Kompas.com - 16/07/2020, 21:22 WIB
Ilustrasi ruang kerja di rumah selama Work From Home. SHUTTERSTOCKIlustrasi ruang kerja di rumah selama Work From Home.

KOMPAS.com - Semenjak work from home diterapkan karena pandemi Covid-19, banyak orang bekerja berjam-jam dari rumah seakan tak ada lagi jam kerja pasti.

Sehingga, menjaga work-life balance (keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi) terasa semakin sulit.

Namun, menetapkan batasan antara pekerjaan dan waktu pribadi tetaplah penting untuk kesehatan fisik dan mental kita.

Baca juga: 6 Kunci Sukses Bekerja dari Rumah di Tengah Pandemi Virus Corona

Orang-orang yang merasa tidak puas dengan keseimbangan antara waktu pribadi dan pekerjaan, dua kali lebih mungkin memiliki kesehatan yang buruk, menurut studi baru yang diterbitkan di BMC Public Health.

Para peneliti menganalisis hasil 6th European Working Condition Survey, yang mencakup tanggapan dari 32.275 pekerja di lebih dari 30 negara.

Para wanita yang disurvei memiliki hubungan yang sedikit lebih kuat antara work-life balance dan kesehatan, sementara pria lebih cenderung tidak puas mengenai bagaimana pekerjaan mereka cocok dengan gaya hidup mereka.

Studi dari tim peneliti Jerman ini bukan yang pertama kalinya mengaitkan perilaku kerja dengan kualitas kesehatan.

Dalam meta-analisis yang diterbitkan di The Lancet pada tahun 2015, penulis studi menemukan orang yang bekerja lebih dari 55 jam per minggu memiliki peningkatan risiko stroke dibandingkan mereka yang bekerja pada jam normal.

Baca juga: Survei: Kerja dari Rumah Bisa Sebabkan Masalah Mental

Studi lain yang diterbitkan dalam The Journal of Vocational Behavior mempertimbangkan bagaimana keseimbangan pekerjaan dan kehidupan pribadi berkaitan dengan kesehatan mental, serta kepuasan kerja dan kehidupan.

Orang-orang yang melaporkan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan mereka cenderung tidak mengalami kecemasan dan depresi.

Namun, menetapkan batasan yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi seringkali lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.

Dua pakar karier menjelaskan cara untuk menyeimbangkan keduanya, mengutip dari Insider.

1. Tetapkan prioritas apa yang penting bagi kita

Jebakan pekerjaan terlalu banyak terjadi, kata pelatih karier dan kepemimpinan Kathy Caprino.

"Saya menyebutnya 'perfeksionis berlebihan' --melakukan lebih, tepat dan perlu serta mencoba untuk mendapatkan A + di semua itu," tulis Caprino dalam email ke Insider.

Agar tidak mengambil pekerjaan terlalu banyak, Caprino merekomendasikan agar kita menetapkan prioritas yang jelas.

Dia menyarankan kita untuk bertanya pada diri sendiri, "Apa yang paling penting bagi kita secara pribadi?" dan "Apa yang akan kita sesali saat kita berada di akhir hidup dan melihat ke belakang?"

"Bagi kebanyakan orang, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini bukanlah 'saya berharap saya bekerja lebih keras,'" tulisnya.

"Ini lebih tentang koneksi dengan orang lain, aktivitas fisik, waktu menikmati alam, mengalami lebih banyak hal menyenangkan, dan lain-lain."

Baca juga: Work from Home Membuat Waktu Kerja Terasa Lebih Lama

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X