Saran Kemenkes untuk Cegah Obesitas - Kompas.com

Saran Kemenkes untuk Cegah Obesitas

Kompas.com - 18/01/2019, 18:29 WIB
Titi Wati (37) alias Titin melakukan timbang berat badan di RS Doris Sylvanus Palangkaraya, Senin (14/1/2019).Handout,Kurnia Tarigan Titi Wati (37) alias Titin melakukan timbang berat badan di RS Doris Sylvanus Palangkaraya, Senin (14/1/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com — Kasus penderita obesitas asal Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Titi Wati (37), menyedot perhatian banyak kalangan masyarakat.

Menurut Kementerian Kesehatan RI, jumlah penderita obesitas memang terus meningkat, bahkan Indonesia menempati peringkat ke-10 dunia.

Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes Kirana Pritasari menuturkan, perilaku makan dan aktivitas saling berkontribusi terhadap faktor risiko obesitas seseorang.

Ketika berat badan sudah terlanjur berlebih, seperti kasus Titi Wati yang mencapai berat badan 220kg, maka perlu ada berbagai intervensi yang dilakukan.

"Tidak bisa hanya diberi nasihat diet. Bagaimana cara dietnya dan berapa lama," kata Kirana dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (18/1/2018).

Untuk itu, upaya pencegahan perlu dilakukan. Salah satunya mendukung Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).

Beberapa kegiatan yang dianjurkan di antaranya meningkatkan aktivitas fisik, peningkatan perilaku hidup sehat, pemeriksaan kesehatan berkala, dan lainnya.

"Minimal satu tahun sekali kita tahu kondisi kesehatan kita. Menimbang (berat badan) kan tidak susah, bisa hitung Indeks Massa Tubuh (IMT) kita jika obesitas maka harus mengurangi asupan," tuturnya.

Beberapa tahapan yang bisa dilakukan agar terhindar dari obesitas, di antaranya

1. Mengubah gaya hidup
Beberapa gaya hidup yang berpotensi meningkatkan faktor risiko obesitas antara lain kebiasaan merokok, konsumsi gula dan garam berlebih, kurangnya aktivitas fisik, serta kurang konsumsi sayur dan buah.

Namun, bukan berarti konsumsi gula, garam dan lemak dilarang sepenuhnya. Hal terpenting adalah mengkonsumsi seperlunya.

Untuk gula dianjurkan tidak lebih dari empat sendok makan (50gram) perhari, garam maksimal 1 sendok teh (2gram) dan lemak maksimal 5 sendok makan (67gram).

"Tetap butuh asupan gula, garam, lemak namun tidak berlebihan," kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kemenkes, Cut Putri Arianie.

Untuk itu, masyarakat juga dianjurkan untuk semakin jeli melihat label gizi pada kemasan makanan sehingga bisa menakar asupan gizi yang masuk ke dalam tubuh.

2. Mengukur kelayakan berat badan

Obesitas dapat dicegah. Untuk mengetahui apakah berat badan kita masih normal atau tidak, perlu dilakukan penghitungan indeks massa tubuh (IMT).

Penghitungan IMT bisa dilakukan melalui kalkulator online atau menggunakan rumus berat badan berbanding kuadrat tinggi badan.

"IMT tidak boleh lebih dari angka 27," tuturnya.

Jika menghitung IMT dirasa terlalu rumit, kita bisa mengukur lingkar pinggang.

Usahakan lingkar pinggang perempuan tidak melebihi 81cm dan laki-laki tidak lebih dari 90cm.

Baca juga: Yuk, Ukur Lingkar Pinggang, Makin Besar Makin Berisiko...

3. Meningkatkan aktivitas fisik

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes 2013 juga menyebutkan bahwa dua atau tiga orang Indonesia kurang melakukan aktivitas fisik.

Oleh karena itu, peningkatan aktivitas menjadi sangat penting untuk dilakukan.

Pakar gizi dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi), Arum Atmawikarta menyebutkan, salah satu upaya mencegah obesitas, misalnya membiasakan masyarakat untuk aktivitas yang melibatkan otot motorik seperti berolahraga.

Olahraga di sini tak mesti berupa olahraga formal, seperti pergi ke pusat kebugaran atau mengikuti kelas-kelas lainnya.

Setidaknya, otot motorik digerakan selama 30 menit per hari.

"Mau nyapu, main bola, membereskan tempat tidur, yang lainnya boleh. Yang penting gerak motorik kasar minimal 30 menit setiap hari," jelasnya.

Beberapa daerah di Jakarta menurutnya sudah bisa dijadikan contoh jalanan dengan trotoar yang nyaman bagi pejalan kaki. Tempat-tempat terbuka hijau pun dinilai mampu menunjang peningkatan aktivitas fisik masyarakat.

"Mudah-mudahan (trotoar) di daerah-daerah lain juga bisa. Lalu bisa lewat kebiasan bersepeda, kebiasaan bergerak terus menerus," tuturnya.


Terkini Lainnya


Close Ads X