Rajin Bangun Pagi Dapat Mengurangi Risiko Depresi?

Kompas.com - 28/02/2020, 09:08 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi
Editor Wisnubrata

 

KOMPAS.com - Bagi mereka yang rajin bangun pagi, berbahagialah. Berdasarkan penelitian, bangun pagi bermanfaat secara fisik maupun mental. Dengan bangun lebih awal, risiko untuk terkena depresi dapat berkurang.

Pola tidur, baik bagi yang terbiasa bangun pagi atau tidak, dapat memengaruhi terbentuknya kondisi mental tertentu seperti depresi. Sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat meneliti mengenai kaitan antara pola tidur dan depresi.

Hasilnya, orang yang rutin bangun pagi berisiko lebih rendah 12-27% terkena depresi dibandingkan dengan yang tidak rutin bangun pagi.

Sedangkan, orang yang terbiasa tidur terlalu malam dan bangun siang berisiko 6 persen lebih tinggi memiliki gangguan suasana hati (mood disorder) dibandingkan dengan orang yang tidak rutin bangun siang.

Kenaikan sebesar 6 persen tersebut dinilai tidak terlalu signifikan, sehingga pengaruh pola tidur terhadap risiko depresi kemungkinan tidak hanya ditentukan dari faktor seperti gaya hidup dan lingkungan.

Faktor lain seperti genetik dan jumlah paparan cahaya yang diterima seseorang juga dapat memengaruhi pola tidur yang mengarah pada risiko depresi.

Baca juga: Orang yang Semangat Bangun Pagi Lebih Sukses

Tidak hanya risiko depresi, orang yang tidur lebih larut dan bangun lebih siang juga memiliki kecenderungan untuk hidup seorang diri dan tidak menikah.

Pola tidur seperti ini juga berkaitan dengan kecenderungan kebiasaan merokok dan memiliki waktu tidur yang tidak teratur.

Meski begitu, tidak selamanya orang yang bangun siang pasti terkena depresi. Hanya saja, rajin bangun pagi memang memiliki banyak manfaat untuk kesehatan kita.

Untuk bisa mendapatkan manfaat bangun pagi, kamu bisa coba untuk mulai tidur yang cukup, yaitu 7-8 jam per hari.

Kita juga disarankan untuk lebih banyak menghabiskan waktu di luar ruangan, meredupkan lampu saat malam hari, dan mendapatkan paparan cahaya sebanyak mungkin di siang hari.

Baca juga: Nikmati 8 Manfaat Bangun Pagi bagi Kesehatan

Pola tidur sebagai gejala depresi

Tidak hanya berperan sebagai faktor risiko, beberapa pola tidur juga dapat dilihat sebagai gejala depresi.

Pola tidur dapat bervariasi setiap orangnya. Sehingga, untuk mengetahui apakah pola tidur merupakan suatu gejala depresi adalah dengan mengingat bagaimana pola tidur kita sebelumnya.

Jika saat ini kamu merasa lebih sulit tidur dari sebelumnya, bisa jadi ini merupakan gejala depresi yang perlu diwaspadai.

Kesulitan tidur selama beberapa malam umumnya bukan suatu masalah, terutama bila kita sedang merasakan stres. Namun apabila kondisi tersebut terjadi tanpa sebab tertentu, maka kita perlu lebih waspada.

Selain itu, terlalu banyak tidur juga dapat dilihat sebagai suatu gejala depresi. Jika kamu terlalu banyak tidur (lebih dari 8 jam sehari) dan merasakan suasana hati yang buruk atau sedih setiap saat, kamu perlu mewaspadai ini sebagai suatu gejala depresi.

Manfaat bangun pagi untuk kesehatan mental tentu tidak dapat disepelekan. Sebagai salah satu faktor risiko penyebab depresi, pola tidur yang tidak teratur sebaiknya diperbaiki.

Apabila mengalami gejala depresi yang berhubungan dengan pola tidur seperti di atas, konsultasikanlah kondisi dengan dokter, agar mendapatkan penanganan yang tepat dan efektif.

Baca juga: Mengapa Bangun Pagi Menjadikan Kamu Lebih Baik?



Sumber
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X