Kompas.com - 02/07/2020, 08:38 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi


KOMPAS.com - Rasa cemas merupakan salah satu emosi yang normal manusia, tetapi jika perasaan ini berlebihan mendominasi suasana hati maka hidup kita akan penuh kesedihan dan kemarahan.

Prevalensi penderita gangguan kecemasan di Indonesia, menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, mencapai 6 persen pada penduduk berusia 15 tahun ke atas.

Artinya, sekitar 14 juta penduduk di di Indonesia mengalami gangguan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala kecemasan dan depresi.

Bentuk kecemasan sendiri beragam, ada yang susah tidur, stres, hingga meyakini dirinya sakit padahal pemeriksaan medis tidak menunjukkan adanya gangguan.

Jika selama pandemi ini kita merasa gangguan cemas, cobalah untuk membatasi membaca media sosial. Selain itu, melakukan hobi yang menyenangkan seperti membaca, menonton serial favorit, bersepeda, atau berjalan-jalan di taman, juga bisa meningkatkan rasa tenang.

Praktisi mindfulness dan emotional healing, Adjie Santoso, menjelaskan kecemasan yang tidak diatasi dapat masuk ke alam bawah sadar dan menjadi "bom waktu".

"Sebenarnya tubuh kita sudah memberi kode kalau kita sedang cemas. Contohnya relasi dengan orang sekitar jadi tidak baik, sedikit-sedikit marah, rasa bahagia yang terasa hambar karena tidak ada rasa lega, hingga produktivitas turun," ujarnya dalam talkshow yang digelar secara virtual oleh Danone Aqua beberapa waktu lalu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Habis Karantina Timbul Kecemasan Sosial, Bagaimana Mengatasinya?

Sumber internal

Dalam mengatasi kecemasan, hal pertama yang harus dipahami adalah sumber kecemasan dan rasa galau sebenarnya berasal dari dalam diri kita sendiri.

"Cemas merupakan persoalan internal, dari dalam diri, bukan dari luar. Selama ini kita sering menuding kondisi di luar tubuh yang jadi penyebab cemas," kata Adjie.

Kehidupan kita memang serba tidak pasti dan hal itu menurut Adjie sebenarnya tidak membuat cemas.

"Yang membuat cemas itu adalah keinginan untuk memastikan hal-hal yang di luar kendali kita. Boleh saja pengen memastikan, tapi ingat tidak semua bisa kita kendalikan," ujarnya.

Baca juga: Mindfulness, Kiat Tetap Asyik di Tengah Lingkungan Kerja yang Toxic

Menyadari napas

Adjie memberikan beberapa saran untuk mengendalikan kecemasan melalui praktik mindfulness atau kesadaran pada saat ini.

Kita bisa melakukannya dengan "menemani" rasa cemas, yaitu tidak lari atau menghindar ketika pikiran yang penuh kecemasan itu hadir.

IlustrasiDeagreez Ilustrasi

"Memang ada rasa nyaman kalau denial, tapi sebenarnya itu makin meningkatkan rasa cemas. Kadang kita juga denial dengan mengalihkan diri dari hal-hal yang tidak sehat. Bahkan gaya hidup tidak sehat seringkali merupakan pelarian dari cemas," paparnya.

Kemudian kita bisa belajar menyadari napas (mindfulness breathing) sehingga perhatian kita tiadk melulu ke hal-hal yang jadi sumber kecemasan.

Menurut Adjie, menyadari napas bukanlah mengendalikan atau mengatur napas. Tetapi cukup menyadari momen saat ini.

"Saat melakukannya mungkin pikiran kita akan ngelayap ke sana-sini, ke masa lalu dan masa depan. Sadari saja pikiran itu, bersikaplah ramah dan menerima. Tanpa sadar selama ini kita sering tidak ramah dengan diri kita," katanya.

Kecemasan seringkali timbul karena kita kurang bisa beradaptasi, terlalu kaku dalam menghadapi perubahan.

"Kita maunya kondisi harus sesuai dengan keinginan kita. Harus mengejar kesempurnaan. Kekauan ini menyebabkan kita cemas. Kita dapat belajar dari air, yang karakternya cair, kalau alirannya lancar dia terus mengikuti, kalau ketemu batu, dia mencari celah," katanya.

Baca juga: Meditasi, Bagaimana Cara Memulai dan Melakukannya?



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X