Kompas.com - 09/04/2021, 08:05 WIB
Ilustrasi SHUTTERSTOCKIlustrasi

KOMPAS.com – Hipertensi atau tekanan darah tinggi termasuk salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia setiap tahunnya.

Kategori hipertensi adalah tekanan darah berkisar 140/90 atau lebih tinggi. Kondisi ini bisa menjadi awal hadirnya berbagai penyakit serius seperti gagal ginjal hingga stroke, jika tidak dikendalikan.

Obat-obatan dan perubahan gaya hidup jadi lebih sehat adalah cara untuk mengendalikan hipertensi. Namun, kedua hal ini sulit dipatuhi penderita hipertensi. Lebih dari setengah penderita hipertensi tidak minum obat.

Di lain pihak, ada kondisi yang disebut dengan hipertensi resisten, yaitu kondisi ketika tekanan darah tidak bisa diturunkan walau sudah mengonsumsi lebih dari dua obat.

“Ada orang yang tekanan darahnya tidak bisa terkontrol meski sudah diobati lebih dari dua obat, tekanan darahnya tetap di atas 150/90,” kata dr.Faris Basalamah Sp.JP(K) dalam media diskusi yang diadakan Heartology Cardiovaskular Center (8/4/21).

Baca juga: Rekomendasi Olahraga untuk Cegah Hipertensi

Ia menjelaskan, ada beberapa kondisi yang memicu hipertensi resisten, antara lain aktifnya saraf-saraf simpatis di bagian ginjal.

“Di dalam pembuluh darah yang menyuplai ke ginjal, banyak saraf yang berperan dalam mengatur tonus kekakuan pembuluh darah. Kekakuan ini akan menyebabkan peningkatan tekanan darah,” ujar Faris.

Faktor lain adalah penyakit ginjal kronis, pengerasan pembuluh darah (aterosklerosis), atau pun gangguan ginjalnya.

Menurut Faris, jika pasien mengalami hipertensi resisten dokter akan mengidentifikasi apa yang menjadi penyebabnya.

Baca juga: 6 Cara Alami Atasi Hipertensi

Terapi ablasi

Saat ini sudah ada terapi ablasi untuk mengatasi hipertensi resisten yang disebabkan oleh saraf simpatis di ginjal, yakni dengan prosedur denervasi ginjal berbasis kateter.

“Tindakan ablasi menggunakan semacam kawat yang dimasukkan ke pembuluh darah di ginjal bertujuan untuk melemahkan peran syaraf di ginjal, sehingga kekakuan pembuluh darah menurun dan tekanan darah ikut turun,” papar dokter pertama yang melakukan prosedur ini di Indonesia.

Ia menjelaskan, prosedur ini sebenarnya sudah dikenal sejak awal tahun 2000-an, namun saat ini sudah mengalami penyempurnaan.

“Penelitian menunjukkan, setelah 3 bulan terjadi penurunan tekanan darah, setelah 6 bulan pascatindakan terlihat hasil yang menggembirakan, terutama penurunan tekanan darah di zona yang beresiko tinggi, yaitu di pagi hari,” ujarnya.

Selain orang yang memiliki hipertensi resisten, mereka yang mengalami fluktuasi tekanan darah atau hipertensi pagi, adalah kandidat yang tepat untuk prosedur ini.

Walau tidak bisa menyembuhkan hipertensi, namun menurut Faris prosedur ini dapat membuat tekanan darah lebih terkontrol, bahkan jumlah obat yang diminum pun bisa berkurang.

Baca juga: Pasien Hipertensi Belum Disiplin Konsumsi Obat



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X