Neuroplastisitas, yakni kemampuan otak untuk menata ulang dan membentuk koneksi baru, dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan kebahagiaan melalui praktik-praktik yang disengaja.
Psikologi positif muncul sebagai bidang yang berfokus pada kesejahteraan dan bukan hanya menangani penyakit mental.
Baca juga: 4 Cara Bersyukur untuk Tingkatkan Kebahagiaan dan Kurangi Stres
Martin Seligman, pendirinya, memperkenalkan konsep-konsep kunci seperti PERMA (Positive emotions, Engagement, Relationships, Meaning, and Accomplishment) serta kekuatan karakter, yang memberikan kerangka untuk memahami kebahagiaan.
Studi ilmiah Harvard Study of Adult Development, juga memberikan wawasan berharga tentang faktor-faktor yang mendorong kebahagiaan.
Temuan-temuan utama dalam riset ini menekankan pentingnya hubungan, tujuan, dan ketangguhan dalam mencapai kebahagiaan.
The Harvard Study of Adult Development adalah studi komprehensif yang telah berlangsung lama dan menyelidiki faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kebahagiaan, kesejahteraan, dan umur panjang pada orang dewasa.
Diluncurkan pada tahun 1938, penelitian ini melibatkan lebih dari 2.000 peserta dan telah menghasilkan lebih dari 200 makalah ilmiah dan sembilan buku.
Salah satu temuan utama dari penelitian ini adalah pentingnya hubungan dalam meningkatkan kebahagiaan dan kesejahteraan.
Baca juga: Orangtua Vs Childfree, Siapa yang Lebih Bahagia?
Merangkul komunitas dan membina hubungan yang bermakna berkontribusi pada hidup yang lebih lama dan lebih bahagia.
Kualitas hubungan lebih penting daripada jumlah hubungan, dan hubungan yang kuat amat terkait dengan kesehatan emosional, mental, dan fisik yang lebih baik.
Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.