Kompas.com - 02/02/2022, 19:06 WIB
|
Editor Wisnubrata

KOMPAS.com - Citra tubuh atau body image dapat diartikan sebagai bagaimana kita memandang ciri fisik kita sendiri.

Sayangnya, terkadang masalah body image ini bisa berdampak negatif, terutama di kalangan remaja.

Tak jarang, seorang remaja merasa tidak percaya diri akan bentuk tubuhnya sendiri. Apalagi, jika mendapat body-shaming (celaan fisik) dari teman sekolah atau keluarganya sendiri.

Remaja rentan dipengaruhi oleh teman sebaya dan anggota keluarganya, sehingga cenderung meyakini pandangan orang lain terhadap dirinya.

Jika dibiarkan, kesehatan fisik dan mental remaja pun bisa terganggu dan mulai menyebabkan berbagai masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, OCD, dan gangguan makan.

Selain itu, body image yang buruk juga dapat menyebabkan perubahan suasana hati, isolasi sosial, dan hubungan yang disfungsional.

Bahkan, rasa takut ditolak dan tidak diterima karena penampilan fisik juga dapat meninggalkan luka emosional yang dalam dan mendorong seseorang untuk melukai diri sendiri atau bunuh diri.

Baca juga: Citra Tubuh Dapat Memengaruhi Kepuasan Seksual Wanita

Untuk itu, sebaiknya orangtua melakukan beberapa hal agar mencegah anak memiliki body image yang negatif, seperti berikut ini.

Dorong komunikasi terbuka

Terkadang remaja merasa bahwa orangtuanya tidak memahaminya dan hanya bisa memerintah saja.

Tak hanya itu, remaja juga akan membatasi percakapan dengan orangtua jika merasa tidak didengar dan dihargai.

Untuk itu, orangtua perlu tetap netral dan memberi remaja waktu untuk mencurahkan isi hatinya.

Lalu, dorong anak untuk selalu terbuka dan jangan pernah memotong saat anak berbicara dan mengungkapkan pendapatnya.

Jangan fokus pada penampilan anak

Beberapa remaja senang membeli pakaian dari brand atau jenis tertentu, dan orangtua sulit melarangnya.

Nah, penting bagi orangtua untuk tidak membuat ekspetasi terhadap penampilan anak.

Misalnya, terlalu fokus untuk mengingatkan bahwa anak bisa ditertawakan karena mengenakan suatu gaun dengan desain tertentu.

Lebih baik, diskusikan tentang pentingnya berpakaian demi kenyamanan, bukan penampilan.

Baca juga: Perilaku Body Shaming yang Sering Tak Disadari Akibatnya

Jangan memproyeksikan kecemasan diri sendiri pada anak

Jika kita tumbuh di lingkungan di mana penampilan adalah segalanya, bisa-bisa kita akan menurunkannya pada anak.

Misalnya, kecantikan identik dengan kulit putih, dan badan langsing dipandang lebih atraktif.

Ingat, meski dipandang sebagai keluarga yang atraktif dan tubuh indah adalah hal yang kita anggap penting, sebaiknya tidak memaksa anak memiliki pandangan yang sama dengan kita.

Lebih baik bicarakan tentang pentingnya kesehatan dan olahraga

Saat ini, banyak hiburan yang membuat remaja makin malas berolahraga, seperti smartphones, media sosial, platform streaming, atau video game.

Nah, tugas orangtua adalah mendorong anak remajanya untuk rutin berolahraga dan menjelaskan manfaatnya.

Dorong anak untuk memilih cabang olahraga baru atau melanjutkan olahraga yang dia sukai.

 

Kenali tanda BDD

Body dysmorphic disorder (BDD) adalah gangguan yang membuat seseorang cemas berlebihan terhadap salah satu bagian tubuhnya.

Biasanya, seseorang, terutama perempuan, akan khawatir saat melihat “kecacatan” di kulit, seperti bekas luka atau selulit.

Nah, orang yang mengalami BDD biasaya akan terobsesi dengan kecacatan ini. Terkadang, obsesi ini membuat mereka tidak bisa memikirkan hal lain.

Pada remaja, hal ini bisa mengganggu nilainya di sekolah. Jadi, kenali dari awal.

Hati-hati saat berbicara

Jauhi kalimat menyakitkan seperti, “Kalau kamu nggak langsing, nanti nggak ada yang mau lho,” atau “Gaun ini bakal lebih cantik kalau kamu langsing.”

Kalimat seperti ini dapat membuat perasaan remaja yang telah memiliki citra diri negatif makin memburuk.

Baca juga: Dapat Sebabkan Bunuh Diri, Ini Bahaya Body Shaming

Dorong konsumsi makanan sehat, bukan diet berlebih

Konsumsi makanan sehat harus selalu lebih diutamakan dibanding diet berlebih.

Terkadang, beberapa remaja melewatkan makan dan mengurangi porsi makannya secara drastis untuk menurunkan berat badan atau agar tetap langsing.

Namun, ini tak bisa dibiarkan.

Pasalnya, tubuh dan pikiran mendapatkan nutrisi dari makanan.

Jadi, kebiasaan makan yang buruk dapat menyebabkan kekurangan vitamin dan mineral penting yang krusial untuk perkembangan kesehatan fisik dan mental.

Dorong sikap mencintai diri sendiri

Menerima diri sendiri akan membuat remaja mencintai dirinya (self-love). Karena itu, remaja butuh diterima sebagai dirinya sendiri oleh orangtuanya.

Anak perlu didorong untuk merasa nyaman degan dirinya sendiri. Jadi, gunakanlah kata-kata penyemangat dan selalu ingatkan bahwa kita mencintainnya tanpa syarat.

Anak remaja yang memiliki citra diri negatif sangat membutuhkan orangtua yang suportif, bukan orangtua yang hobi menghakimi.

Sebagai orangtua, kita perlu membuat lingkungan yang aman, hangat, dan menerima anak apa adanya.

Kita juga bisa meminta pada anak untuk bercermin sambil mengatakan pada dirinya sendiri bahwa dia menerima dan mencintai tubuhnya, lengkap dengan semua kekurangannya.

Namun, jika citra diri remaja mulai mengganggu perkembangan dan kesehatan mentalnya, berkonsultasilah dengan ahli kesehatan mental sesegera mungkin.

Psikoterapi dan konseling akan sangat bermanfaat dalam membantu anak remaja menghadapi masalah-masalah tersebut.

Jika tidak ditangani, hal ini dapat mengubah kepribadian dan membuat anak merasa kurang percaya diri tentang dirinya sendiri.

Baca juga: Pria Juga Mengalami Masalah Body Image, Bagaimana Mengatasinya?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber indiatime
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.