Kompas.com - 24/02/2021, 13:19 WIB
Ilustrasi bisnis baju muslim. SHUTTERSTOCK/ODUA IMAGESIlustrasi bisnis baju muslim.

KOMPAS.com - Selain makanan, bisnis hijab atau baju muslim mungkin menjadi salah satu bisnis yang saat ini sering kita temui di berbagai platform.

Faktanya, peminat baju muslim, atau yang juga dikenal dengan istilah modest wear, tak hanya dari kalangan perempuan berhijab saja tetapi juga bisa dikenakan secara luas sebagai busana yang berpenampilan sopan.

Meski peluang bisnis baju muslim cukup besar, namun pesaingnya tentu juga banyak. Jadi, jika kamu ingin berbisnis baju muslim, perlu dilakukan sejumlah strategi agar bisnismu bisa dikenal, bertahan lama dan sukses.

Setidaknya ada empat tips yang bisa diterapkan jika kamu ingin sukses dalam berbisnis baju muslim dan bisnis lainnya di bidang mode:

1. Mengikuti perkembangan tren
Kebutuhan pasar akan busana, termasuk baju muslim, sangatlah dinamis.

Jika dulu penjual bisa mempersiapkan koleksi busananya sejak jauh hari dan berlaku untuk periode tertentu, kini penjual harus lebih mampu beradaptasi dan mengikuti perkembangan tren dalam melahirkan koleksi busananya.

Penjual harus berjuang untuk berkompromi dengan selera pasar agar bisnisnya bertahan.

"Saat ini yang laku di pasaran perubahannya sangat cepat, makanya disebut sebagai fast fashion."

Demikian diungkapkan oleh Founder dan CEO Elcorps, Elidawati Ali Oemar pada acara peluncuran "Modest Fashion Founders Fund (ModestFFFUND) 2021" yang diselenggarakan secara virtual, Selasa (23/2/2021).

Ia berpesan, ketika menemui kebuntuan dan kegagalan ketika berbisnis baju muslim, jangan putus asa.

Usahakan untuk terus siap berubah dan beradaptasi mengikuti tren pasar sambil terus memperbaiki bisnis yang dijalankan.

Baca juga: Menengok Tren Busana Muslim, dari Polosan ke Tie Dye

Ilustrasi baju muslim yang mengikuti tren.SHUTTERSTOCK/HAFIZUSSALAM BIN SULAIMAN Ilustrasi baju muslim yang mengikuti tren.
2. Memanfaatkan data
Sekadar mengikuti tren pasar saja belum akan memberikan kita hasil maksimal dalam menjalankan bisnis baju muslim atau pun jenis bisnis lainnya.

Oleh karena itu, Elidawati menyarankan para pelaku bisnis untuk juga banyak mengumpulkan data dan menganalisa kebutuhan pasar berdasarkan data-data tersebut.

Sehingga, ketersediaan koleksi baju muslim dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasar.

Saat ini, data sangat mudah didapatkan dan bahkan sudah tersedia cukup lengkap di internet.

"Data itu bisa menjadi pedoman. Kalau data-data ini tidak dihiraukan, sering kali akan buntu di inventory," ucapnya.

Baca juga: Gamis Masih Jadi Model Busana Muslim Populer

3. Memanfaatkan platform online
Saat ini ada banyak platform online yang dimanfaatkan sebagai tempat memasarkan produk atau penunjang.

Meski jualan secara online sudah sangat umum, namun kenyataannya tidak sedikit penjual yang masih berjualan secara offline.

Menurut Direktur Akses Pembiayaan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Hanifah Makarim, enggan beralih ke penjualan secara digital akan membuat pelaku bisnis, termasuk bisnis baju muslim, akan tertinggal.

Terutama bagi pelaku-pelaku bisnis yang sebelumnya hanya berjualan secara offline saja.

Bukan berarti penjualan harus 100 persen dilakukan secara online. Namun, penjualan online ini bisa sebagai penunjang.

"Nanti pada saat situasi kembali normal (dari pandemi), penjualan bisa tetap berjalan. Offline dan online tetap bisa berjalan berbarengan," kata dia.

Baca juga: Penjualan Turun, Perajin Batik Lasem Bertahan Lewat Online

4. Menjaga engagement
Nah, jika sudah beralih ke penjualan online atau memang memulainya dari online, itu adalah langkah yang baik. Tapi, tidak cukup hanya di situ saja.

Menurut Co-Founder #Markamarie & Modest Fashion Weeks, Franka Soeria, memerhatikan engagament atau keterikatan antara penjual dan konsumen melalui platform online juga menjadi hal penting.

Jika dulu berbisnis busana cukup dengan menyediakan foto-foto produk yang cantik, kini penjual harus mau berinteraksi secara aktif dengan konsumen. Misalnya, melalui media sosial atau situs marketplace.

Lebih baik lagi jika konsumen loyal sebuah brand bisa memiliki wadah khusus seperti komunitas karena akan membantu menggerakkan keberlangsungan sebuah bisnis, termasuk bisnis baju muslim.

"Penting punya tim yang sangat melek dengan cara-cara baru ini. Kita harus ngobrol, dengerin, menjadi teman (konsumen), baru jualan."

"Jadi bukan sekadar jualan, pasang di marketplace saja," kata dia.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X