Kompas.com - 12/12/2020, 12:00 WIB

KOMPAS.com - Susu menjadi salah satu asupan yang akan melengkapi kebutuhan nutrisi anak, terutama si kecil di usia 1-3 tahun yang sedang dalam masa pertumbuhan.

Namun, orangtua perlu tahu, bagaimana menentukan susu yang baik untuk anak pada tahap usia ini.

Dokter anak sekaligus ahli gastro hepatologi Dr. Ariani Dewi Widodo, Sp.A (K), dalam live Instagram di akun Official Buumi Playscape memberikan penjelasannya.

Dia mengatakan, anak 1-3 tahun sudah membutuhkan susu sebagai tambahan nutrisi untuk melengkapi ASI.

Baca juga: 5 Cara Mencegah Sembelit pada Anak

“Kalau bayi ASI itu diberikan sampai dua tahun. Kemudian di luar itu, ada yang mulai memberikan susu tambahan di luar makanan."

"Ini perlu dikonsumsi anak dengan jumlah yang cukup sebagai pendamping,” ujar Dr.Ariani.

Sementara, susu yang baik untuk diberikan pada anak di tahap usia ini adalah susu yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, dan kalsium.

“Dan juga ada zat-zat mikronutrien tadi misalnya magnesium, seng, kalium, zat besi, vitamin-vitamin,” kata Ariani.

Kandungan susu

Lebih lanjut, Ariani mengungkapkan kandungan pada susu yang sangat dibutuhkan oleh pertumbuhan anak, yakni, protein.

Protein yang terkandung di dalam susu sapi terdiri dari 20 persen protein whey dan 80 persen kasein.

“Dari 80 persen itu ada beta kasein. Nah, beta kasein itu ada varian A1 dan A2. Macam-macam kualitasnya,” ujar Ariani.

Baca juga: Kenali Gejala Sembelit pada Anak dan Cara Mengatasinya

Saat ini susu dengan beta kasein A2 sedang banyak diteliti. Beta kasein A2 dihasilkan oleh sapi khusus yang kini pun sedang banyak dicari.

“Kenapa dicari karena, beta kasein A2 ini mudah diserap dan bisa mengurangi gangguan pencernaan yang ringan,” ujarnya.

Susu dan konstipasi

Ariani mengatakan, susu bisa menjadi salah satu faktor penyebab konstipasi atau sembelit pada anak.

Namun, perlu digarisbawahi bahwa sembelit pada balita tak selalu karena susu.

“Salah satunya karena alergi protein susu sapi. Tapi jangan dibalik, kalau pup keras pasti alergi, itu belum tentu. Karena bisa saja ada fungsi cerna yang masalah,” ujarnya.

Konstipasi karena susu bisa terjadi karena alergi dan adanya ampas yang tak bisa seluruhnya diserap oleh tubuh anak.

Baca juga: Pembuangan Tak Lancar Belum Tentu Konstipasi

Ariani lantas meminta pada orangtua untuk memperhatikan dan mencari tahu penyebab konstipasi lain pada anak.

Misalnya, asupan cairan dan juga serat yang dibutuhkan untuk mengatasi sembelit.

Memenuhi asupan cairan pada anak, bisa menjadi salah satu cara mencegah sembelit.

Ariani mengatakan, dalam sehari anak membutuhkan asupan cairan sebanyak 100 mililiter per kilogram berat badan.

Ia memberi contoh, jika berat badan anak sembilan kilogram, maka ia membutuhkan cairan hingga 900 mililiter per hari.

Cairan pada susu juga bisa dimasukkan dalam perhitungan asupan harian tersebut. Namun orangtua harus menghitung berdasarkan cairannya saja.

"Susu jangan dihitung full, karena ada bagian cairan dan ada bagian bukan cairan,” kata Ariani.

“Jadi air yang digunakan untuk melarutkan susu itulah yang dihitung ke dalam tambahan itu, jangan total akhir," imbuh dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.