Kompas.com - 10/06/2021, 08:30 WIB
Ilustrasi pelecehan seksual. Ilustrasi pelecehan seksual.

KOMPAS.com - Pemilik akun Twitter @quweenjojo menceritakan kronologi pelecehan seksual yang dialaminya sekitar tiga tahun lalu melalui sebuah utas. Utas tersebut kemudian viral di media sosial sejak Selasa (8/6/2021) malam.

Banyak warganet mengapresiasinya karena sudah berani "speak up" atau menceritakan tentang kasus tersebut. Apalagi kasus pelecehan seksual yang dialaminya menyangkut nama figur publik.

Padahal, menceritakan tentang kejadian pelecehan seksual dari segi korban sebetulnya tidak mudah.

Menurut psikolog klinis dari Personal Growth, Ni Made Diah Ayu Anggreni, MPsi, banyak korban pelecehan seksual memilih diam dan menyimpan ceritanya sebagai kejadian.

Para korban pelecehan seksual juga kerap mengalami depresi, kepercayaan diri rendah, trauma, ketakutan dan kesulitan dalam menjalin relasi intim.

Hal itu disebabkan karena banyak korban kerap merasa malu, bersalah, menyalahkan diri, serta takut dijauhi dan dikucilkan.

"Untuk dapat berbicara, bahkan pada orang terdekat, membutuhkan keberanian."

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Apakah ingin berbicara kepada satu kelompok atau seratus orang, dibutuhkan keberanian yang sangat besar untuk menceritakan kisah Anda, berani untuk terbuka," kata Ayu kepada Kompas.com, Kamis (9/6/2021).

Baca juga: Banyak Korban Pelecehan Seksual Pilih Diam, Ini Penjelasan Psikolog

Meski begitu, lanjut Ayu, bercerita sebetulnya bisa membantu korban pelecehan seksual menghadapi masalahnya dan melewati kerahasiaan yang selama ini kerap membuat mereka merasa terisolasi.

Ini dapat menjadi langkah awal untuk saling memahami dan mendukung, terutama dengan orang-orang tempat ia bercerita.

Beberapa korban pelecehan seksual juga menceritakan kejadian yang dialaminya di depan umum sebagai upaya untuk memberdayakan diri sendiri mendidik orang lain tentang kekerasan seksual, serta salah satu cara untuk menjadi model bagi para penyintas lainnya.

"Ini bisa memberdayakan untuk berbicara menentang kejahatan orang lain," ucap Ayu.

Ketika seseorang menceritakan kejadian pelecehan seksual yang dialaminya di publik, bisa jadi itu juga disebabkan karena kasus perlu ditindaklanjuti tapi tak kunjung mengalami perkembangan.

Maksud lainnya bisa pula ingin menolong orang lain dengan pengalaman serupa, memberi pelajaran pada pelaku, hingga membuat masyarakat lebih sadar akan ancaman seperti kasus pelecehan seksual.

Meski begitu, kita tak boleh memaksa korban untuk bercerita.

"Jika ingin speak up harus memastikan korban sudah lebih tenang dan berani untuk menceritakan."

"Jangan memaksa korban untuk menceritakan pengalaman tersebut karena mampu membuat dirinya semakin takut dan cemas," paparnya.

Orang-orang terdekat dapat memberi dukungan dan memastikan mendampingi prosesnya hingga korban pelecehan seksual tersebut sudah benar-benar siap menceritakan masalahnya.

"Ada cara lain untuk deal with it, yaitu terbuka dulu dengan orang terdekat yang dipercaya dan bisa mencari bantuan profesional untuk mendampingi," tutur Ayu.

Baca juga: Orang Dekat Jadi Korban Pelecehan Seksual, Bagaimana Menanggapinya?



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X