Kompas.com - 05/10/2021, 16:10 WIB

KOMPAS.com - Di beberapa negara, termasuk Indonesia, vaksinasi Covid-19 dimulai untuk anak berusia usia 12 tahun.

Vaksinasi untuk anak di bawah kelompok itu masih menunggu waktu lebih lama sampai hasil uji klinis menyatakan keamanannya.

Satu-satunya cara untuk melindungi anak yang belum divaksin adalah disiplin menerapkan protokol kesehatan bagi semua.

Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru, Reisa Broto Asmoro menyebutkan, pemerintah Indonesia masih terus mengkaji bersama badan otoritas yang berwenang mengenai keamanan vaksin COVID-19 untuk anak pada kelompok umur di bawah 12 tahun.

“Tapi pada dasarnya, kita mesti melindungi anak di bawah 12 tahun dengan dua jurus,” katanya.

Baca juga: Mengapa Vaksin untuk Anak Butuh Riset Lebih Lama dari Orang Dewasa

Pertama, memperkenalkan anak kepada Prokes yang ketat dengan belajar memakai masker dan sering cuci tangan. Anak sebaiknya dididik agar paham bahwa tidak semua ruang publik aman dan harus membatasi mobilitas hanya saat betul-betul perlu.

Kedua adalah memastikan anak sudah mendapat imunisasi dasar yang lengkap dan sesuai jadwal.

“Selain itu jaga asupan gizi dan kegiatan fisik sesuai grafik tumbuh kembang agar anak bertumbuh optimal sesuai usianya,” kata Reisa.

Selagi vaksin belum tersedia, menurut Reisa, cara utama melindungi anak usia di bawah 12 tahun adalah dengan cara memastikan orang-orang dewasa di sekitar mereka telah divaksinasi.

“Itulah yang disebut upaya kolektif, kekebalan komunitas. Terkadang, meski hanya 8 dari 10 orang yang tervaksinasi di dalam rumah, 100 persen penghuni rumah akan mendapatkan manfaatnya,” jelasnya.

Baca juga: Benarkah Antibodi Vaksin Sinovac Turun 6 Bulan Setelah Vaksinasi?

Ia mengharapkan, masyarakat segera vaksin, mempertahankan disiplin Prokes, dan menjauhi hoaks, sehingga pandemi akan terhenti oleh tangan-tangan warga sendiri.

Data WHO, kasus Covid-19 pada anak-anak di bawah usia 18 tahun relatif kecil, yakni 8,5 persen dari kasus yang dilaporkan.

Umumnya tanpa gejala atau gejala ringan karena reseptor ACE2 tempat SARS-CoV-2 menempel pada anak lebih sedikit dibandingkan dengan orang dewasa. Hanya sedikit yang mengalami gejala berat atau meninggal.

Namun, pada sejumlah anak, respons imun memicu sindrom peradangan multisistem yang bisa berujung pada kematian.

Karena itu, vaksinasi Covid-19 pada anak balita dan usia sekolah dasar—jika vaksin terbukti aman dan efektif—akan lebih baik untuk melindungi mereka.

Baca juga: 4 Hal yang Dipersiapkan Orangtua Saat Anak Sekolah Tatap Muka

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Kompas.com Berita Vaksinasi

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.