Kompas.com - 22/07/2020, 11:13 WIB
|
Editor Wisnubrata

KOMPAS.com - Olahraga memiliki banyak manfaat kesehatan, termasuk membantu menurunkan risiko tekanan darah tinggi dan stroke.

Namun, berolahraga di daerah dengan polusi udara tinggi dapat memiliki efek negatif pada kesehatan kita, seperti peningkatan risiko serangan jantung dan stroke, menurut Mayo Clinic.

Lalu, apa jadinya jika kita termasuk salah satu dari 91 persen orang yang tinggal di daerah yang tidak memenuhi pedoman kualitas udara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)?

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Circulation menemukan, olahraga teratur, bahkan di daerah dengan tingkat polusi udara tinggi, tetap dapat mengurangi risiko terkena tekanan darah tinggi.

Baca juga: Udara Buruk karena Polusi, Amankah Lari Pakai Masker?

Para peneliti memantau kesehatan lebih dari 140.000 orang yang tinggal di Taiwan tanpa tekanan darah tinggi. Data latihan mereka diukur dalam metabolic equivalents (METs), atau energi yang harus dikeluarkan dari satu aktivitas selama rata-rata lima tahun.

Peneliti menemukan, mereka yang paling aktif berolahraga memiliki risiko lebih rendah terkena tekanan darah tinggi.

Level aktivitas masing-masing peserta dimasukkan ke kategori sesuai metabolic equivalents yang dilaporkan.

Kategori itu antara lain tidak aktif atau 0 MET (setara kondisi duduk tenang), sedang atau 0-8,75 MET (berjalan sekitar 12 menit atau kurang), dan tinggi atau > 8,75 MET (berjalan lebih cepat selama lebih dari 12 menit).

Baca juga: Polusi Udara dan Penyakit Jantung Tingkatkan Risiko Demensia

Ilustrasi pesepeda menggunakan masker di Jakartashutterstock Ilustrasi pesepeda menggunakan masker di Jakarta
Studi ini menemukan, setiap kenaikan tingkat polusi udara dikaitkan dengan risiko hipertensi 38 persen lebih tinggi, sedangkan peningkatan aktivitas olahraga menurunkan risiko tekanan darah tinggi sebanyak 6 persen.

Kemudian, mereka yang berolahraga dalam intensitas sedang memiliki risiko hipertensi 4 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak berolahraga.

Mereka yang berolahraga dengan intensitas tinggi memiliki risiko hipertensi 13 persen lebih rendah daripada yang tidak berolahraga.

Ini menunjukkan, olahraga tetap memiliki beberapa manfaat bagi kesehatan jantung, meskipun berisiko terkena polusi udara.

Baca juga: Jangan Olahraga di Luar Ruangan Saat Polusi Udara Tinggi

"Berdasarkan hasil, kita dapat mengatakan, jika orang dalam kelompok tidak aktif meningkatkan aktivitas fisik mereka ke tingkat sedang, risiko hipertensi pada mereka 6 persen lebih rendah."

Begitu kata penulis studi Xiang Qian Lao, Ph.D., associate professor di Jockey Club School of Public Health and Primary Care di The Chinese University of Hong Kong, Shatin, Hong Kong, kepada Runner's World.

"Jika orang-orang dapat meningkatkan aktivitas fisik mereka dari tingkat sedang ke tingkat tinggi, kita akan melihat risiko hipertensi 6 persen lebih rendah."

Namun, belum diketahui apakah olahraga teratur di daerah dengan polusi udara dinilai aman bila mempertimbangkan faktor lain seperti kesehatan paru-paru dan lainnya, kata Lao.

"Kami menyimpulkan orang yang melakukan aktivitas fisik rutin di daerah dengan polusi udara kurang dari 50 microgram / m3 (konsentrasi polutan udara) cenderung aman," kata Lao.

Meski di daerah dengan polusi udara, olahraga dapat membantu mencegah risiko hipertensi, tetapi kita tetap harus waspada terhadap risiko berdasarkan tingkat polusi udara di daerah kita.

"Aktivitas fisik meningkatkan laju pernapasan, tetapi juga dapat meningkatkan jumlah polutan yang masuk ke dalam tubuh," kata Lao.

Ia menambahkan, jumlah polusi udara yang masuk akan meningkat terutama saat berolahraga di luar ruangan untuk waktu lama.

"Ini dapat memperburuk efek kesehatan yang disebabkan oleh polusi udara."

Baca juga: Merawat Kulit Wajah yang Sering Terpapar Polusi Udara

Ilustrasi bersepeda dan polusishutterstock Ilustrasi bersepeda dan polusi
Bagaimana mengatasinya?

Jika kita tinggal di daerah yang berpolusi, namun tetap ingin berolahraga, sebaiknya kita melakukan beberapa hal berikut:

  • Mencari waktu berolahraga di saat polusi belum terlalu tinggi. Misalnya di pagi hari ketika jalanan masih sepi dari kendaraan bermotor.
  • Menggunakan alat pelindung seperti masker, agar dampak polusi bisa dikurangi
  • Mencari lokasi olahraga yang lebih bebas polusi, misalnya dengan pergi ke tempat lain
  • Melakukan olahraga di dalam ruangan, misalnya di gym atau di dalam rumah

WHO memperkirakan, pada tahun 2016, lebih dari 91 persen populasi dunia tinggal di kawasan atau daerah yang tidak memenuhi pedoman kualitas udara WHO.

Panduan kesehatan sangat dibutuhkan untuk memberi informasi kepada orang-orang yang tinggal di kawasan tersebut mengenai kemungkinan mereka mendapat manfaat dari aktivitas fisik yang teratur, menurut Lao.

Baca juga: Tak Cuma Gangguan Paru, Ini Efek Polusi Udara Bagi Tubuh


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.