Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 15/02/2024, 14:20 WIB
Nazla Ufaira Sabri,
Wisnubrata

Tim Redaksi

Sumber NY Post

KOMPAS.com - Depresi merupakan masalah kesehatan mental yang serius yang mempengaruhi jutaan orang di seluruh dunia.

Meskipun terapi dan obat-obatan sudah dijadikan pendekatan standar untuk pengobatan depresi, pendekatan alternatif semakin mendapatkan perhatian, termasuk penggunaan aroma.

Aroma, dengan kemampuannya yang unik untuk mempengaruhi suasana hati dan emosi seseorang, telah menjadi subjek penelitian yang menarik dalam bidang psikologi dan kesehatan.

Dilansir dari laman New York Post, Para peneliti dari University of Pittsburgh menemukan bahwa aroma lebih efektif daripada kata-kata dalam membangkitkan ingatan positif, yang dapat membantu penderita depresi keluar dari pola pikir negatif.

Baca juga: 6 Pilihan Aroma Wangi yang Bisa Membuat Kita Lebih Rileks

Para peneliti melibatkan 32 orang berusia antara 18 sampai 55 tahun yang menderita major depressive disorder (MDD) untuk mencium 12 aroma dalam stoples.

Jenis aroma yang digunakan untuk mengurangi depresi

Aromanya termasuk Vicks VapoRub, kopi bubuk, minyak kelapa, bubuk jintan, anggur merah, ekstrak vanili, umbi cengkeh, semir sepatu, minyak esensial jeruk, dan saus tomat.

Setelah mencium aroma tersebut, para ahli saraf meminta para partisipan untuk mengingat kembali memori tertentu mengenai peristiwa yang mereka alami, apakah itu baik atau buruk.

Kymberly Young, di JAMA Network Open, mengatakan bahwa orang depresi yang mencium aroma yang dikenalnya lebih mungkin untuk mengingat kembali nostalgia atau peristiwa tertentu.

Jika dibandingkan dengan kata-kata, aroma membangkitkan ingatan yang terasa lebih "hidup, mendalam, dan nyata."

"Mengejutkan bagi saya bahwa tidak ada yang berpikir untuk melihat daya ingat pada individu yang depresi dengan menggunakan isyarat aroma sebelumnya," kata Kymberly Young, penulis senior studi dan profesor psikiatri di Fakultas Kedokteran Universitas Pittsburgh, dalam sebuah siaran pers.

Young menjelaskan bahwa mengaktifkan bagian otak yang disebut amigdala, yang mengontrol respons "melawan atau lari", membantu dalam mengingat memori karena amigdala mengarahkan perhatian pada peristiwa tertentu.

Aroma kemungkinan memicu amigdala melalui koneksi saraf di bola penciuman, sebuah massa jaringan saraf yang terkait dengan indera penciuman.

Baca juga: Aroma Parfum yang Paling Cocok untuk Membangkitkan Perasaan

Ilustrasi perempuan sedang relaxing (freepik) Ilustrasi perempuan sedang relaxing (freepik)
Young mengatakan bahwa orang yang depresi melaporkan kesulitan dalam mengingat kenangan autobiografi tertentu.

Karena Young tahu bahwa aroma dapat memicu kenangan indah pada orang yang tidak mengalami depresi, ia memutuskan untuk mempelajari aroma dan ingatan pada orang yang mengalami depresi.

Young mengatakan bahwa meningkatkan daya ingat pada penderita depresi dapat membantu mereka sembuh lebih cepat.

"Jika kita meningkatkan daya ingat, kita dapat mendorong pemecahan masalah, pengaturan emosi dan masalah fungsional lainnya yang sering dialami oleh orang yang mengalami depresi," kata Young dalam rilisnya.

Young berencana untuk menggunakan pemindai otak di masa depan untuk membuktikan teorinya bahwa aroma dapat mempengaruhi amigdala pada orang yang mengalami depresi.

Baca juga: Tak Hanya Wangi, 7 Aroma Ini Bermanfaat untuk Kesehatan

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by KOMPAS Lifestyle (@kompas.lifestyle)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Sumber NY Post
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com