Kompas.com - 22/04/2020, 14:52 WIB
Ilustrasi cemas shutterstockIlustrasi cemas

KOMPAS.com - Gangguan kecemasan adalah jenis penyakit mental yang paling umum.

Menurut National Association on Mental Illness (NAMI), sebanyak 19 persen orang di AS mengalami gangguan kecemasan.

Penyebab paling umum adalah fobia (memengaruhi 8,7 persen orang AS), gangguan kecemasan sosial (6,5 persen), serta gangguan kecemasan umum (3,1 persen).

Baca juga: Kenali 8 Tanda Gangguan Kecemasan

Di Indonesia, lebih dari 8,4 juta orang mengalami gangguan kecemasan, menurut survei Global Health Data Exchange tahun 2017 yang dilansir dari pemberitaan Kompas.com.

Para ilmuwan telah lama memperdebatkan faktor alam dan pemeliharaan dalam perkembangan manusia dan penyakit.

Kini diketahui, genetika berperan penting dalam perkembangan kecemasan. Dan para peneliti telah menemukan, gen pada kromosom 9 berhubungan dengan kecemasan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tetapi pengalaman kita dalam lingkungan, termasuk pengasuhan keluarga dan peristiwa tertentu, juga merupakan faktor penting.

Kita lebih mungkin mengembangkan gangguan kecemasan, jika anggota keluarga yang lain juga memiliki gangguan tersebut.

Baca juga: Cara Mengendalikan Kecemasan di Tengah Pandemi Corona

Penelitian telah menunjukkan, gangguan kecemasan memiliki tingkat heritabilitas 26 persen untuk kejadian seumur hidup.

Tingkat heritabilitas ini berarti 26 persen dari variabilitas mungkin mengembangkan kecemasan, karena faktor genetika.

Jadi, sekitar seperempat risiko kita mengembangkan kecemasan berasal dari faktor genetik.

Faktor-faktor lain, seperti pengalaman traumatis atau penyakit fisik, dapat memiliki dampak lebih besar.

Bahkan, keluarga kita masih bisa berkontribusi terhadap kecemasan dengan cara lain di luar genetika.

"Keluarga menyediakan gen dan lingkungan. Bisa jadi gen, anggota keluarga yang memberi contoh terkait kecemasan, atau kombinasi keduanya."

Baca juga: Remaja di Era Media Sosial Dihantui Kecemasan

Demikian kata kata Elena Touroni, PsyD, psikolog dan direktur klinis My Online Therapy.

"Sulit untuk memisahkan gen dan lingkungan."

Satu studi tahun 2018 menemukan, anak dengan gangguan kecemasan tiga kali lebih mungkin mempunyai satu orangtua yang juga memiliki gangguan tersebut.

Para penulis penelitian menyebut, selain risiko genetik, perilaku "model" orangtua yang meningkatkan risiko anak mereka mengalami kecemasan sosial.

Misalnya, orangtua yang menghindari acara sosial mungkin secara tidak sengaja mengajari anak mereka melakukan hal yang sama.

Namun, seseorang yang dibesarkan oleh orangtua dengan kecemasan dapat mengurangi risiko mengembangkan gangguan kecemasan dengan belajar bagaimana mengelola kecemasan lewat teknik manajemen stres yang efektif.

Jika kita adalah orangtua yang mempunyai kecemasan, semakin awal kita mengajari anak tentang hal ini, maka akan semakin baik.

"Hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah menyadari fakta bahwa ada kemungkinan lebih tinggi kita cenderung cemas," kata Touroni.

"Buat upaya kesadaran untuk mempelajari teknik-teknik menenangkan pikiran, seperti perhatian."

"Selain itu, memiliki terapi psikologis akan membantu kita lebih memahami kecemasan orang-orang dalam keluarga, dan apa yang mereka tinggalkan membuat kita rentan terhadap hasilnya."

Baca juga: Mengenal 3 Jenis Olahraga untuk Atasi Kecemasan

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.