Kompas.com - 15/01/2021, 14:42 WIB

KOMPAS.com - Tentu saja semua orang mengetahui cara bernapas karena kita melakukannya setiap hari secara otomatis. Namun, kemungkinan kita tidak banyak mengenali teknik-teknik pernapasan yang sehat dengan tepat.

Sebagian besar dari kita bernapas terlalu dangkal, terlalu cepat. Padahal, bernapas dengan lebih panjang, lambat, dan dalam membuat paru-paru menjadi lebih rileks.

Hal ini juga berlaku untuk menjaga kesehatan secara umum dan berlaku untuk mengelola stres.

Pernapasan yang lebih dalam membantu menghilangkan reaksi-reaksi yang melawan ketika kita sedang mengalami stres.

Bernapas dengan teknik yang tepat juga dapat mengirimkan sinyal ke otak untuk memperlambat denyut jantung dan menurunkan tekanan darah.

Baca juga: Teknik Bernapas yang Benar Saat Berolahraga

Mengenali berbagai macam teknik pernapasan yang tepat sangat penting bagi semua orang, mulai dari atlet hingga penderita asma.

Tetapi bagi orang-orang biasa, hanya ada beberapa hal yang perlu diingat seperti berikut ini.

1. Secara umum, hirup udara perlahan dan dalam melalui hidung. Menghirup udara yang sehat membutuhkan waktu sekitar lima detik.

2. Hembuskan napas perlahan melalui mulut dan kosongkan paru-paru sepenuhnya. Napas yang baik lebih berfokus pada membuang nafas menyeluruh daripada pada inhalasi.

3. Diafragma adalah lembaran otot di sepanjang bagian atas perut yang membantu menarik oksigen ke paru-paru dan mengeluarkan karbon dioksida.

Bernapas dengan baik akan membuat diafragma naik sehingga perut terasa menggembung. Tapi jika tidak merasakan otot ini bergerak, bernapaslah lagi lebih dalam.

4. Bernapaslah lebih dalam sebanyak enam atau delapan kali per menit. Sebagian besar dari kita bernapas lebih dari 20 kali semenit.

Baca juga: Ternyata, Latihan Napas Bantu Pengidap Covid-19 Redakan Gejala Menetap

Bernapas saat cemas

Pernapasan yang tepat sangat penting saat kita sedang mengalami rasa cemas yang begitu besar.

Ketika sedang cemas, banyak orang menggunakan pernapasan dada yang membuat kita dengan cepat mengembang dan mengempiskan dada.

"Untuk mendapatkan kembali pernapasan yang sehat selama periode kecemasan, berbaringlah di lantai dan letakkan tangan di dada."

Demikian dikatakan oleh seorang psikolog klinis di Washington & Jefferson College di Washington, Pennsylvania, Michael Crabtree, Ph.D.

Menurut dia, tangan digunakan sebagai alat ukur. Selain itu, cobalah untuk mengurangi jumlah gerakan dada, sambil terus bernapas secara normal.

Alih-alih menggunakan dada untuk menghirup dan menghembuskan napas, cobalah bernapas melalui diafragma atau perut selama lima menit.

Ketahuilah, bahwa pernapasan dada masih memiliki tujuan, tetapi hanya di saat gairah emosional atau tantangan fisik yang ekstrem saja.

"Sebagian besar orang Amerika menggunakan pernapasan dada karena mengembangkan naluri dari kondisi berbahaya," ungkapnya.

Secara fisik, bernapas dengan dada masih diperlukan, tapi hanya dalam keadaan stres atau kecemasan sehari-hari.

Baca juga: Pernapasan Dada dan Perut Memberikan Manfaat Berbeda Bagi Tubuh

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.