Kompas.com - 27/03/2020, 08:15 WIB
Ilustrasi kerja dari rumah. SHUTTERSTOCKIlustrasi kerja dari rumah.

KOMPAS.com - Sesekali, dalam kondisi tertentu, seperti anak sakit, orangtua akan meminta izin untuk bekerja dari rumah. Tapi, melakukannya selama berminggu-minggu di tengah penutupan sekolah sementara saat wabah corona, bukanlah hal mudah.

Pandemi virus corona telah ‘memaksa’ semua orang untuk #dirumahaja. Sekolah di berbagai Negara tutup sementara dan para pekerja diminta bekerja dari rumah pada saat yang bersamaan.

Ketika jam kerja dan jam sekolah di rumah ada di waktu yang sama, orangtua cenderung sulit fokus menyelesaikan pekerjaan, karena harus mendampingi anak belajar, terutama anak-anak yang berusia lebih kecil.

Baca juga: Yang Unik dan Seru Saat Harus Work from Home

Jika kamu mengalaminya, tenang kamu tidak sendirian.

Lalu, apa yang harus dilakukan orangtua, agar pekerjaan bisa diselesaikan dengan baik, anak-anak bisa belajar dengan lancar, sekaligus menjaga anak-anak dan anggota keluarga lain tetap sehat?

Berikut empat langkah yang bisa kamu lakukan agar semua berjalan baik dan kamu tak kehilangan akal sehat.

1. Berikan pemahaman dan empati

Elana Benatar, seorang terapis anak di Lotus Point Wellness di wilayah Washington DC mengatakan, bekerja dari rumah bersama anak-anak kita untuk jangka waktu yang tidak diketahui adalah wilayah yang belum dipetakan untuk keluarga.

“Penting untuk berbicara dengan anak-anak tentang apa yang terjadi, pada tingkat usia yang sesuai,” katanya.

Beberapa anak mungkin tidak mengerti apa yang sedang terjadi hingga ia tak bisa pergi ke sekolah dan melihat kamu membatasi mereka dengan cara yang tampaknya tidak masuk akal.

"Jelaskan kepada mereka bahwa kita semua berusaha menjaga orang-orang di sekitar kita," kata Benatar.

Kamu bisa jelaskan soal social distancing menggunakan cerita film, misalnya Elsa dan Anna dari film Frozen.

Dalam film ini, Elsa harus menjauh dari saudara perempuannya untuk menjaga saudara perempuannya tetap aman.

Cerita dalam film umumnya lebih mudah diterima oleh anak-anak.

Baca juga: Tips Work From Home untuk Cegah Penyebaran Virus Corona

2. Buat jadwal rutin dan terapkan

Katie Stone Perez, manajer program Xbox di Redmond, Washington berbagi cerita bagaimana dirinya harus bekerja dari rumah bersama dua orang anak, Emma (8) dan Elizabeth (10) sejak dua Maret lalu.

Sebagian orangtua sibuk mencari daftar aktivitas online yang berkaitan dengan pelajaran sekolah tanpa menghiraukan biayanya, sementara itu beberapa orangtua lainnya menghapus pembatasan pemakaian gawai. Sedangkan Perez mengaku berusaha menyeimbangkan keduanya.

Meski demikian, menurut Perez, teknologi di pagi hari cenderung menimbulkan masalah.

“Jika aku membiarkan anak-anak bersentuhan dengan elektronik sebagai aktivitas pertama mereka di pagi hari, maka mereka akan jadi sangat menyebalkan, karena mereka akan bertengkar sepanjang hari.”

Sebagai gantinya, Perez membuat dua jadwal yang harus dipatuhi setiap harinya, pertama jadwal merawat diri mulai dari bangun tidur, mandi, sarapan, tidur siang, bermain di halaman, dan sebagainya.

Kedua adalah jadwal bekerja, di mana di dalamnya termasuk mengerjakan tugas sekolah, membaca buku, atau menonton tayangan dokumenter yang menambah pengetahuan.

Atur waktu khusus belajar. Pada anak yang lebih besar, ini berarti waktu untuk menyelesaikan tugas sekolah.

Sedangkan, pada anak yang belum sekolah, kamu bisa menyediakan sesuatu yang menarik untuk dikerjakan anak, seperti lembar mewarnai atau origami untuk berkreasi.

Dengan demikian, kamu juga punya waktu untuk menyelesaikan pekerjaanmu.

“Di sore hari aku mengizinkan mereka bersosialisai dengan teman-temannya secara virtual,” kata Perez.

Selain itu menurut Perez, masa isolasi ini menambah banyak daftar keahlian anak-anak. Salah satunya mencuci piring.

“Ini benar-benar nyata. Jika selama masa belajar di rumah membuat mereka semakin mandiri, tentu ini hal yang luar biasa,” ujar Perez.

Baca juga: Work From Home Jangan Kerja Sambil Rebahan

 3. Berbagi tugas

Maira Wenzel dan suaminya sama-sama bekerja untuk Microsoft dan telah menjalani work from home selama dua minggu.

Mereka menyadari bahwa mereka bisa bekerja bersama di dalam satu ruangan , tetapi tidak saat keduanya menerima panggilan.

“Kami membuat ruang kantor kecil di rumah, tetapi itu di tengah ruang main anak,” kata Wenzel.

Muncul dalam video calls dikelilingi mainan memang bisa dimaklumi rekan kerjanya dalam situasi tersebut. Apalagi, kedua anaknya, baik yang masih duduk di TK dan yang sudah kelas 3 SD juga sedang menjalani kegiatan belajar di rumah.

Agar komunikasi dengan rekan kerja berjalan baik, maka Wenzel membuat kesepakatan dengan sang suami untuk berbagi tugas sesuai kalender kerja mereka.

Di hari pertama anak-anak belajar di rumah, Wenzel membuatnya seakan itu hari libur, dengan membiarkan anak-anak bermain video games dan bersantai sebelum mereka memulai rutinitas.

Tetapi, ia harus bertanggung jawan membuat anak-anak yang sedang berteriak, menjadi tenang dan terdiam ketika suaminya dalam panggilan konferensi.

“Sebenarnya hal seperti ini bisa terjadi pada siapa saja,” katanya.

Baca juga: Work from Home, Meja Setrika Pun Jadi Meja Kerja

4. Harapan yang realistis

Nicole Coomber, seorang profesor manajemen dan organisasi di Robert H. Smith School of Business di Universitas Maryland mengatakan, tidak ada keuntungan profesional dengan berpura-pura bahwa semuanya normal.

Kecemasanmu akan berkurang dan kamu bisa mengelola harapan orang- orang dengan lebih baik, jika kamu terbuka pada rekan kerja tentang apa yang terjadi.

"Kami tahu, ketika tim memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi dan perasaan aman, mereka akan tampil lebih baik," katanya.

"Tapi ketika kamu terbuka dengan rekan kerja, itu membantu mereka memahami bahwa mereka juga bisa jujur."

Nicole mempraktikkan ini pada Jumat lalu, ketika dia membawa keempat putranya, usia 4 hingga 9 tahun, pergi hiking, meskipun dia memiliki jadwal panggilan konferensi saat itu.

Dengan lebih dari 50 peserta panggilan konferensi yang hadir, dia menjadi model nyata bagi orang lain dengan mengakui bahwa dia sedang bersama anak-anaknya di luar ruangan.

Demikian pula, jujurlah dengan diri sendiri bahwa kita bukanlah sosok sempurna bagi anak- anak di rumah, kata Nicole.

"Guru anak-anak kita adalah seorang profesional," katanya. "Aku tidak bisa menjadi guru sekolah dasar dalam semalam. Itu tidak realistis bagi kebanyakan dari kita dan semua orang perlu bersyukur lebih banyak, baik di tempat kerja dan di rumah," pungkas Nicole.

 Baca juga: Pentingkah Tetap Tampil Cantik Saat Work From Home?



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X