yang mengenyam pendidikan barat, seperti para siswa STOVIA, sekolah pelatihan guru kolonial, dan sekelompok priyayi yang menjadi pegawai negeri berpangkat rendah.

Tren busana ini menyebar dengan cepat, karena banyaknya sekolah kolonial yang dibuka selama dekade pertama abad ke 20, tepatnya sejak penerapan politik etis Belanda.

Sejak saat itu, pria pribumi biasanya mengenakan celana panjang dengan topi.

Berdasarkan memoar yang ditulis Pangeran Djajadiningrat dari Kesultanan Banten, sampai sekitar tahun 1902, masyarakat Jawa masih memakai sarung, jas model Jawa dan kain tutup kepala yang disebut destar.

Mereka juga tidak memakai sepatu sebagai alas kaki, melainkan sandal kain. Namun, generasi tua tidak menyukai adanya perubahan dalam gaya berbusana ini.

Mereka beranggapan jika Jawa dan sarung adalah dua hal yang telah lama ada dan tak dapat dipisahkan.

Di sisi lain, banyak orang Jawa berusia muda yang mengenyam pendidikan Barat sehingga celana telah dianggap sebagai simbol kemajuan, kebebasan, dan modernitas.

Para pedagang pun tertarik dengan tren dan merasa pemakaian celana meringankan hubungan bisnis dengan orang Eropa dan Tionghoa.

Sekitar tahun 1910, seorang pengusaha dari Batam bernama Haji Muhammad menyatakan, sarung dan turban tak lagi efisien dipakai di tempat kerja.

Akhirnya, ia mengganti pakaiannya dengan celana panjang, jaket, kopiah dan sepatu.

Gaya berpakaian seperti itu diklaim mempermudah untuk berurusan dengan mitra bisnis yang sebagian besar orang asing.

Lambat laun, sarung pun dianggap sebagai pakaian yang ketinggalan zaman.

Namun, beberapa daerah di Jawa Timur seperti Gresik dan Pasuruan, masih menganggap sarung sebagai elemen penting dari pakaian pria.

Oleh beberapa pria, sarung masih digunakan ketika menghadiri momen tertentu seperti menghadiri shalat Jum'at, pesta pernikahan, atau khitanan.

Di beberapa daerah, pemakaian sarung masih dianggap sebagai simbol status. Meski sarung lebih sering dipakai di daerah Jawa Timur, hampir di setiap rumah penduduk Indonesia pasti menyimpan sarung.

Bagi umat Islam, sarung biasanya dipakai untuk beribadah. Beberapa orang juga memakainya sebagai selimut atau ayunan untuk bayi yang baru lahir.

Para pria yang melakukan patroli untuk menjaga keamanan desa di malam hari juga kerap memakainya sebagai penghalau dinginnya angin malam.

Biasanya pula, selain uang, makanan dan obat-obatan, masyarakat juga menyediakan sarung sebagai selimut untuk bantuan korban bencana.

Baca juga: Ini Profil Maruf Amin, Cawapres Jokowi

Saat tragedi kerusuhan antar etnis di Sampit dan Palangkaraya, Kalimantan tengah, misalnya, mantan Presiden Abdurachman Wahid menyumbangkan 8.000 sarung kepada para pengungsi.

Selain itu, sarung juga menjadi pakaian yang identik dengan momen membahagiakan seperti Idul Fitri.

Ini terbukti dengan meningkatnya angka penjualan sarung pada momen lebaran.

Sarung, yang dianggap sebagai pakaian kelas bawah, kini kembali diangkat oleh perangcang Indonesia sebagai identitas nasional lewat kreasinya.

Para desainer kenamaan Indonesia, seperti Iwan Tirta, Ghea Panggabean, Asmoro Damais, Afif Syakur dan Carmanita, telah menyesuaikan dan mendaur ulang banyak motif dari seluruh Indonesia.

Tak jarang, sarung juga menjadi dress code pada pesta mewah dan menjelma menjadi sesuatu yang eksotis dan modis.

Sarung nampaknya telah menjadi pakaian yang menyatukan seluruh Bangsa Indonesia.

Kini, pakaian ini dapat ditemukan di seluruh Nusantara dan dipakai oleh seluruh lapisan masyarakat.


Komentar

Terkini Lainnya

Close Ads X