Kompas.com - 22/11/2021, 16:32 WIB
Mengajarkan anak rasa empati merupakan skill yang penting bagi perkembangan emosional anak. SHUTTERSTOCKMengajarkan anak rasa empati merupakan skill yang penting bagi perkembangan emosional anak.

KOMPAS.com – Anak-anak tentu tak akan menjadi anak kecil selamanya dan kelak tumbuh dewasa. Untuk itu, orangtua perlu mengajari anak-anaknya dengan berbagai keterampilan hidup agar bisa hidup mandiri dan sukses ke depannya.

Keterampilan hidup memang bukan sesuatu yang bisa dipelajari anak secara alami, melainkan harus diajarkan dan diasah sejak dini.

Orangtua juga tidak perlu menunggu anak menginjak usia remaja untuk mengajarkan keterampilan hidup karena kita tidak akan pernah tahu kapan mereka harus menghadapi kerasnya dunia nyata secara langsung.

Simak contoh yang dilakukan oleh ibu dari Jane Wurwand, pendiri dan Chief Visionary dari Dermalogica serta seorang business leader yang inovatif.

Keberhasilannya dalam karirnya tak lepas dari pola asuh sang ibu yang telah mengajarkan berbagai keterampilan hidup padanya sejak kecil, tepatnya setelah ayahnya meninggal.

Baca juga: Melatih Anak Keterampilan Hidup lewat Permainan

“Nasihatnya untuk belajar bagaimana ‘melakukan’ sesuatu menanamkan begitu banyak kepercayaan pada saya, bahkan sejak usia muda,” tulis Wurwand dalam situs MSNBC.

Lantas, apa saja yang diajarkan ibu Wurwand padanya?

Nah, berikut ini ada daftar 10 keterampilan tersebut, yang diyakini Wurwand sebagai hal yang perlu dikuasai seorang anak di usia 10 tahun untuk meningkatkan rasa kepercayaan diri dan kemandirian anak.

  • Menggoreng, merebus, atau mengolah telur. Pelajari cara melakukan ketiganya.
  • Membungkus kado dan menulis kartu ucapan terima kasih yang bagus.
  • Mencuci dan mengeringkan piring dengan tangan.
  • Mencuci pakaian dalam jumlah banyak serta melipat seprai ukuran king
  • Mengelim pakaian.
  • Menjahit kancing
  • Membuka sumbat wastafel dan toilet.
  • Membereskan meja makan.
  • Mengisi bensin (tidak ada alasan untuk menunggu sampai anak belajar mengemudi untuk melakukan ini).
  • Pergi ke bank dan membuka rekening giro dan tabungan.

Baca juga: Mayoritas Orangtua Merasa Anak Zaman Sekarang Lebih Pintar

Para orangtua di Jepang terbiasa mengajak anak mereka untuk menyiapkan hidangan untuk makan.iSTOCK/Yagi-Studio Para orangtua di Jepang terbiasa mengajak anak mereka untuk menyiapkan hidangan untuk makan.

Selain itu, ada beberapa hal yang bisa diajarkan kepada anak agar mereka lebih percaya diri saat menghadapi kebimbangan:

Ingat kapasitas diri

Jika ingin memakan sebuah melon besar, tentu kita perlu mengirisnya agar lebih mudah dimakan perlahan. Begitu pula jika membicarakan hidup.

Tentu akan ada banyak hal yang datang menerpa kita secara mendadak. Namun, ingatlah bahwa kita hanya dapat mengerjakannya sesuai dengan kapasitas kita.

Jika sudah terlalu banyak, percuma saja menambah masalah lain. Jadi, tarik napas, dan bersiaplah untuk mengerjakan bagian lainnya.

Baca juga: Mengenal Ketidakmampuan Belajar pada Anak dan Cara Mendeteksinya

Singkirkan rasa keraguan

Rasa keraguan biasanya timbul ketika kita terus mengatakan pada diri sendiri sesuatu yang ada dalam kepala kita, dan biasanya tidak terbukti kebenarannya.

Nah, saat orang lain meragukan kita, kita pun akan mulai meragukan diri sendiri yang tertanam dalam jiwa kita. Orang lain itu pun akan mulai “menulis naskah” dalam kepala kita, menentukan bagaimana cara kita melihat diri sendiri.

Jangan biarkan itu terjadi. Ingat, siapa pun yang mengatakan ini tidak ingin kita mencoba apa pun yang kita raih dan membuat kita tetap merasa rendah diri, karena jika kita melakukannya, kita akan melampaui usaha yang dibuatnya.

Jadi, lebih baik, abaikan saja suara-suara di kepala kita.

Baca juga: Tips Pola Asuh agar Anak Lebih Cerdas

Ganti rasa takut dengan gairah

Kegagalan menempati peringkat pertama hal yang ditakuti, di atas kematian.

Kematian sendiri menempati peringkat tiga. Artinya, orang-orang lebih takut gagal jika dibandingkan dengan mati.

Nah, saat mengalami kegagalan dan ketakutan akan tampil depan orang banyak, Wurwand biasanya akan mengatakan pada dirinya sendiri, “Jane, kau tidak takut, kau penuh dengan gairah.”

Menurutnya, terkadang itu berhasil, sebab, adrenalin akan dikeluarkan tubuh saat kita merasa takut atau bergairah.

Pilihlah respons yang baik

Buang amarah ketika terjadi sesuatu yang tidak kita sukai. Ini akan mengalihkan perhatian kita dari tujuan utama kita. Ingat, kita memang tidak dapat mengontrol apa yang terjadi, tetapi kita dapat memilih respons dengan baik.

Baca juga: Biarkan Anak Belajar dari Kegagalan Agar Lebih Tangguh

Buat diri nyaman

Carilah rasa kenyamanan saat kita merasa memiliki risiko tinggi dan merasa paling rentan. Terima rasa tidak nyaman dalam tubuh lalu biarkan kekuatan diri menguasainya,
Lalu, jangan takut dan jadilah berani agar tidak masuk ke jurang kehampaan.

Buang pencari masalah

Kita semua membutuhkan pemecah masalah di sekitar kita, bukan hanya pencari masalah. Jadi, abaikan orang-orang yang hanya melihat masalah tanpa mencari solusinya karena orang-orang seperti ini hanya akan menginfeksi orang lain dengan cepat, termasuk kita. Lalu, temukan orang-orang positif dan dapatkan solusi itu.

Melihat manfaat keberhasilan diri

Banyak orang mengukur keberhasilan diri secara pribadi. Padahal untuk menemukan tujuan hidup, kita harus mau membuat tindakan kita menjadi perbedaan, tak peduli seberapa berisikonya.

Lalu, tanyakan pada diri sendiri apa manfaat keberhasilan itu pada orang lain dan demi siapa kita berjuang. Sebab, kesuksesan itu perlu berguna bagi orang lain selain kita.

Baca juga: Mengapa Anak Tak Bisa Langsung Mewarnai Mengikuti Garis?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber MSNBC
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.