Alasan Banyak Orang Enggan Diam di Rumah Selama Pandemi

Kompas.com - 25/03/2020, 15:12 WIB
Kawasan wisata Kota Tua, Jakarta, terlihat sepi pengunjung, Senin (16/3/2020). Pemprov DKI Jakarta memutuskan menutup 24 tempat wisata di Jakarta mulai Sabtu (14/3/2020) hingga dua pekan ke depan sebagai upaya pencegahan menyebarnya virus corona (Covid-19). KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOKawasan wisata Kota Tua, Jakarta, terlihat sepi pengunjung, Senin (16/3/2020). Pemprov DKI Jakarta memutuskan menutup 24 tempat wisata di Jakarta mulai Sabtu (14/3/2020) hingga dua pekan ke depan sebagai upaya pencegahan menyebarnya virus corona (Covid-19).

KOMPAS.com - Hidup di tengah pandemi tentu terasa aneh dan tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Sebagian besar dari kita tidak pernah diminta untuk berkorban sebelumnya, seperti tinggal di rumah saja dan membatasi kontak dengan orang lain.

Gangguan mendadak dalam hidup kita itu bisa menimbulkan kecemasan. Dan bagi sebagian orang, mereka mengabaikan bahaya virus corona dan memilih melanjutkan aktivitas seperti biasa.

Kendati berulang kali pejabat kesehatan dan pejabat pemerintah meminta masyarakat tinggal di rumah untuk memperlambat penyebaran COVID-19, banyak orang tidak menaatinya. Mereka tetap keluar rumah, menghadiri acara, atau menghabiskan waktu di pusat berbelanjaan.

Pertanyaannya, mengapa orang-orang tidak menganggap serius ancaman virus corona? Psikolog mengatakan ada beberapa alasan --dan kebanyakan berasal dari sifat dasar manusia.

Orang-orang kurang menanggapi serius

Gordon Asmundson, profesor psikologi di University of Regina di Saskatchewan, sedang meneliti faktor-faktor psikologis yang terkait penyebaran dan tanggapan terhadap COVID-19.

Ia memecah masyarakat menjadi tiga kelompok berdasarkan tanggapan kita terhadap pandemi. Yaitu mereka yang menanggapi berlebihan, kurang menanggapi, dan mereka yang berada di antara keduanya.

Pengunjung melintas di dekat etalase tisu toilet yang kosong di sebuah supermarket di Pfastatt, Perancis, imbas panic buying yang disebabkan wabah virus corona, Senin (16/3/2020). Di tengah kepanikan wabah virus corona, selain kebutuhan pokok, tisu toilet menjadi salah satu barang yang paling diburu di banyak negara.AFP/SEBASTIEN BOZON Pengunjung melintas di dekat etalase tisu toilet yang kosong di sebuah supermarket di Pfastatt, Perancis, imbas panic buying yang disebabkan wabah virus corona, Senin (16/3/2020). Di tengah kepanikan wabah virus corona, selain kebutuhan pokok, tisu toilet menjadi salah satu barang yang paling diburu di banyak negara.

"Penanggap berlebihan" adalah pembeli panik yang telah menimbun persediaan makanan untuk berbulan-bulan.

Mereka takut, dan berharap dengan membeli tumpukan tisu toilet dapat mengurangi ketakutan itu.

Orang-orang yang berada di "tengah-tengah" melakukan apa yang diminta tanpa panik atau bertindak gegabah.

Halaman:
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Sumber CNN
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X