Kompas.com - 17/02/2020, 16:19 WIB
Ilustrasi WWW.PEXELS.COMIlustrasi

Mengapa pria yang berjuang dengan norma-norma tersebut berisiko lebih besar bunuh diri?

Coleman menyebut, temuan itu menunjukkan ada "jaringan" pengaruh secara tidak langsung.

Pria yang menjunjung tinggi maskulinitas tradisional lebih mungkin mencoba menggunakan senjata, dikeluarkan dari sekolah, terlibat perkelahian serius, atau kabur dari rumah.

Mereka juga lebih mungkin memiliki anggota keluarga yang meninggal karena bunuh diri daripada pria lain.

Dan seluruh faktor tersebut, pada akhirnya, terkait risiko bunuh diri yang lebih tinggi.

Hal itu menunjukkan, keyakinan terkait norma-norma maskulin bisa menjadi bagian dari apa yang mendasari faktor risiko lain untuk bunuh diri.

Jika kepercayaan itu dapat diatasi, kata Coleman, ada kemungkinan memengaruhi sejumlah hal yang mendorong risiko bunuh diri pada pria.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebagai contoh, ia mengatakan, umum bagi pria untuk memiliki gaya "coping" yang kaku. Coping adalah kondisi di mana seseorang bereaksi terhadap situasi (seperti kehilangan pekerjaan atau pasangan) dengan cara tidak sehat, alih-alih mencari bantuan.

"Mereka perlu tahu, tidak apa-apa untuk meminta dan menerima bantuan," ujar Coleman.

Tapi, perlu dicatat penelitian itu hanya menyoroti hubungan yang terlihat dibandingkan hubungan sebab dan akibat.

Halaman:


Sumber WebMD
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.