Kompas.com - 25/02/2020, 10:02 WIB
Seorang dokter melakukan pemeriksaan DNA terhadap pasien di Skin Bandung Center, Senin (24/2/2020). KOMPAS.com/RENI SUSANTISeorang dokter melakukan pemeriksaan DNA terhadap pasien di Skin Bandung Center, Senin (24/2/2020).

KOMPAS.com – Memiliki bentuk tubuh ideal merupakan impian banyak orang. Tak heran jika mereka lalu melakukan banyak cara untuk menggapainya.

Salah satu cara yang dilakukan adalah diet dan berolahraga. Lantas, diet apa yang cocok, mengingat banyaknya jenis diet saat ini?

Spesialis Gizi Klinis Bandung Skin Center, A Firmansyah Wargahadibrata mengatakan, ada hal penting yang harus dilakukan seseorang ketika ia memutuskan untuk berdiet.

Baca juga: Diet Mediterania Bikin Usia Hidup Lebih Panjang, Apa Sebabnya?

“Cek kesehatan, terutama fungsi pencernaan. Ada food intolerance gak?” ujar Firman kepada Kompas.com di Bandung, Senin (24/2/2020) kemarin.

Sebab, jika tubuh mengonsumsi makanan intolerance berlebihan dan rutin, maka bisa mengakibatkan leaky gut, yang membuat bakteri dan toksin mudah masuk ke dalam tubuh.

Artinya, kalau pun orang tersebut bisa mengalami penurunan berat badan sesuai dengan yang diinginkan, belum tentu ia memiliki tubuh yang sehat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Karena orang selama ini berpikirnya jumlah (kalori) bukan jenis makanan yang dikonsumsi,” tutur dia.

Baca juga: Bercinta Bisa Bakar Kalori, Benarkah?

Untuk mengetahui kondisi kesehatan tubuh, kita harus melakukan medical check up. Selain itu, kita pun disarankan melakukan tes DNA atau nutrigenomic.

Nutrigenomic adalah pemeriksaan genetik yang menghubungkan antara jenis-jenis makanan dengan penyakit degeneratif.

Pemeriksaan ini bisa memperlihatkan intoleransi tubuh seseorang pada jenis makanan tertentu.

Dengan begitu, pola makan dan bentuk olahraga yang akan dianjurkan juga akan lebih cocok, sehingga bisa segera mendapatkan tubuh ideal, sehat, dengan gizi seimbang.

“Kalau sudah tahu kondisi tubuh, diet apapun bisa dilakukan. Tentunya, menyesuaikan dengan apa yang cocok dengan tubuh kita,” imbuh dia.

Baca juga: Perhatikan, Cara Membakar Kalori Saat Mendaki Gunung

Misalnya diet keto. Dalam pemeriksaan DNA akan diketahui, tubuh orang tersebut bisa mengonsumsi banyak lemak atau tidak. Jika tidak, maka bisa dicari alternatif lain.

“Kalau pengin pembentukan badan, badannya harus dibuat sehat dulu. Pencernaan dibuat sehat, baru kemudian pembentukan badan,” tutur dia.

Berdasarkan penelitian, pengurangan berat badan diet yang baik tidak drastis. Caranya dengan mengurangi jumlah kalori. Misal, low carbohydrate ataupun low fat.

Namun bukan berarti, tidak mengonsumsi karbohidrat ataupun minyak sama sekali. Diet yang sehat tetap mengonsumsi karbohidrat sebanyak 50 persen. Kemudian mengonsumsi lemak 20 persen.

“Minyak tetap perlu untuk proses detoksifikasi di hati, meminimalisir racun,” tegas dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.