Kompas.com - 26/03/2020, 19:45 WIB
Ilustrasi meditasi di bawah pohon Dmytro ShestakovIlustrasi meditasi di bawah pohon

KOMPAS.com - Sebagian masyarakat di dunia kini sedang dilanda kekhawatiran menyusul kasus virus corona yang terus bertambah dari hari ke hari.

Ini tak hanya terjadi di satu-dua negara atau benua tertentu saja, melainkan di banyak negara di seluruh dunia.

Ketika kepanikan melanda, pernahkah kita menyadari bahwa salah satu hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mengendalikan kepanikan itu sendiri?

"Yang kita butuhkan saat ini adalah mengendalikan kepanikan," kata pemenang Nobel dan ahli biofisika Stanford, Michael Levitt, seperti dilansir dari LA Times.

"Dalam skema besar kita akan baik-baik saja."

Baca juga: Penyebab Lansia Rentan Terhadap Virus Corona dan Cara Melindunginya

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dalam sebuah analisa, Levitt melihat adanya tren penurunan kasus corona baru di beberapa negara dari waktu ke waktu.

Namun, secara lebih luas Levitt juga menekankan pentingnya menyerukan langkah-langkah kuat untuk memerangi wabah tersebut.

Misalnya, dengan secara tegas menerapkan pembatasan sosial, terutama larangan mengadakan pertemuan besar.

Sebab, virus corona sangatlah baru, penduduk tidak memiliki kekebalan terhadapnya dan vaksin kemungkinan baru bisa digunakan beberapa bulan lagi.

Di sisi lain, mendapatkan vaksinasi flu menurutnya juga penting untuk mengurangi kemungkinan rumah sakit dibanjiri pasien, karena virus corona tidak terdeteksi.

"Mungkin ini faktor (kasus membludak) di Italia, negara dengan gerakan anti-vaksin yang kuat," katanya.

Pemberitaan menurutnya juga berkontribusi besar terhadap kepanikan yang tidak perlu di masyarakat, karena berfokus pada peningkatan jumlah kasus kumulatif dan menyoroti para selebriti yang tertular virus tersebut.

Baca juga: Tingkat Kecemasan akibat Wabah Virus Corona Meningkat

Padahal, kasus penyakit lainnya yang juga menyebabkan kematian dengan angka tinggi menurutnya tidak hanya virus corona, namun hal itu tidak banyak diberitakan.

Levitt khawatir, langkah-langkah kesehatan masyarakat yang telah menyebabkan gangguan ekonomi yang besar ini justru dapat menyebabkan bencana kesehatan mereka sendiri, seperti kemiskinan dan keputusasaan karena kehilangan pekerjaan.

Ia menambahkan, virus dapat tumbuh secara eksponensial hanya ketika tidak terdeteksi dan tidak ada yang bertindak untuk mengendalikannya. Hal itulah yang terjadi di Korea Selatan bulan lalu.

Jadi, perlu deteksi dini yang lebih baik, tidak hanya melalui pengujian tetapi juga bisa dengan pengawasan suhu tubuh seperti diterapkan China, dan isolasi sosial.

Baca juga: Melawan Corona, Jangan Lupa Bahagia

Meskipun untuk sementara ini tingkat kematian akibat Covid-19 tampak secara signifikan lebih tinggi daripada flu, Levitt mengatakan masyarakat tak perlu khawatir.

"Ini bukan akhir dunia. Situasi sebenarnya tidak separah yang seolah terjadi," ungkapnya.

Mengendalikan kepanikan

Munculnya kepanikan di tengah wabah virus corona adalah hal yang memang bisa terjadi.

Sebab, kita semua berada pada masa penuh dengan infomasi tentang hal-hal yang terjadi dan akan terjadi selanjutnya.

Kita mungkin dengan mudah mengenali rasa kekhawatiran kita akan virus corona, namun belum tentu kita bisa dengan mudah mengidentifikasi tanda-tanda fisik dari serangan panik, yang sayangnya, mirip dengan gejala virus corona.

Baca juga: Kisah Dokter Tirta, Pengamat Sneaker yang Jadi Aktivis Pencegahan Corona

Seperti dilansir dari Metro.co.uk, ini bisa menjadi sebuah siklus. Kita takut pada virus corona, tubuh akan memprosesnya dan mengeluarkan gejala mirip virus corona, yang nanti akan kamu simpulkan sebagai gejala virus corona, kondisi ini akan memicu gejala kepanikan yang lebih parah, dan begitu seterusnya.

Beberapa gejala awal virus corona antara lain demam, batuk kering, sulit bernapas, dan sakit tenggorokan.

Sementara gejala serangan panik menurut National Health Service (NHS) di antaranya seperti detak jantung yang berdetak kencang, pusing, berkeringat, mual, nyeri dada, sesak napas, gejolak panas, menggigil, dan lainnya.

Dr Martina Paglia dari Klinik Psikolog Internasional menjelaskan kepada Metro.co.uk, bahwa kondisi ini biasa terjadi, di mana orang-orang merasakan gejala mirip virus corona karena kepanikan atas situasi di sekitarnya.

Baca juga: Kiat Waras Cari Hiburan dari Rumah di Tengah Pandemi Corona

Orang-orang tersebut sangat khawatir dengan ketidakpastian seputar virus corona di sekitarnya, sehingga mereka seolah meyakinkan diri mereka sendiri bahwa kemunculan corona hanya menjadi masalah waktu.

Sementara, Guru Besar Fakultas Psikologi UGM, Prof. Dr. Koentjoro menjelaskan kepada Kompas.com beberapa waktu lalu bahwa panik atau cemas memiliki peran yang besar dalam pengambilan keputusan dan tindakan seseorang.

Menurutnya, kepanikan yang terjadi saat ini disebabkan karena ketidaksiapan masyarakat menerima berbagai aliran informasi soal Covid-19.

"Secara psikologis itu menggambarkan ketakutan, bahwa kecemasan itu menular. Ketika ketakutan dan kecemasan itu menular, maka yang akan terjadi adalah orang menjadi semakin depresi, bingung, dan sebagainya," jelas  Koentjoro.

Baca juga: Apakah Mungkin Virus Corona Ditularkan Lewat Pakaian Kita?

Padahal, penting bagi masyarakat untuk memperkuat antibodi sebagai senjata utama menghadapi virus.

Jika sudah memahami konsep dasar dari virus dan tahu cara melawannya, kata dia, maka masyarakat tidak akan merasakan panik yang berlebihan.

"Dengan cara olahraga yang cukup, istirahat yang cukup. Sebetulnya itu, sehingga tidak perlu kita takut secara berlebihan. Selama kita sehat, itu tidak masalah. Vitamin E juga vitamin C itu saja sudah cukup," ujar dia.

"Obat apa pun juga, atau penyakit apa pun juga, kalau sudah dengan panik itu tidak akan baik. Oleh karena itu, yang pertama, jangan panik."

Oleh karena itu, diingatkan pula untuk mengikuti imbauan pemerintah agar selalu menjaga jarak minimal 2 meter ketika berada di ruang publik dan tidak keluar rumah jika tidak ada kepentingan yang mendesak.

Social distancing dan pembatasan sosial dianggap efektif untuk menekan meluasnya penularan virus corona.

Selain itu, rajin mencuci tangan dan selalu membawa hand sanitizer saat bepergian.

Baca juga: Kenali Gejala Virus Corona dari Hari ke Hari

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.