Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

"Merajut Nusantara", Pameran Kebaya dari Aceh Hingga Papua

Kompas.com - 13/08/2018, 18:49 WIB
Nabilla Tashandra,
Wisnubrata

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Kebaya khas Jawa mungkin sudah tak asing bagi kita. Tapi bagaimana jadinya jika sebuah acara peragaan busana memamerkan kebaya yang mewakili sejumlah daerah di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua.

Desainer kebaya pengantin, Vera Anggraini (Vera Kebaya) akan memamerkan total 40 koleksi kebaya pada peragaan busana yang akan diselenggarakan 15 Agustus mendatang di Raffles Hotel Jakarta.

Ciri khas setiap daerah akan dipadukan dengan keanggunan kebaya dan aksesori yang mempercantiknya.

Enggan muluk-muluk, Vera sebagai pecinta budaya dan pekerja seni berharap setiap masyarakat tak lupa akan budayanya dan bangga dengan keberagaman suku di Indonesia. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan busana tradisional di hari pernikahan.

“Orang Papua, misalnya, biasanya memakai gaun. Apakah cocok atau bagus menggunakan kebaya? Mungkin dengan saya menunjukkan ini, suku-suku di Indonesia akan bangga dan mau menggunakannya,” kata Vera dalam konferensi pers di Raffles Hotel Jakarta, Senin (13/8/2018).

Baca juga: Mau Pakai Kebaya dan Kain Batik? Pahami Pakem dan Larangannya

Potongan dasar kebaya akan dibawakan dengan gaya sederhana, seperti kebaya encim, baju kurung, baju bodo, dan lainnya. Setiap busana akan fokus pada ornamen yang mendekati pakem setiap daerah.

Bahan yang dipilih cenderung beragam. Mulai dari brokat, beludru, tenun, hingga organdi tile.

Warna kebaya yang ditampilkan juga akan beragam dan tidak menonjolkan warna tertentu. Namun, warna tersebut akan disesuaikan dengan karakteristik setiap daerah.

Kebaya dari daerah Sumatra, misalnya, akan cenderung berwarna lebih terang dan kontras. Sementara Kalimantan cenderung menonjolkan warna alam.

Desainer kebaya pengantin Vera Anggraini dalam konferensi pers fashion show Merajut Nusantara di Raffles Hotel Jakarta, Senin (13/8/2018).KOMPAS.com/Nabilla Tashandra Desainer kebaya pengantin Vera Anggraini dalam konferensi pers fashion show Merajut Nusantara di Raffles Hotel Jakarta, Senin (13/8/2018).
Meski bertema tradisional, namun Vera berusaha memodifikasi koleksinya agar bisa diterima generasi muda.

“Saya mencoba sedikit bereksperimen dan berusaha menampilkan sesuatu yang berbeda. Tetap menunjukkan ciri khas daerah tapi juga mengakomodasi apa yang disukai generasi muda. Jadi cocok untuk zaman now,” tuturnya.

Baca juga: Pakai Kain dan Kebaya Setiap Hari, Mengapa Tidak?

Peragaan busana akan dibagi menjadi tiga sesi. Sesi Khatulistiwa akan menampilkan 13 koleksi kebaya dari daerah Indonesia Timur. Seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Papua, Toraja, Mamuju, Bugis, dan Kutai.

Sementara sesi Jawa Dwipa akan menampilkan 12 koleksi kebaya etnis Jawa.

Adapun sesi Swarnadwipa akan menampilkan 15 koleksi kebaya dari Aceh hingga Lampung.

“Ini untuk mewakili saja, kalau mau diambil setiap daerah akan banyak sekali karena semua daerah yang ada di nusantara menarik, karena ragam hiasnya punya karakteristik masing-masing,” kata Vera.

Peragaan busana ini didukung oleh sejumlah pelaku kreatif dan pecinta tradisi budaya pernikahan Indonesia. Seperti penata rias Irwan Riady, Adi Adrian, Anpasuha, Sugi Martono, serta penasehat pakem adat Mamie Hardo, Des Iskandar, Tarri Donolobo, Ida Zairinita, Aseng, Mumun, Kadek, Tio Gobel, dan nama-nama lainnya.

Seniman Djaduk Ferianto juga akan mengambil peran dalam tata music dan fotografer senior Darwis Triadi akan turut mengabadikan setiap karya busana yang ditampilkan.

Sundari Soekotjo, Intan Soekotjo dan Yayasan Keroncong Indonesia (YAKIN) juga akan turut meramaikan peragaan busana ini.

Djaduk Ferianto sebagai salah satu pihak yang turut mendukung acara ini menuturkan, Merajut Nusantara adalah proses kreatif yang memberikan interpretasi baru terhadap hal-hal yang ada di Indonesia. Apalagi dengan kondisi dunia perpolitikan tanah air yang carut marut, kerenggangan di Indonesia semakin terlihat.

Djaduk menilai Merajut Nusantara akan menjadi kado spesial untuk ulang tahun ke-73 RI.

“Persembahan tanggal 15 ini mungkin bukan sekadar pertunjukan fesyen, tapi peristiwa budaya,” kata dia.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com