Pulih dari Pandemi: Saatnya Berubah atau Punah

Kompas.com - 17/07/2020, 19:45 WIB
Ilustrasi virus corona, penularan virus corona di transportasi umum ShutterstockIlustrasi virus corona, penularan virus corona di transportasi umum

KOMPAS.com - Tidak ada yang menyangka hidup bisa berubah secepat wabah memporakporandakan segala sesuatunya.

Selama setengah tahun semua pokok pemberitaan bertahan dengan satu isu yang sama – bahkan hampir setiap malam siaran radio yang menampung tanggapan pendengar meracik topik itu-itu lagi; membuat saya ‘mblenger’ tapi mau tak mau masih tergoda untuk mengikuti terus.

Bagi saya, interaksi pendengar di radio bisa menjadi gambaran situasi riil yang tengah terjadi di masyarakat.

Makin hari bukannya makin melegakan, berbagai komen dan tanggapan yang saya ikuti belakangan ini justru kian bikin ngeri.

Baca juga: Bagaimana Kita Pasca Pandemi, Tergantung Kita Hari Ini

Saat ekonomi ingin dipulihkan, dan rakyat meronta ingin berada dalam situasi hidup ‘seperti dulu lagi’ hingga terjadi mispersepsi istilah ‘new normal’, lonjakan penularan Covid 19 kian menggila.

Dikira mereka new normal adalah ‘hidup baru’ seperti pasca prahara perceraian lalu menikah lagi – sesuai ucapan klasik: Selamat menempuh hidup baru.

Sementara di lembaran yang baru, semua kebiasaan berulang kembali: ketidakjujuran, kemalasan, hingga menggantungkan harapan pada kekasih baru yang dikira bisa menjadi sumber mata air kebahagiaan dan keberuntungan.

Protokol yang dijalankan sebatas aturan saja, menyisakan ‘celah-celah jalan tikus’ untuk dilanggar bahkan dipelintir sedemikian rupa.

Mulai dari cara memakai masker versi turun-naik: turun dari hidung hingga dagu, lalu dinaikkan lagi saat razia tiba.

Tak jauh beda dengan pemakaian helm yang lebih mirip topi asal nempel, boro-boro melindungi tengkuk, apalagi dikencangkan dengan kait yang benar.

Sama juga seperti supir taksi yang pernah saya lihat menarik sabuk pengaman seakan-akan dia sedang mengenakannya saat lewat di jalan protokol, tapi begitu masuk jalan kecil dilepaskan lagi dengan alasan sabuk itu ‘bikin begah’ – karena perutnya besar.

Baca juga: Covid-19: Ujian Kesehatan, Kesadaran, dan Kewarasan

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X