Kompas.com - 20/03/2020, 15:32 WIB
Katedral Duomo, Milan, Italia terlihat sepi pengunjung. nytimes.comKatedral Duomo, Milan, Italia terlihat sepi pengunjung.
Editor Wisnubrata

Hal ini membuat pemerintah negara itu memberlakukan lockdown secara nasional untuk menahan laju penyebaran virus.

Baca juga: Italia Lockdown karena Virus Corona, Sungai di Venesia Terlihat Jernih

 

Selain Italia, berikut ini beberapa negara yang saat ini sedang memberlakukan lockdown akibat pandemi COVID-19.

  • Spanyol (jumlah kasus positif per 18 Maret 2020: 13.716)
  • Malaysia (jumlah kasus positif per 18 Maret 2020: 673)
  • Perancis (jumlah kasus positif per 18 Maret 2020: 7.652)
  • Denmark (jumlah kasus positif per 18 Maret 2020: 1.044)
  • Irlandia (jumlah kasus positif per 18 Maret 2020: 292)
  • Belanda (jumlah kasus positif per 18 Maret 2020: 2.051)
  • Belgia (jumlah kasus positif per 18 Maret 2020: 1.468)

Apakah lockdown ampuh untuk menahan laju penyebaran virus corona?

Jika melilhat cerita dari Tiongkok, sepertinya memang ampuh. Toh, lockdown sebenarnya adalah perluasan dari social distancing, dalam skala yang jauh lebih besar dan dampak yang jauh lebih luas.

Menurut catatan Bloomberg, per 19 Maret 2020, Provinsi Hubei melaporkan tidak ada kasus infeksi COVID-19 baru di wilayahnya. Provinsi Hubei merupakan area pusat penyebaran virus corona, dengan Wuhan sebagai ibukotanya.

Sebaliknya, secara nasional, angka infeksi virus corona di Tiongkok masih bertambah sebanyak 34 kasus. Namun, sebagian besarnya merupakan imported case atau berasal dari orang yang baru pulang dari luar negeri.

Lantas, apakah ini satu-satunya jalan? Jawabannya adalah belum tentu. Negara seperti Singapura dan Korea Selatan sejauh ini tidak memberlakukan lockdown dan mereka tetap mampu menahan laju persebaran dengan tingkat kematian akibat COVID-19 yang rendah.

Namun, tentu kedua negara tadi juga melakukan pencegahan tersendiri. Korea Selatan misalnya, menjadi negara dengan jumlah pemeriksaan COVID-19 paling banyak per kapita di dunia. Negara ini sudah melakukan tes virus corona pada kurang lebih 290.000 orang warganya.

Baca juga: Cerita Survivor Corona Asal Korea, Sempat Pede Tak Bakal Terinfeksi

Cara ini rupanya efektif untuk menekan angka penyebaran. Sebab, banyak kasus bisa diketahui sejak dini melalui langkah ini. Sehingga, pasien positif tersebut tidak sempat menyebarkannya ke orang lain.

Dari data yang dilansir Reuters, jumlah pasien baru positif corona di Korea Selatan per 18 Maret 2020 turun drastis menjadi 93 orang per hari, setelah dua minggu sebelumnya menyentuh angka 909 infeksi baru per hari.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.