KOLOM BIZ
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Experd Consultant

Kembali Bangkit Setelah Mundur Beberapa Langkah

Kompas.com - 24/07/2021, 08:00 WIB
Ilustrasi mental resilience. Shutterstock/Tanias CameraIlustrasi mental resilience.

DALAM beberapa waktu terakhir, kita semua merasakan tekanan yang semakin berat. Apalagi, saat ini, Indonesia sudah menduduki peringkat pertama angka penambahan kasus Covid-19 harian dibandingkan negara di belahan dunia lain.

Suara ambulans semakin sering terdengar. Berita tentang saudara, teman, dan kolega yang terpapar pun kian marak. Berita buruk lain datang dari mereka yang terpaksa kehilangan pekerjaan atau berkurang pendapatannya.

Pada saat sudah memiliki harapan untuk menuju kehidupan normal, kita kembali harus mengekang keinginan untuk keluar dan bertemu langsung dengan keluarga, teman, dan kolega. Kemampuan daya lenting kita untuk menjaga kesehatan mental agar mampu bangkit setiap kali mengalami kesulitan terus diuji.

Bagaimana kenyataannya?

Berdasarkan penelitian bertajuk “Resiliensi Orang Indonesia” yang dilakukan oleh panitia Dies Natalis ke-61 Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, rata-rata daya lenting orang Indonesia tergolong rendah.

Riset yang dilakukan terhadap 5.817 responden secara daring tersebut juga menemukan adanya gangguan yang dapat menurunkan kesehatan mental. Gangguan tersebut, antara lain, sulit berkonsentrasi, tidak merasa puas dengan apa yang dijalani, merasa kehilangan peran, sulit mengambil keputusan, dan menyelesaikan masalah.

Baca juga: Jaga Kesehatan Mental Anak di Masa Pandemi Melalui Hal Berikut

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dengan tekanan yang sedemikian besar, tak jarang orang mengalami burn out atau bahkan depresi. Sementara, bisnis tetap harus berjalan dan pekerjaan tetap harus diselesaikan. Diam dan menunggu tidak membuat periuk nasi terisi dengan sendirinya. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah “Bagaimana kita bisa tetap waras dan produktif”.

Menambah saldo emosi positif

Ada orang yang sudah terlatih untuk menghadapi kesulitan semenjak masa anak-anak. Namun, banyak juga orang belum berpengalaman mengalami situasi pahit.

Apa pun pengalamannya, setiap individu perlu mengembangkan kemampuan menanggapi situasi sulit sehingga dapat bangkit kembali. Mereka yang terlatih menghadapi situasi sulit sedikit demi sedikit tentunya akan memiliki mental resilience yang lebih kuat ketika menghadapi kesulitan besar.

Konon, orang yang resilient memiliki kecenderungan untuk melihat segala sesuatunya dari sisi positif. Oleh karena itu, membangun emosi positif menjadi hal penting untuk dilakukan di masa ini. Ibarat tabungan, kita perlu terus menambah saldo dengan emosi positif dan mengurangi emosi negatif yang menguras saldo energi kita.

Pada saat terpuruk, kita sering lupa memelihara diri sendiri. Kita kehilangan selera makan, tidak berolahraga, dan kurang tidur. Padahal, kegiatan fisik seperti berolahraga dapat membangkitkan hormon endorfin yang membuat kita semakin bersemangat dan positif dalam menghadapi berbagai tantangan.

Baca juga: 5 Tips Jaga Kesehatan Mental Mahasiswa di Tengah Pandemi Covid-19

Makan yang sehat dan tidur yang cukup juga sangat penting agar kita dapat tetap menjaga kesehatan fisik. Pada akhirnya, perasaan bahagia dan kepuasan akan bangkit dan tumbuh.

Mendekatkan diri pada Yang Ilahi lewat kehidupan doa dan kontemplasi atau melakukan meditasi akan sangat membantu untuk menenangkan kegelisahan diri yang terus bergejolak.

Eileen RachmanDok. EXPERD Eileen Rachman

Keluh kesah, gerutu, sikap skeptis, dan sikap negatif lainnya dapat ditekan saat kita melakukan kegiatan yang positif. Dengan memenuhi kebutuhan diri, energi kita bisa kembali ke situasi sebelumnya.

Kita bisa pula melihat hal-hal lebih yang dimiliki daripada melihat kekurangan. Dengan demikian, kita bisa menaikkan tingkat kepuasan, baik terhadap kehidupan, pekerjaan, maupun relasi kita dengan orang lain.

Alih-alih membandingkan diri dengan orang lain, mestinya kita lebih banyak mensyukuri apa yang dimiliki. Hal ini tentunya dapat menjadi pengaman emosi tatkala kita menghadapi kesulitan atau kegagalan.

Pentingnya dukungan sosial

Keberadaan dukungan sosial sangat membantu kita dalam kesulitan. Keluarga dan teman dekat dapat menjadi penyeimbang di kala kita merasa buntu menghadapi berbagai macam permasalahan.

Baca juga: Peneliti UI: Kartu Prakerja Kurangi Dampak Kesehatan Mental akibat Pandemi

Dalam kegiatan terapi kelompok, selain mendapatkan dukungan, tak jarang kita mendapati bahwa orang lain ternyata memiliki masalah yang jauh lebih besar. Dengan demikian, alih-alih terpuruk sendirian dalam masalah pribadi, kita malah tergerak untuk berbuat lebih bagi orang lain.

Mengambil kesempatan membantu orang lain dapat membuat kita merasa lebih kuat dan berdaya. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan kita dapat menemukan bakat terpendam yang berpotensi menjadi kekuatan baru. Riset menunjukkan bahwa penghargaan diri alias self-esteem sangat memengaruhi energi kita untuk bangkit kembali.

Mengubah perspektif

Banyak orang berpikir dan terpaku pada satu solusi dalam menghadapi masalahnya. Alhasil, ketika solusi itu tidak tersedia di depan mata, ia seperti menghadapi jalan buntu. Padahal, kita tahu bahwa "ada banyak jalan ke Roma", bukan? Kita perlu belajar membuat dan mengasah kemampuan pemecahan masalah.

Perspektif bahwa hidup merupakan rangkaian latihan pemecahan masalah membuat kita terus mencari cara penyelesaian masalah dan bergerak maju ke masa depan. Kita menjadi termotivasi untuk terus mempelajari pengetahuan dan keterampilan baru yang membuat kita semakin piawai dalam menghadapi berbagai tantangan.

Baca juga: Menonton Film Bencana Meningkatkan Ketahanan Mental Selama Pandemi

Kita juga dapat melihat masalah sebagai kesempatan baru untuk menemukan makna hidup. Seperti kata Frankl, seorang psikiater yang menjalani kehidupan di kamp Auschwitz pada masa Nazi, "We cannot avoid suffering, but we can choose how to cope with it, find meaning in it and move forward with renewed purpose.”

Contohnya, banyak yayasan kanker digerakkan oleh mereka yang merasakan kepedihan akibat kehilangan orang-orang terkasih karena penyakit tersebut.

Pahami juga bagaimana peran kita terhadap permasalahan tersebut. “Simply waiting for a problem to go away on its own only prolongs the crisis.” Sebaiknya, kita langsung mengambil langkah bila menemukan sedikit celah untuk penyelesaiannya. Hanya dengan mencoba dan bersikap proaktiflah kita dapat mencapai apa yang kita mau.

“Do not judge me by my success, judge me by how many times I fell down and got back up again.”? Nelson Mandela


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.