Kompas.com - 19/01/2021, 13:20 WIB
Vaksinasi Covid-19 untuk tenaga kesehatan RS Siloam Kebon Jeruk, Jakarta, Kamis (14/1/20210). Vaksinasi tahap awal akan menargetkan 1,48 juta tenaga kesehatan yang dijadwalkan berlangsung dari Januari hingga Februari 2021. KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMOVaksinasi Covid-19 untuk tenaga kesehatan RS Siloam Kebon Jeruk, Jakarta, Kamis (14/1/20210). Vaksinasi tahap awal akan menargetkan 1,48 juta tenaga kesehatan yang dijadwalkan berlangsung dari Januari hingga Februari 2021.

KOMPAS.com - Selain pasien yang memiliki penyakit kronis, ibu hamil dan menyusui bukan prioritas penerima vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh Sinovac.

Hal ini disebabkan karena uji klinis vaksin Sinovac terhadap subjek ibu hamil dan menyusui belum banyak.

"Berbeda dengan vaksin lain yang diproduksi Pfizer dan Moderna itu memang sudah ada studi klinis awal fase satu, dua, serta tiganya untuk ibu hamil dan menyusui."

Demikian penuturan Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan dari Brawijaya Hospital Antasari, Dinda Derdameisya, SpOG kepada Kompas.com, Selasa (19/1/2021).

"Jadi, sudah terbukti kalau vaksin Pfizer maupun Moderna sudah aman bagi ibu hamil dan menyusui. Sementara Sinovac belum," sambung dia.

Baca juga: Penderita Gangguan Pencernaan yang Tidak Boleh Divaksin Covid-19

Oleh karena itu, menurut Dinda, pemerintah ingin menciptakan herd immunity dengan pemberian imun terhadap orang-orang lain yang lebih sehat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Herd immunity atau yang dikenal sebagai kekebalan kawanan merupakan antibodi dalam suatu populasi. Maka, untuk menciptakan herd immunity, yang dibangun adalah sistem imun orang-orang yang masuk ke dalam subjek vaksinasi Covid-19.

"Jadi bukannya tidak boleh diberikan, tapi tidak diberikan. Diutamakan yang tidak hamil dan menyusui terlebih dahulu," terangnya.

Dengan menciptakan populasi yang memiliki antibodi yang baik, diharapkan virus tidak mendapatkan inang.

"Sama seperti penyakit cacar dan flu juga begitu. Sistem imun orang-orang di sekitarnya dibagusin supaya virus tidak punya tempat untuk hidup karena semuanya kebal terhadap virus," jelasnya.

Baca juga: Vaksinasi Covid-19, Harapan, dan Pijakan Kaki

Di samping itu, Dinda juga mengingatkan agar orang-orang yang sudah vaksinasi Covid-19 untuk tetap menerapkan protokol kesehatan.

Sebab, vaksinasi membutuhkan waktu untuk membangun sistem imun yang kuat dan mencegah transmisi penularan virus yang mematikan ini.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Kompas.com Berita Vaksinasi

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.