Kompas.com - 08/04/2020, 08:19 WIB
Sekelompok perawat yang mengenakan pakaian pelindung diri, berpose bersama sebelum bekerja untuk shift malam mereka di Rumah Sakit Cremona, tenggara Milan, Lombardy, Italia, Jumat (13/3/2020). Selama diberlakukannya lockdown di Italia terkait meledaknya penyebaran virus corona di negara tersebut, sosok para tenaga medis banjir dukungan atas dedikasi mereka yang menjadi pahlawan dalam menangani serbuan pasien corona. AFP/PAOLO MIRANDASekelompok perawat yang mengenakan pakaian pelindung diri, berpose bersama sebelum bekerja untuk shift malam mereka di Rumah Sakit Cremona, tenggara Milan, Lombardy, Italia, Jumat (13/3/2020). Selama diberlakukannya lockdown di Italia terkait meledaknya penyebaran virus corona di negara tersebut, sosok para tenaga medis banjir dukungan atas dedikasi mereka yang menjadi pahlawan dalam menangani serbuan pasien corona.

Di kota-kota di wilayah Italia Selatan, penduduk meninggalkan makanan di jalan untuk mereka yang paling membutuhkan.

Stefano Marrone, sukarelawan di Kota Milan, mengatakan banyak orang Italia tersentuh oleh guncangan awal krisis dan meningkatnya angka kematian.

Baca juga: Kenali dan Atasi Cabin Fever Saat Isolasi Diri di Masa Wabah Corona

"Saya sepertinya akan mengingat guncangan di minggu pertama bulan Maret untuk waktu sangat lama. Orang-orang pergi ke tempat perbelanjaan dengan panik," kata dia.

"Tapi kita juga akan mengingat kekuatan orang-orang biasa yang bereaksi."

Marrone adalah bagian dari Voluntary Emergency Brigades, organisasi akar rumput yang bermitra dengan pemerintah Kota Milan dan LSM darurat Italia.

Organisasi ini mengoordinasikan para pemuda membawa bahan makanan dan obat-obatan bagi mereka yang terinfeksi, orangtua, dan mereka yang rentan terhadap virus di Milan -salah satu kota paling terdampak di Italia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sementara itu, Maria Maletta, seorang wanita tua yang tinggal sendirian di apartemennya di distrik Quarto Cagnino, menyebut inisiatif itu "ajaib".

Di usia mendekati 78 tahun, dan dengan beberapa kondisi kesehatan yang sudah ada, Maletta termasuk di antara orang paling berisiko mengalami komplikasi jika terkena Covid-19, dan dia disarankan untuk tetap di rumah.

Tetapi ketika kakinya terluka, dia butuh obat-obatan, tidak ada orang yang dapat mengantarkannya.

"Saya sendirian. Saya tidak punya siapa-siapa," katanya. "Saya selalu pergi sendiri, tapi sekarang segalanya berubah."

Halaman:
Baca tentang


Sumber Time
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.