Agung Setiyo Wibowo
Author

Konsultan, self-discovery coach, & trainer yang telah menulis 28 buku best seller. Cofounder & Chief Editor Kampusgw.com yang kerap kali menjadi pembicara pada beragam topik di kota-kota populer di Asia-Pasifik seperti Jakarta, Singapura, Kuala Lumpur, Manila, Bangkok, Dubai, dan New Delhi. Founder & Host The Grandsaint Show yang pernah masuk dalam Top 101 podcast kategori Self-Improvement di Apple Podcasts Indonesia versi Podstatus.com pada tahun 2021.

Jurus Melewati Quarter-Life Crisis

Kompas.com - 20/09/2022, 11:50 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

SETIAP tahunnya jutaan sarjana baru lahir. Namun, 5-8 tahun pertama dalam menapaki tangga karier tidaklah mudah.

Dalam praktiknya, mereka akan dihadapkan pada ketidakpastian, keraguan, kebimbangan, dan kegalauan yang tak berkesudahan.

Mereka mempertanyakan jalan mana yang harus mereka tempuh untuk memenangkan masa depan. Itulah periode yang penuh turbulensi. Fase ketika seseorang terombang-ambing di "persimpangan jalan".

Masa transisi yang membuat mereka merenungkan kembali terkait apa yang sebenarnya benar-benar mereka inginkan.

Situasi itu yang kita kenal dengan krisis seperempat baya atau Quarter-Life Crisis. Sebuah masa yang membuat anak-anak muda melontarkan beberapa pertanyaan mendasar seperti:

  • Haruskah bertahan dari tempat kerja sekarang?
  • Bisnis apa yang sebaiknya digeluti?
  • Apa jurusan S2 yang perlu diambil?
  • Haruskah bekerja sambil melanjutkan S2 di dalam negeri?
  • Beranikah resign dari pekerjaan untuk melanjutkan S2 di luar negeri?
  • Profesi atau industri apa yang sebaiknya dipilih?
  • Apakah sebaiknya mengambil KPR sekarang?
  • Kapan sebaiknya menikah?
  • Dan berderet pertanyaan tak berujung yang kerap kali ditanyakan pada mereka yang berusia 20-an sampai 30-an.

Krisis seperempat baya adalah istilah psikologi yang merujuk pada keadaan emosional anak-anak muda yang penuh dengan kekhawatiran, keraguan terhadap kemampuan diri, dan kebingungan menentukan arah hidup.

Krisis ini terjadi sebagai imbas dari tekanan dari dalam diri (internal) maupun pihak luar (eksternal) karena belum jelasnya tujuan hidup sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini, dan begitu banyaknya pilihan yang perlu diambil untuk menentukan "arah" masa depan.

Krisis seperempat baya adalah transisi dari masa kanak-kanak ke dewasa yang menjadi "kejutan" bagi banyak orang. Itu bisa membuat setiap orang merasa tidak berdaya, tidak tahu apa-apa, ragu-ragu, dan takut.

Akan tetapi, mengalami krisis seperempat baya sejatinya adalah hal yang lumrah. Karena merupakan proses untuk menemukan jati diri atau terlahir menjadi "pribadi yang baru".

Melewati krisis seperempat baya memang begitu menguras emosi. Sebagaimana sebagian besar milennial Indonesia, saya menghabiskan 5 tahun pertama bekerja dengan menjadi "kutu loncat" alias berpindah-pindah kerja sekaligus profesi.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.